masak

Mata pelajaran dapur

“Dhis, pagi ini Ibu ke pasar. Kita bikin sarapan sendiri ya?”
“Oke pak,” jawab Yudhis.

“Kamu mau sarapan apa?”
“Bikin mie aja.”

“Kamu bisa bikin sendiri?”
“Bisa pak.”

“Tata bagaimana?” aku bertanya kepada Tata.
“Aku juga mau bikin sendiri, Pak,” kata Tata. “Tapi kalau nanti aku kesusahan, Bapak bantuin aku ya?”
“Oke Ta.”

Begitulah salah satu potongan kegiatan kami di pagi hari. Anak-anak belajar untuk mandiri dan mengurusi diri sendiri. Tak setiap saat mereka memasak sendiri. Tapi setiap kali ada kesempatan melakukan sendiri, mereka lebih suka melakukannya sendiri. Ternyata, menjadi orang yang berdaya menjadi kebahagiaan sendiri bagi mereka.

Untuk soal memasak ini, Yudhis dan Tata belajar dari sederhana, sedikit demi sedikit. Sekarang, Yudhis sudah bisa menanak nasi di rice cooker. Kalau kami membutuhkan bantuannya untuk menanak nasi, kami tinggal menyebutkan berapa banyak nasi yang harus ditanak. Selebihnya, dia sudah bisa menyelesaikan sendiri.

Yang mengharukan, pada saat ulang tahun pernikahan kami beberapa hari yang lalu, Yudhis ingin memberikan hadiah kepada kami. Kami tak memintanya. Tapi dia sendiri yang mengajukannya. Hadiahnya adalah sarapan berupa nasi goreng yang dibuatnya sendiri, betul-betul dilakukan sendiri semuanya.

Terharu rasanya melihat anak umur 9 tahun sibuk di dapur dan membuat nasi goreng untuk sarapan keluarganya, hehehe..

***

Bukan hanya urusan memasak, kami melibatkan anak-anak dalam urusan yang lain. Begitu Lala pulang dari pasar, biasanya panggilan segera terdengar kepada mereka.

“Pasukan bayam, saatnya untuk bekerja!” kata Lala sambil mengeluarkan belanjaannya. Anak-anak yang sedang belajar pun menghentikan sebentar kegiatannya dan datang untuk membantu.

Mereka memotong sayur-sayuran yang dibeli dan menempatkannya ke dalam wadah-wadah kecil untuk dimasukkan ke kulkas. Sayuran itu menjadi persediaan memasak kami untuk beberapa hari ke depan.

Usai memotong sayuran, mereka harus membersihkan batang-batang sayuran dan kotoran yang ada hingga bersih. Setelah itu mereka baru melanjutkan kembali proses belajarnya.

***

Buat kami, semua kegiatan itu adalah bagian dari pendidikan dan ketrampilan hidup untuk melatih anak-anak bekerja dan mandiri. Mereka tak hanya tahu dan pandai tentang pelajaran, tetapi bisa mandiri dan menjalani hidupnya dengan berkualitas. Juga, buat kami di dalamnya ada aspek penting untuk mengajarkan “sikap bekerja yang baik”, yang tak bisa diajarkan secara teori, seperti urutan bekerja, bekerja dengan rapi, ketrampilan, dan merapikan segala sesuai usai bekerja.

Tapi tak semua orang sepakat tentang hal ini. Soal urusan pelajaran dapur ini, ada yang menilai kami mengajarkan hal-hal yang tak penting kepada anak. Menurutnya, anak-anak harus disiapkan untuk belajar pelajaran-pelajaran sekolah agar bisa lulus ujian dengan nilai baik. Menurutnya itu jauh lebih penting dari urusan masak-memasak itu. Dianggapnya kami bermain-main dan tak serius dengan pendidikan anak-anak.

Kalau menurut Anda sendiri bagaimana?

Tulisan menarik lainnya

Share this post

23 thoughts on “Mata pelajaran dapur”

  1. menurut saya penting, mas aar. nanti setelah mereka gede, pasti ada masanya mereka harus ngurus dirinya sendiri, kaya anak2 yang ngekos. kalo bisa masak, wah, pasti asik tuh. lebih hemat dan sehat pula πŸ™‚

  2. Ummi ZidniZuqni

    Wah..penting itu. Pengalaman saya, saat sudah kuliah saya belum bisa membersihkan daun singkong. saya menggunakan pisau, eh ternyata dipetikin bagian pucuknya saja pakai tangan. Sampai saat ini itu jadi bahan lelucon kalo kami ngumpul2. Asli, saya maluuu banget. Saat itu ortu menganggap karena saya lebih senang membaca dan belajar jadi gak usah ikutan turun ke dapur..alhasil saya baru belajar masak saat sudah bekeluarga 😳

  3. ya boleh2 saja berpendapat beda…. πŸ˜›

    namun, kami sangat sependapat dengan mas aar… πŸ˜‰
    banyak hal yg bisa dijadikan pelajaran di dapur…

    menghitung daun bayam, telur,
    mengiris tahu berbagai bentuk,
    membagi 2 bagian sama banyak…nyimpan dari yg terkecil sampai yg terbesar….

  4. teman saya cerita, dulu waktu anaknya masih kecil, si anak sering pengin “ngrepoti ibunya”. tapi ibunya dengan halus menyuruhnya untk belajar, katanya kasihan sudah capek sekolah seharian. setelah anaknya besar, si ibu sering kewalahan urusan rumah tangga sendirian karena si anak dah terbiasa diistimewakan, ketika ibunya sibuk bersih2, si anak dengan tenang membaca buku…

  5. great! sy setuju..anak2 perlu jg diajarkan kemandirian, toh mrk sndiri yg akan mmetik manfaatny…peduli amat sm org2 yg sirik.hehe.

  6. Sepakat dengan Pak Aar. Saya juga berpendapat bahwa memasak adalah keterampilan hidup.
    Bahkan sebagai penduduk di kawasan maritim, ada satu lagi keterampilan yang sebaiknya dimiliki oleh anak Indonesia, Pak. Yaitu berenang. ^_^ …

  7. Setuju banget Mas.
    Selain kemandirian memasak juga bisa melatih kreatifitas dan yang terpenting adalah kebersamaan antara orang tua dan anak.

  8. sy prihatin dg nasib anak2 skrg, mas, kehilangan momen spt itu. pdhal melalui keg memasak (apalagi memasak bersama) byk yg dpt dipelajari, yaitu keterampilan sosial (membantu org tua), matematika & logika (waktu memasak, urutan memasak), IPA (zat gizi pd makanan & kebersihan), bhs Indonesia (kosa kata yg brhubungan dg memasak), dll.

  9. Komen tang terlamabat….bette late than early hehehehe
    anak-anak itu kalo berada di dapur serunya bukan main….banyak sekali hal2 sederhana yang bisa dijadikan sumber pembelajaran….contoh kecil…nggoreng krupuk….ternyata ada cara yang hanya bisa dilakukan dengan mencoba….macam2 bumbu dan sayuran…kami sepakat bahwa hal2 kecil pun tidak boleh diremehkan….

  10. Dengan belajar memasak dan urusan dapur yg lain, anak belajar mandiri, bukan hanya itu anak belajar ketahanan fisik agar terampil bekerja, krn berkecimpungan dalam dunia dapur bukan tugas yang mudah. Meski masih tahap awal dan coba2 Hs kemarin anak saya perempuan berumur 3 thn 7 bln saya ajak dia utk belajar membuat kue juga dari biskuit regal dihancurkan, campur cucu coklat, ditaburi meses seres..meski tak sepenuhnya dia yg mengerjakan tapi saya percaya dia belajar banyak nilai2 dalam memasak yi : kerjakeras,sabar,happy :))

  11. Assalamu’alaikum… pak aar. Anak sy cowok umur 9th, skrg baru aja mulai homeschooling. Sepertinya akhir2 ini dia senang masak, apa aja pengennya dia yg masak, goreng sosis, mie instan, telur dadar, dll. Kl sy nawarkan diri utk bantu masak dia selalu nolak. Padahal sy agak was was jg ketika dia berada di dapur, apalagi yg berhubungan dg kompor. Dan sampai skrg ayah nya blm tau kl anak sy itu sdh bisa masak sendiri, krn dia selalu masak ketika ayahnya sdg di kantor. Sebenernya sdh bbrp kali sy larang utk masak sendiri, krn menurut sy umur 9th masih terlalu kecil utk masak. Apa tindakan sy itu benar pak aar yg melarang dia masak? Apa yg sebaiknya sy lakukan ? Saya takutnya kl ternyata minat dia di bidang kuliner (masak memasak), kl sy larang nnt malah menghambat minat dia. Oia, sy jg punya 2 anak lagi yg masih kecil (umur 6th dan 1,5th). Jd sy tdk bisa mendampingi anak sy yg besar ketika dia sdg memasak. Ditunggu jawabannya ya pak aar. Terima kasih…

    1. Wa’alaikum salam,
      Memasak adalah sarana belajar yang sangat bagus untuk mengajarkan anak tentang berbagai hal, mulai pengetahuan, wawasan, hingga keterampilan nyata. Jika anak sangat tertarik, kalau bisa membuat kesepakatan (mis: hari tertentu) di mana ada orgtua yg bisa menemani proses belajarnya.

  12. saya belum menikah,tapi sangat tertarik untuk mendidik anak saya kelak secara homeschooling. Saat ini masih nol persen pengetahuan tentang anak yang saya ketahui. Mohon bimbingannya mas aar :). Bila ada file atau bacaan yang bisa saya donwload, bolehkan di share ke saya? Sebagai bekal pengetahuan saya saat ini. Terima kasih.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Bagaimana Cara Belajar Anak Homeschooling?

Jangan membayangkan homeschooling hanya dengan mengundang guru privat. Proses belajar dalam homeschooling bisa sangat beragam dan kaya, tergantung pada kreativitas orangtua.

Jika orangtua ingin meningkatkan kualitas homeschooling yang dijalaninya, orangtua perlu meningkatkan kapasitas diri agar anak-anak tidak hanya belajar untuk lulus ujian, tidak hanya belajar berbasis mata pelajaran, tidak hanya belajar dengan mendengarkan ceramah dan latihan soal.

Serial webinar ini akan membahaskan tentang strategi pembelajaran berbasis dunia nyata dan keseharian. Strategi pembelajaran ini bukan hanya penting untuk meningkatkan kualitas pendidikan anak-anak, tetapi juga meningkatkan kepercayaan diri orangtua dan kapasitas keterampilan orangtua sebagai fasilitator dalam proses belajar anak.

Materi yang dibahaskan dalam webinar ini untuk anak beragam usia dari anak usia pra-sekolah hingga SMA.