Membangun-empati-ketika-berkunjung

Membangun Empati Ketika Berkunjung

“Anakmu pinter banget deh La” kata seorang tante ketika kami sedang kumpul silaturahmi saat Lebaran hari kedua.
“Iya pinter banget. Itu kok mau-mauan beresin piring sampai ngelap bersih di dapur?” ujar tante yang lain lagi.

Aku yang tadinya tidak terlalu paham “pinter” model apa yang mereka maksud akhirnya mengerti, bahwa mereka sedang mengapresiasi Yudhis dan Tata yang membantu membereskan tumpukan piring kotor di dapur.

“Biasanya anak remaja itu susah banget lho dimintai tolong bantu beres-beres. Apalagi ini di rumah orang. Gimana caranya kok mereka bisa mau seperti itu?”

Aku sempat terhenyak sebentar menerima apresiasi plus pertanyaan dari tante-tante tentang hal ini. Karena setiap tahun sebenarnya aku selalu meminta anak-anak membantu beres-beres, minimal bekas makan mereka sendiri. Cuma, tahun ini Yudhis dan Tata juga membereskan tumpukan piring yang ada di dapur, bukan hanya piring mereka sendiri.

“Mungkin karena Yudhis dan  Tata terbiasa bergiliran mencuci piring di rumah. Kalau Duta masih baru di tahap mencuci piringnya sendiri setiap selesai makan,” jawabku.

***

Berkah Hidup Tanpa Asisten

Yudhis-Tata-Duta tumbuh dalam kondisi rumah tanpa asisten. Sejak kecil mereka kami libatkan dalam keseharian dan urusan rumah tangga. Semakin besar, semakin kuat tubuh mereka, semakin baik hasil pekerjaan mereka, semakin terasa manfaat bantuan mereka di rumah.

Saat ini kami hidup dengan ibu, keluarga Andit (adikku), dan 2 sepupu. Setiap dari kami berkontribusi sesuai kemampuan masing-masing. Ada Duta yang setiap pagi bertugas membuat sarapan untuk bapak dan kakak-kakaknya, ada Tata yang bertugas membantu proses memasak di dapur dan  mencuci baju setiap hari. Ada Yudhis yang bertugas aneka macam tapi minimal adalah menyetrika, menyapu/ngepel dan mencuci piring serta alat masak besar.

Karena tidak ada asisten, anak-anak belajar hidup dalam satu tim. Ada konsekwensi yang harus ditanggung bersama jika ada di antara kami yang tidak melaksanakan tugas dengan baik. Misalnya Tata lupa menanak nasi padahal hari itu adalah gilirannya memasak nasi, maka kami serumah harus menunda makan 1 jam sampai nasi matang. Atau Yudhis membiarkan setrikaan menumpuk, maka kami semua akan mengalami kekurangan baju bersih.

Karena kami hidup tanpa asisten, anak-anak juga merasakan efek yang terjadi setiap kali rumah kami menerima banyak tamu. Jika ada tamu, hampir dipastikan akan ada tumpukan piring yang lebih tinggi dari biasanya, serta rumah yang perlu disapu dan dibereskan kembali.

Dari situ anak-anak belajar, bahwa walaupun kita bahagia dan ikhlas menerima tamu di rumah, tapi kebahagiaan itu akan bertambah jika cucian piring tidak setinggi biasanya. Logika itu sebenarnya yang aku sampaikan kepada Yudhis dan Tata, agar mereka dapat berempati ketika berkunjung ke rumah kerabat atau saudara, terutama jika tuan rumah tidak memiliki asisten yang bertugas beberes setelah acara.

***

Dengan terbiasa melakukan pekerjaan rumah dan menerima efek sampingan dari keberadaan tamu, anak-anak belajar membangun empati tentang bagaimana bersikap yang baik saat di kesempatan berbeda mereka menjadi tamu.

Yang aku tidak menyangka, kebiasaan sederhana ini ternyata menjadi tidak sederhana di mata para eyang.

Share this post

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.