Banyak orang mengira homeschooling itu soal kemampuan akademis. Harus bisa bikin kurikulum, harus bisa mengajar semua mata pelajaran, harus pintar matematika, fisika, kimia.
Padahal ada satu kemampuan yang jauh lebih penting dan sering terlewat. Kemampuan mengimajinasikan pendidikan.
Kalau di proses coaching kami, ini selalu jadi hal pertama yang kami tanyakan. Dan biasanya responnya sama. Diam. Bingung. Enggak kebayang.
Wajar sebenarnya. Karena sepanjang kita besar, kita tidak pernah ditanya soal ini. Kita cuma jadi pelaksana. Disuruh kerjakan ini, lakukan itu. Enggak pernah diminta membayangkan pendidikan seperti apa yang kita inginkan, karena selama ini itu dianggap wilayahnya pemerintah dan ahli.
Menjalani homeschooling itu seperti membangun rumah. Arsitek yang mau bikin rumah, dia harus tahu dulu rumah seperti apa yang mau dibangun. Penulis yang mau menulis cerita, dia sudah punya bayangan dulu cerita seperti apa yang mau ditulis. Pendidikan juga sama. Kita perlu berawal dari bayangan tentang pendidikan seperti apa yang ingin kita jalankan untuk anak kita.
Kalau kami boleh tanya balik ke Anda yang sedang membaca ini. Pendidikan seperti apa yang ingin Anda berikan untuk anak Anda? Kalau belum kebayang, itu wajar. Kami akan bahas kenapa imajinasi ini penting dan bagaimana cara memulainya.
Kenapa imajinasi ini membuka begitu banyak kemungkinan
Kalau kita punya imajinasi tentang pendidikan, kita bisa melihat kemungkinan yang berbeda dari sistem sekolah yang ada sekarang.
Sekolah identik dengan ruang kelas. Pertanyaannya, bisa enggak belajar tanpa kelas? Sekolah selalu ada guru di depan. Pertanyaannya, bisa enggak belajar tanpa guru yang mengajar langsung? Sekolah pakai meja, pakai buku, pakai jam pelajaran. Semua itu bisa dipertanyakan kalau kita berani berimajinasi.
Dalam pengalaman kami, memasak itu ternyata proses belajar yang sangat kaya. Anak belajar bahasa dari resep, belajar logika dari urutan langkah, belajar matematika dari takaran, belajar mengambil keputusan dari proses memasak itu sendiri. Bukan cuma skill masak. Itu proses belajar yang utuh.
Melihat potensi anak lebih luas
Kalau kita bisa mengimajinasikan pendidikan, kita jadi tidak terkungkung pada pola tradisional. Juara kelas itu bagus. Nilai bagus itu bagus. Tapi ada sudut pandang lain yang bisa kita lihat.
Salah satu anak kami dulu kesulitan belajar akademis. Karena kami bisa melihat bahwa pendidikan tidak harus seperti itu, kami mengeksplorasi hal lain. Ternyata anak ini punya kemampuan fokus yang kuat. Dia menemukan catur, dan sekarang dia menjadi atlet catur nasional. Itu terjadi karena homeschooling, dan karena kami tidak terjebak pada satu definisi kecerdasan.
Kalau kita tidak punya imajinasi bahwa kecerdasan anak itu beragam, kita bisa saja melihat anak yang cerewet di kelas hanya sebagai anak yang tidak bisa diam. Padahal bisa jadi dia sedang menemukan bakatnya sebagai presenter. Anak yang terus main bola bisa jadi sedang belajar lewat gerak fisiknya sendiri.
Imajinasi juga mencegah ketakutan
Homeschooling itu area baru buat kebanyakan orang tua. Ketakutan yang paling sering muncul, bagaimana cara mengajarkan matematika, fisika, kimia, biologi. Padahal guru saja butuh bertahun-tahun untuk menguasai itu.
Ini bukan berarti orang tua harus menggantikan peran guru di sekolah persis sama. Ini soal model belajar yang berbeda. Kalau anak kita ternyata bukan kuat di matematika model sekolah, tapi kuat di logika data, itu bukan masalah. Ada anak yang belajar data science sendiri lewat tutorial online, bukan lewat urutan aljabar dan trigonometri seperti di sekolah. Itu bisa terjadi karena ada keberanian untuk keluar dari model persekolahan yang baku.
Soal sosialisasi juga sama. Kalau imajinasi kita soal pertemanan hanya terjadi di sekolah, pertanyaannya jadi, kalau anak tidak sekolah, bagaimana sosialisasinya. Padahal sosialisasi itu keterampilan sosial, dan itu bisa didapat dari mana saja. Ikut komunitas, ikut kegiatan sosial, traveling, main dengan siapa saja. Bagi kami pribadi, ini justru salah satu alasan utama menghomeschoolingkan anak.
Era sekarang justru lebih mudah untuk berimajinasi
Kami sebenarnya heran kalau ada yang bilang tidak kebayang soal ini di zaman sekarang. Dulu, sebelum ada internet di rumah saja, imajinasi kami soal pendidikan sudah bisa macam-macam. Sekarang ada AI, ada teknologi yang berkembang pesat, ada YouTube.
Coba pikirkan, bagaimana Anda sebagai orang dewasa belajar memasak, belajar networking, belajar bisnis. Semua itu dipelajari bukan dengan cara seperti di sekolah. Kalau itu bisa terjadi pada Anda, kenapa tidak bisa terjadi pada anak kita untuk hal lain.
Imajinasi ini yang melahirkan pendidikan yang unik, sesuai dengan keluarga masing masing. Kalau Anda punya bisnis peternakan misalnya, proses terkait hewan dan peternakan itu bisa menjadi materi belajar anak. Bukan cuma teori, anak langsung tahu praktiknya di lapangan. Aspek biologi, sosial, bisnis, sampai karakter, semua bisa masuk lewat satu konteks yang sudah ada di keluarga.
Kalau Anda tinggal di kota, ada museum, ada komunitas, ada sejarah kota yang bisa dieksplorasi. Di mana pun kita tinggal, selalu ada bahan untuk proses belajar anak.
Pertanyaan untuk Anda
Kalau anak Anda tidak wajib belajar semua mata pelajaran, bebas sepenuhnya, apa yang akan anak Anda pelajari? Apa yang menurut Anda penting untuk hidup anak, yang ingin Anda ajarkan, dan berbeda dari yang diajarkan di sekolah?
Pertanyaan yang Sering Ditanyakan
Apakah homeschooling berarti orang tua harus menguasai semua mata pelajaran?
Tidak. Homeschooling bukan soal orang tua menggantikan peran guru di sekolah. Yang lebih penting adalah kemampuan membayangkan model belajar yang berbeda, sesuai kondisi anak dan keluarga.
Bagaimana cara anak homeschooling bersosialisasi kalau tidak ke sekolah setiap hari?
Sosialisasi adalah keterampilan sosial yang bisa didapat dari mana saja. Bukan cuma dari bertemu teman seumuran setiap hari di kelas. Bisa lewat komunitas, kegiatan sosial, traveling, atau bergabung dengan berbagai kelompok.
Apakah kegiatan sehari hari seperti memasak bisa dianggap sebagai proses belajar?
Bisa. Dalam pengalaman kami, memasak mengajarkan bahasa, logika, matematika, sampai kemampuan mengambil keputusan. Bukan sekadar skill memasak saja.
Bagaimana kalau anak ternyata kesulitan belajar secara akademis?
Itu kesempatan untuk melihat potensi anak dari sudut pandang lain. Salah satu anak kami dulu kesulitan belajar akademis, lalu menemukan catur, dan sekarang menjadi atlet catur nasional.
Apakah anak homeschooling tetap bisa belajar matematika dengan baik?
Bisa, tapi caranya bisa berbeda dari urutan yang dipakai di sekolah. Ada anak yang kuat di logika data dan belajar mandiri lewat tutorial, bukan lewat urutan aljabar dan trigonometri seperti di kurikulum sekolah pada umumnya.
Kenapa kemampuan mengimajinasikan pendidikan penting sebelum memulai homeschooling?
Karena tanpa imajinasi, orang tua cenderung kembali ke pola sekolah konvensional seperti mengajar, membayar guru les, dan sebagainya. Padahal homeschooling memberi kesempatan untuk membangun pendidikan yang unik sesuai keluarga masing masing.