Sepuluh tahun lalu, kami tidak pernah membayangkan akan menulis ini. Waktu itu Duta baru delapan tahun, duduk di depan papan catur, matanya berbinar karena baru mengenal permainan ini. Bukan karena kami mendaftarkannya ke klub catur atau mencari bakat tersembunyi. Ia sendiri yang tertarik, dan kami memilih ikut menikmati kebahagiaan itu tanpa buru buru mengejar prestasi apa pun.
Tahun 2025 di Bandung, Duta meraih Norma IM ketiga dan menjadi International Master. Usianya baru tujuh belas tahun.
Kami menulis ini bukan untuk merayakan gelarnya, tapi untuk membagikan apa yang sebenarnya terjadi di sepanjang sepuluh tahun itu karena perjalanan menemani Duta ini tidak pernah lurus. Ada masa senang, kecewa, ragu, lelah. Dan justru di sanalah karakter Duta ditempa.
Usia 8 tahun, menemukan catur
Duta mengenal catur tanpa sengaja, saat kami sedang dalam perjalanan di luar kota. Ada teman yang mengajaknya main dan kemudian dia suka dan minta diajari catur.
Di fase ini, Duta hanya bermain untuk senang senang. Ia belajar mengenal bidak, aturan dasar, mulai tertarik untuk terus belajar sendiri. Tantangan yang kami hadapi sebagai orang tua justru sederhana, sulit membedakan mana hobi sesaat dan mana minat yang benar benar mendalam. Kami memilih ikut menikmati saja, tidak buru buru menyimpulkan ini fase sesaat atau bukan. Kami memfasilitasi caturnya secara bertahap.
Usia 8 sampai 9 tahun, menjajagi potensi
Duta mulai latihan rutin, ikut kompetisi kompetisi kecil. Di sinilah dia belajar fokus, disiplin, dan cara mengelola kemenangan dan kekalahan. Ada masanya dia mulai bosan, motivasinya naik turun. Tapi kami menemani dia untuk terus berlatih. Tugas kami waktu itu menyediakan fasilitas dan pendampingan, mencarikan pelatih, menjaga supaya catur tetap terasa menyenangkan saat bertumbuh.
Usia 9 tahun, pertemuan dengan realita
Saat usia 9 tahun, Duta berhasil menjadi juara di DKI Jakarta dan kemudian dikirim ke Kejurnas di Aceh. Di Kejurnas, Duta gagal berprestasi. Dari situ dia belajar bahwa menang tidak selalu berlanjut dan dunia catur ternyata jauh lebih besar dari yang dia bayangkan. Dia tentu saja kecewa, merasa tidak cukup baik. Tapi dia tetap semangat untuk berlatih Peran kami di fase ini menjadi tempat pulang, memisahkan nilai dirinya dari hasil pertandingan. Kekalahan bukan tanda dia kurang berharga.
Usia 9 sampai 14 tahun, tahun tahun membentuk karakter
Ini fase terpanjang. Ribuan jam latihan, ratusan pertandingan, menang dan kalah silih berganti. Di sinilah ketekunan, kemandirian, dan kemampuan bangkit setelah gagal benar benar terbentuk. Ada masa jenuh, bahkan mendekati burnout. Ada masa dia kalah beruntun atau teman sebayanya berkembang di bidang lain. Karena Duta sudah menetapkan ingin menjadi Grandmaster, maka tugas kami untuk mendampingi prosesnya. Yang kami pegang teguh waktu itu adalah mempercayai proses, tidak terobsesi hasil jangka pendek.
Usia 14 tahun, menembus level nasional
Setelah cukup lama berjuang, akhirnya Duta menjadi juara dua Kejurnas U19 di usia 14 tahun. Dia memang memilih bertanding di kelompok usia yang lebih tinggi. Buah dari prestas itu, Duta ditarik masuk Tim Pelatda DKI Jakarta. Di tahun yang sama Duta masuk Pelatnas Junior dan gagal masuk Tim PON DKI Jakarta.
Prestasi dan kegagalan datang bersamaan, dan itu normal. Ekspektasi mulai meningkat, tekanan makin besar. Peran kami berubah menjadi semacam life coach, mendengarkan, memberi perspektif, memberi dukungan dari jauh tanpa ikut campur berlebihan.
Usia 15 sampai 17 tahun, naik level internasional
Duta dipanggil masuk Pelatnas Junior masuk ke dalam program The Dream Team Reborn (TDTR) yang ditujukan untuk menyiapkan atlet menjadi Grandmaster. Ini program multi-year. Duta tinggal di asrama dan setiap hari digembleng oleh GM Susanto Megaranto dan IM Tirta Chandra Purnama.
Sebagai buah, Duta berhasil menjadi juara Asia untuk KU-16, meraih gelar FM (FIDE Master), menjadi Juara Kejurnas U19, menjadi anggota Tim Olympiad, FIDE World Cup, SEA Games, hingga meraih gelar International Master di usia 17 tahun.
Di fase ini Duta belajar profesionalisme, konsistensi, mental juara. Tekanan performa dan ekspektasi publik jauh lebih besar.
Yang kami lakukan sebagai orangtua adalah mendoakan, menjaga stabilitas mental keluarga, menjadi ambulans, bukan supir. Siap saat dibutuhkan, tapi tidak mengendalikan.
Bagaimana gelar IM itu akhirnya diraih
Gelar International Master diraih Duta di Nusantara Grandmaster Tournament bulan Juli 2025, di Hotel Mewangi, Bandung.
Ketua Bidang Pembinaan Prestasi PB Percasi, Kristianus Liem, waktu itu menyampaikan harapannya. Dengan usia yang relatif muda, pak Kris melihat prestasi Duta masih bisa digenjot lebih cepat di tingkat internasional untuk meraih norma GM hingga gelar GM.
Realita di balik perjalanan
Kalau kami rangkum perjalanan ini dalam satu alur perasaan, kurang lebih begini. Antusias dan semangat, lalu bosan dan lelah, lalu kalah dan kecewa, lalu ragu dan tidak yakin, lalu bangkit dan berjuang lagi, sampai akhirnya menang dan bersyukur. Lalu semuanya berulang lagi dari awal. Ini normal. Semua anak mengalaminya. Yang luar biasa bukan anak yang tidak pernah kalah, tapi anak yang tidak berhenti.
Apa yang catur berikan pada Duta
Bukan cuma piala dan medali. Ada kemampuan berpikir, logika, analisis, kemampuan mengambil keputusan. Ada ketangguhan, belajar bangkit dari kegagalan tanpa menyerah pada tekanan. Ada disiplin, konsistensi kerja keras, manajemen waktu. Ada pengalaman dunia, bermain di banyak negara, bertemu banyak budaya. Ada hubungan keluarga yang tumbuh lebih dekat, erat justru melalui proses bersama. Dan ada keterampilan hidup, kemandirian mengambil keputusan dan bertanggung jawab, literasi keuangan, komunikasi, sampai memasak dan merawat diri sendiri.
Pesan kami untuk orang tua lain
Anak tidak berkembang secara linear. Ada fase antusias, jenuh, gagal, bangkit, dan bertumbuh, silih berganti tanpa urutan yang rapi. Tugas orang tua bukan memastikan anak selalu menang, melainkan memastikan anak tidak berjalan sendirian.
Pertanyaan yang Sering Ditanyakan
Kapan usia ideal anak mulai belajar catur?
Tidak ada usia baku. Duta mulai di usia 8 tahun karena ketertarikannya sendiri. Yang lebih penting adalah minat anak itu sendiri, bukan usia berapa dia mulai.
Bagaimana cara tahu anak benar benar berminat pada catur, bukan sekadar suka sesaat?
Kami sendiri butuh waktu bertahun tahun untuk melihat ini. Tandanya biasanya konsistensi, anak tetap ingin bermain dan belajar meski tanpa dorongan orang tua, bahkan saat sedang kalah atau bosan sekalipun.
Apa itu gelar International Master dalam catur?
International Master atau IM adalah gelar tertinggi kedua di dunia catur di bawah Grandmaster. Untuk meraihnya, seorang pecatur harus mengumpulkan norma IM sebanyak tiga kali dan mencapai rating FIDE minimal 2400.
Bagaimana peran orang tua saat anak menjadi atlet catur usia dini?
Peran kami berubah seiring fase. Di awal, kami menyediakan fasilitas dan menjaga suasana tetap menyenangkan. Semakin besar, peran itu bergeser menjadi pendengar, pemberi perspektif, dan penjaga stabilitas mental anak, bukan pengendali hasil pertandingannya.
Apakah homeschooling mendukung anak yang fokus jadi atlet catur?
Bagi keluarga kami, iya. Fleksibilitas waktu belajar memungkinkan Duta mengatur ritme antara latihan, pertandingan, dan pendidikan tanpa harus memilih salah satu.
Setelah meraih gelar IM, apa target selanjutnya bagi seorang pecatur?
Target berikutnya adalah mengejar norma Grandmaster 3x dan rating 2500 agar bisa menjadi Grandmaster.
Perjalanan ini bukan lomba dengan anak lain, tapi perjalanan dengan diri sendiri. Itu yang selalu kami ingatkan pada Duta, dan pada diri kami sendiri sebagai orang tua. Dampingi dengan hangat, percaya pada proses, dan rayakan setiap langkahnya.