Setiap kali tahun ajaran baru mendekat, pertanyaan yang sama biasanya muncul lagi di banyak keluarga homeschooling. Apa saja yang perlu disiapkan. Kadang jawabannya buku baru. Kadang alat tulis. Kadang rak buku yang mulai penuh.
Belakangan ini ada satu sumber belajar lain yang juga sering menjadi titik awal perjalanan belajar anak, yaitu Youtube. Bukan sekadar tempat menonton. Lewat layar, anak dapat mengenal astronom, sejarawan, ilmuwan, atau penjelajah dari berbagai belahan dunia, tanpa harus bepergian ke mana pun.
Tentu tidak semua channel cocok begitu saja. Namun kalau dipilih dengan sengaja, Youtube dapat menjadi teman belajar yang menyenangkan.
Youtube Bukan Kurikulum, Tetapi Dapat Membuka Rasa Ingin Tahu
Kami tidak pernah menempatkan Youtube sebagai kurikulum. Youtube juga tidak menggantikan pengalaman nyata, percakapan keluarga, membaca buku, bermain, atau proyek yang dikerjakan dengan tangan sendiri.
Yang menarik dari Youtube adalah caranya membuka pintu rasa ingin tahu. Seorang anak menonton video tentang gunung berapi, lalu mulai bertanya tentang lempeng bumi, kemudian berpindah ke benua, lalu ke berbagai negara di dunia. Satu pertanyaan kecil dapat berkembang menjadi perjalanan belajar yang panjang tanpa terasa.
Mungkin itu salah satu hal yang paling kami sukai dari homeschooling. Belajar tidak selalu dimulai dari buku pelajaran. Kadang dimulai dari pertanyaan sederhana, mengapa bisa demikian.
Rekomendasi Channel Edukasi
Bagi Anda yang sedang menyusun daftar tontonan untuk tahun ajaran baru ini, berikut beberapa channel yang menurut kami layak disimpan.
Sains dan Pengetahuan Umum
Kok Bisa? menyajikan topik sains, sejarah, teknologi, hingga fenomena sehari hari melalui animasi yang mudah dipahami, sehingga cocok menjadi pemantik diskusi bersama anak. Ted Ed menghadirkan video animasi pendek tentang sains, sejarah, budaya, hingga matematika dari berbagai penjuru dunia. Veritasium membahas konsep sains melalui eksperimen dan pertanyaan yang mengajak berpikir lebih kritis tentang cara dunia bekerja. Ada pula SayaBisa yang membahas psikologi, pengembangan diri, dan keterampilan hidup dengan bahasa yang sederhana, lebih cocok untuk remaja.
Matematika
Untuk anak usia dini hingga awal sekolah dasar, NumberBlocks mengenalkan konsep berhitung melalui karakter angka yang menghibur. Untuk usia sekolah menengah, ada M4TH-LAB yang membahas konsep matematika secara runtut, Mantappu Academy besutan Jerome Polin yang mengemas latihan soal dengan cara yang lebih ringan, dan Khan Academy yang materinya sistematis dari dasar hingga lanjutan, sesuai untuk anak yang belajar secara mandiri dengan kecepatannya sendiri.
Bahasa Inggris
BBC Learning English menyediakan materi tata bahasa, kosakata, hingga ungkapan sehari hari untuk berbagai tingkat kemampuan. Kampung Inggris LC lebih praktis untuk kosakata dan percakapan sehari hari. Bagi anak yang sudah terbiasa menyimak dalam bahasa Inggris, Belajar sama Bule dan Learn English With TV Series dapat membantu memahami penggunaan bahasa Inggris dalam konteks percakapan nyata dan tontonan populer.
Budaya dan Alam
Nat Geo Indonesia dan National Geographic mengajak mengenal satwa liar, budaya, dan sejarah melalui dokumenter yang kuat secara visual. Geodiode menarik bagi anak yang penasaran dengan geografi dan keberagaman dunia melalui peta. Bagi anak yang menyukai cerita, Dongeng Kita menghadirkan dongeng dan cerita rakyat yang membangun literasi sekaligus mengenalkan nilai kehidupan.
Edutainment Anak Usia Dini
Untuk anak yang masih mengenal huruf, angka, dan konsep dasar, tersedia MarBel, Kinderflix, KidsCamp, dan NuNu TV. Semuanya mengemas pengenalan konsep dasar melalui lagu, animasi, dan cerita yang ringan untuk usia paling dini.
Daftar ini tidak harus diikuti oleh semua keluarga. Anggap saja sebagai beberapa pintu yang dapat dibuka kapan pun rasa ingin tahu anak sedang mengetuk.
Yang Lebih Penting daripada Channelnya
Seiring waktu, kami menyadari sesuatu. Yang paling menentukan bukan channel apa yang ditonton, melainkan apa yang terjadi setelah videonya selesai. Apakah muncul percakapan. Apakah anak ingin mencoba sesuatu. Belajar jarang terjadi ketika video sedang diputar, justru sering dimulai setelah video berhenti.
Pertanyaan yang Sering Ditanyakan
Apakah Youtube cukup untuk homeschooling?
Tidak. Youtube dapat menjadi sumber belajar yang kaya, tetapi bukan satu satunya sumber belajar yang dibutuhkan anak. Pengalaman nyata, membaca buku, bermain, berdiskusi, dan interaksi sosial tetap memiliki peran penting.
Bagaimana cara memilih channel Youtube yang tepat untuk anak?
Kami biasanya memperhatikan tiga hal. Apakah informasinya akurat, apakah sesuai dengan usia anak, dan apakah video tersebut memancing rasa ingin tahu lebih jauh, bukan sekadar hiburan sesaat.
Apakah anak homeschooling boleh menonton Youtube setiap hari?
Boleh, selama digunakan dengan sengaja dan proporsional. Yang lebih penting bukan hanya durasinya, melainkan kualitas percakapan yang terjadi setelah anak menonton.
Apakah channel berbahasa Inggris cocok untuk anak homeschooling di Indonesia?
Cocok, dan banyak keluarga homeschooling menggunakannya sebagai bagian dari paparan bahasa sehari hari. Tetap perlu disesuaikan dengan usia dan kenyamanan anak.
Apakah Youtube dapat menggantikan guru?
Tidak. Namun Youtube dapat menjadi narasumber, demonstrator, atau pemandu yang menarik ketika keluarga ingin menjelajahi sesuatu yang baru bersama sama.
Pada akhirnya, Youtube hanyalah alat. Sama seperti buku, sama seperti peta, sama seperti mikroskop atau teleskop. Yang menjadikannya pengalaman belajar bukan teknologinya, melainkan pertanyaan yang dibawa anak ketika datang, dan percakapan yang terjadi setelah videonya selesai.





