Homeschooling di Indonesia Legal Tidak? Pengalaman Lebih dari 20 Tahun Menjalaninya

Sejak ada kabar tentang TKA di PKBM, pertanyaan soal legalitas homeschooling ramai lagi di mana-mana. Inbox kami penuh. Orang tua bertanya: bagaimana nasib homeschooling? Anak saya masih bisa lanjut ke perguruan tinggi?

Kami mengerti kekhawatiran itu. Tapi kami juga ingin bercerita dari posisi yang berbeda.

Kami memulai homeschooling sejak Yudhis lahir di tahun 2000. Waktu itu belum ada peraturan menteri tentang sekolahrumah. Belum ada panduan yang jelas. Kami mulai bukan karena sistem sudah siap, tapi karena kami yakin ini jalan yang tepat untuk keluarga kami.

Dan sejak saat itu, kami menyaksikan aturan datang dan pergi. Berganti nama, berganti mekanisme. Tapi kami tetap menjalankan homeschooling membersamai ketiga anak kami hingga mereka dewasa. Saat ini Yudhis sudah menyelesaikan kuliahnya di Fakultas Ekonomi UI, Tata sedang menjalani kuliah di fakultas Ilmu Budaya UGM dan Duta sedang menjalani hari-harinya sebagai pecatur profesional di Pelatnas.

Homeschooling Itu Legal

Tapi kali ini aku ingin membahas tentang legalitas. Sebuah hal yang sedang menjadi pertanyaan terkait dengan banyaknya perubahan aturan pendidikan di negara Indonesia.

Homeschooling atau sekolahrumah legal di Indonesia. Tidak ada masalah. Jalurnya jelas: daftarkan anak di PKBM supaya tercatat di dalam sistem pendidikan nasional. Itu basicnya.

Yang berubah dari waktu ke waktu adalah teknisnya. Prosesnya, rapornya, ujiannya. Ada dinamika, ada perubahan peraturan. Tapi status legalnya tidak pernah bergeser.

Kami mengalami ini langsung bersama tiga anak kami. Dalam proses anak pertama kami Yudhis, ketika menempuh Paket A, Paket B, Paket C punya ceritanya sendiri karena aturannya memang terus berubah di setiap fase.

Waktu Yudhis hendak ujian Paket A dulu, prosesnya masih bisa daftar menjelang ujian, langsung, tanpa harus punya rapor lengkap. Beberapa tahun kemudian aturan berubah, harus punya rapor dulu. Sekarang, di 2026, pendaftaran bahkan harus dilakukan mulai kelas 1 SD, tidak bisa lagi mendaftar di ujung menjelang ujian.

Jadi ya, ada perubahan. Tapi perubahan itu bukan berarti jalan tertutup. Begitu pula yang terjadi dengan Tata. Prosesnya berbeda dengan Yudhis, berbeda pula dengan Duta.

UPK, TKA, dan Berbagai Nama yang Membingungkan

Salah satu yang paling sering membuat orang tua pusing adalah pergantian nama ujian.
Dulu ada Ujian Paket. Lalu Uji Kesetaraan. Lalu Ujian Pendidikan Kesetaraan (UPK). Sekarang ada TKA. Wajar kalau bingung. Tapi substansinya sebenarnya tidak berubah terlalu jauh.

Yang perlu dipahami: kewenangan kelulusan ada di PKBM. PKBMlah yang menentukan lulus atau tidaknya anak, bukan ujian itu sendiri. UPK adalah salah satu komponen nilai yang diambil PKBM, tapi bukan satu-satunya. Kriteria kelulusan bisa beragam, mulai dari kehadiran, tugas, prestasi, portofolio, dan lain-lain tergantung PKBM-nya.

Jadi tidak seperti UN zaman dulu yang menentukan segalanya. Nilai jelek di UPK tidak otomatis berarti tidak lulus.
Lalu TKA di mana posisinya?

TKA adalah cara pemerintah untuk melihat nilai standar anak dibandingkan dengan anak sekolah lainnya. Berguna kalau anak ingin pindah ke sekolah formal. Tapi kalau tujuannya perguruan tinggi, anak homeschooling melalui PKBM tidak punya jalur undangan, sehingga TKA tidak terlalu berpengaruh di sana.

Singkatnya: TKA adalah alat ukur akademis, bukan penentu nasib.

Kami mengalami ini bersama Duta, anak ketiga kami, yang sangat berorientasi olahraga dan tidak terlalu menyukai hal-hal akademis. Waktu ada tes serupa dulu, kami memilih untuk menjadikannya momen belajar, bukan momen tegang. Kenalkan polanya, pahami materinya sekadarnya, dan tidak perlu panik kalau nilainya tidak sempurna. Toh itu bukan penentu segalanya.

Yang Perlu Disiapkan Sejak Awal

Kalau sekarang baru memulai atau sedang mempertimbangkan homeschooling, ini yang paling penting untuk dipegang.

  • Daftarkan anak di PKBM sejak awal, jangan tunggu menjelang ujian.
  • Cari PKBM yang terakreditasi dan fleksibel karena tidak semua PKBM ramah dengan model homeschooling yang sesungguhnya. Ada yang mewajibkan hadir tutorial beberapa kali seminggu, ada yang bisa sepenuhnya online, ada yang pakai ujian semester, ada yang cukup dengan portofolio. Sesuaikan dengan kebutuhan keluarga.

Satu hal yang perlu dipahami: PKBM adalah mitra, bukan pusat dari proses belajar anak. Kalau orang tua ingin homeschooling tapi sebenarnya ingin menitipkan anak ke PKBM dan tidak banyak terlibat, itu bukan homeschooling. Itu model yang berbeda.

Dalam homeschooling, peran orang tua adalah yang utama. PKBM mengurus urusan legalitas dan administrasi. Urusan belajar sehari-hari tetap ada di tangan keluarga.

Satu Isu yang Sedang Kami Perhatikan

Di 2026 ini ada perkembangan yang kami ikuti dengan seksama. Beberapa daerah mulai mensyaratkan agar peserta didik yang terdaftar di PKBM berdomisili di sekitar kota PKBM tersebut.

Kami berharap ini tidak melebar. Banyak keluarga yang memilih homeschooling justru karena pekerjaannya menuntut mereka berpindah-pindah kota. Kalau setiap pindah kota harus pindah PKBM, proses pendidikan anak jadi terganggu. Belum lagi teman-teman di luar Jawa yang tidak semua daerahnya punya PKBM yang paham dan ramah dengan model homeschooling.

Kami percaya teknologi seharusnya dimanfaatkan untuk memperluas akses, bukan mempersempitnya dengan batasan administratif. Fleksibilitas adalah salah satu kekuatan terbesar dari model pendidikan ini. Sayang sekali kalau justru itu yang dipangkas.

Pertanyaan yang Sering Ditanyakan

Apakah homeschooling di Indonesia legal?
Ya, homeschooling atau sekolahrumah legal di Indonesia dan diakui oleh negara. Jalur resminya adalah dengan mendaftarkan anak di PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) supaya tercatat di dalam sistem pendidikan nasional.

Apa itu PKBM dan mengapa anak homeschooling perlu mendaftar di sana?
PKBM adalah lembaga pendidikan nonformal yang berfungsi sebagai mitra legal bagi keluarga homeschooling. Dengan terdaftar di PKBM, anak mendapatkan rapor, ijazah, dan pengakuan resmi dari negara. PKBM tidak menggantikan peran orang tua dalam proses belajar, tapi mengurus administrasi dan legalitas pendidikan anak.

Apa bedanya UPK dan TKA untuk anak homeschooling?
UPK atau Ujian Pendidikan Kesetaraan adalah ujian yang diselenggarakan PKBM sebagai salah satu komponen penilaian kelulusan, tapi bukan satu-satunya penentu. TKA adalah alat ukur standar akademis yang digunakan pemerintah untuk membandingkan kemampuan anak dengan siswa sekolah formal. TKA tidak menentukan kelulusan anak homeschooling.

Apakah anak homeschooling bisa masuk perguruan tinggi?
Ya. Anak homeschooling yang terdaftar di PKBM dan menyelesaikan jenjang pendidikannya bisa mendaftar ke perguruan tinggi. Anak pertama kami, Yudhis, adalah contoh nyatanya: ia menjalani homeschooling sejak lahir dan berhasil lulus dari Universitas Indonesia.

Kapan sebaiknya mendaftarkan anak homeschooling ke PKBM?
Sejak awal, jangan tunggu menjelang ujian. Di 2026, pendaftaran ke PKBM sudah harus dilakukan mulai jenjang kelas 1 SD. Mendaftar di ujung menjelang ujian tidak bisa lagi dilakukan.

Bagaimana memilih PKBM yang tepat untuk homeschooling?
Cari PKBM yang terakreditasi dan fleksibel. Tidak semua PKBM memahami model homeschooling yang sesungguhnya. Ada yang mewajibkan hadir tutorial secara rutin, ada yang bisa sepenuhnya online, ada yang cukup dengan pengiriman portofolio. Sesuaikan dengan kebutuhan dan model belajar keluarga.

Jangan Khawatir, tapi Tetap Waspada

Hal penting yang kami pelajari dari 20 tahun lebih menjalankan homeschooling adalah bahwa aturan akan terus berubah. Dan itu tidak perlu membuat kita panik.

Yang perlu dilakukan adalah tetap mengikuti perkembangan, memilih PKBM yang tepat, dan memastikan proses belajar anak di rumah berjalan dengan baik. Itu yang jauh lebih penting dari sekadar mengikuti setiap perubahan nama ujian.

Homeschooling legal. Anak-anak bisa lanjut ke perguruan tinggi. Dan kalau Anda menjalaninya dengan serius, hasilnya bisa jauh melampaui apa yang dibayangkan.

Kalau masih ada pertanyaan seputar legalitas homeschooling di 2026, tulis di kolom komentar. Kami akan coba jawab semuanya.

Tonton versi video lengkapnya di YouTube Rumah Inspirasi untuk mendengar langsung obrolan kami tentang pengalaman ini.

Jika Anda capek dengan banyaknya teori yang ada di internet dan ingin ditemani beraksi, maka Anda bisa ikut program Parent Growth Program (PGP), sebuah program baru Rumah Inspirasi yang  dibuat untuk menciptakan aksi kecil mingguan yang realistis, bukan teori tambahan.

PGP adalah sistem pendampingan keluarga yang membantu orangtua membangun ritme, kebiasaan, dan lingkungan, selapis demi selapis. 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.