FESPER 2013 (1): Perjalanan Membangun Sejarah Homeschooling

“Raanya tidak sabar menunggu Fesper 2014!” kata Yudhis dan Tata penuh harap.

Ungkapan yang dinyatakan dengan antusias itu mereka ucapkan saat kami berada di Madiun, hanya berselang beberapa hari setelah acara Festival Pendidikan Rumah (FESPER) 2013 di Wonogondang, Yogyakarta. Mereka menyatakan sudah kangen untuk bertemu dengan teman-teman yang mereka temui saat Fesper. Keberangkatan menuju FESPER 2014 yang akan dilangsungkan di Salatiga sudah terbayang-bayang di benak mereka.

Sebagai orangtua, kami bahagia mendengar ucapan Yudhis dan Tata. Apa yang diharapkan orangtua saat mengajak anak-anaknya berkegiatan selain melihat mereka bahagia dan ingin mengulangi pengalaman yang baru mereka jalani?

Fesper-logo

***

Fesper2013aKebahagiaan anak-anak, antusiasme 25 keluarga yang mengikuti kegiatan FESPER 2013, rangkaian kegiatan yang padat dan seru, serta jalinan persaudaraan yang terbangun selama acara FESPER 2013 sangat berkesan di hati kami. Gonjang-ganjing selama persiapan menjelang keberangkatan ke Yogya rasanya terbayar dengan lunas, nas, nas! hehehe…

Bagaimana tidak? Menjelang keberangkatan banyak peristiwa yang seperti menjadi “ujian kesungguhan hati” kami untuk berangkat ke acara Fesper. Ujian pertama adalah biaya keberangkatan ke Yogya yang bisa dikatakan tak murah. Kami sempat maju-mundur, apakah berangkat lengkap sekeluarga (5 orang) atau hanya sebagian. Setelah menimbang dengan seksama, ceile, kami memutuskan untuk berangkat lengkap sekeluarga karena kami merasa bahwa Fesper ini sangat penting dan strategis untuk perkembangan homeschooling di Indonesia. Kami merasa harus mendukung inisiatif dan kerja keras teman-teman Yogya yang sudah menyiapkan acara ini.

Malam menjelang keberangkatan, tiket sudah dipesan dan dibayar. Tiba-tiba Lala menemukan bahwa telapak kaki Duta bernanah. Duta memang terlihat berjalan terpincang-pincang, tapi kami tidak terlalu alert dengan kondisinya. Kami melihat ada satu luka kecil di kakinya, ternyata ada luka lain yang mungkin baru terjadi. Dengan panik, malam itu juga Lala membawa Duta ke dokter. Lala khawatir Duta terkena tetanus. Kami memang agak parno dengan tetanus karena ada pengalaman seorang sahabat kami yang terkena tetanus gegara luka kecil di kaki yang kemudian membuatnya koma berhari-hari di ICU.

Karena Duta masih kecil, dokter memutuskan tak membedah luka di telapak kaki Duta. Apalagi setelah mengetahui kami akan pergi keluar kota. Dokter memberikan obat pencuci luka dan 3 obat yang harus diminum Duta. “Waktu kritisnya 2 hari. Kalau selama 2 hari tidak demam dan panas tinggi, berarti aman,” kata dokter. Dan selama waktu itu, Duta harus digendong.

“Digendong?!” kataku dalam hati saat Lala menceritakan kondisi Duta sambil memandang deretan ransel yang harus dibawa. “Baiklah….”

Pada hari yang sama, Mella, teman seiring seperjalanan kami juga menghadapi ujiannya yang lain. Ali Haydar (5 tahun) sudah beberapa hari bengkak pipinya karena masalah gigi yang sedang tumbuh. Pada saat bersamaan, tiba-tiba Husayn (7 tahun) badannya dipenuhi bintik-bintik seperti cacar. Lengkaplah malam Kamis menjelang keberangkatan itu menjadi malam kegalauan bersama.

***

Fesper2013cDengan iringan doa, kami memutuskan tetap berangkat. Demikian pun Mella dan keluarga. Tak lupa ada keluarga Raken yang pergi bersama satu kereta.

Di stasiun Senen, Jakarta Pusat, kami bertemu dan menapaki perjalanan bersama menuju Yogyakarta dengan kereta ekonomi AC Gajah Wong. Kereta berangkat pukul 06.05 dan  sampai di Yogya pukul 15.00, terlambat setengah jam dari yang dijadwalkan. Selama perjalanan 9 jam itu, anak-anak tampak ceria. Mereka asyik menyibukkan diri untuk mengatasi kebosanan. Makan, mengobrol, main tebak-tebakan, bernyanyi, jalan-jalan, dan main Uno menjadi alat mereka untuk mengisi waktu selama perjalanan di dalam kereta.

Kereta ekonomi AC Gajah Wong yang kami naiki sangat nyaman, beyond our expectation. Semua penumpang duduk (dan karena kami pergi saat low season, banyak kursi kosong). AC-nya menyala secara moderat, tidak dingin tapi juga tidak panas. Kereta bersih, toiletnya tidak bau, dan perjalanan lancar tanpa gangguan. Pedagang asongan yang sering menjadi masalah kereta ekonomi hanya muncul di beberapa stasiun besar, itupun dalam pengawasan ketat petugas KA. Kekurangan kereta ekonomi AC Gajah Wong adalah prioritas terendah (selalu menunggu kalau disalip atau berpapasan kereta lain) dan kursi penumpang yang kurang nyaman. Selebihnya oke.

***

Satu hal yang membuat kami bersemangat dengan FESPER, kami merasa perjalanan menghadiri FESPER di Yogyakarta ini sangat penting. Ini adalah peristiwa bersejarah (*lebay*) karena sejarah pada hakikatnya kreasi yang dihadirkan/diciptakan secara aktif.

Menghadiri FESPER adalah bagian dari proses meletakkan tonggak sejarah homeschooling di Indonesia. FESPER adalah temu raya pertama para keluarga praktisi homeschooling/home education dari berbagai kota. Acara ini  diharapkan dapat menjadi benih yang baik untuk para praktisi homeschooling di Indonesia. Tentu saja, butuh kerja keras untuk memelihara dan menumbuhkan FESPER di masa-masa yang akan datang agar selaras dengan idealisme para keluarga praktisi homeschooling/home education.

Harapan tentang FESPER itu ternyata memang menjadi harapan bersama. Selama Fesper berlangsung, terjadi diskusi-diskusi informal untuk mengelaborasi gagasan FESPER sebagai pesta dan festival tahunan bagi keluarga praktisi homeschooling/home education Indonesia. Diskusi itu bukan hanya dalam tataran gagasan, tetapi langsung didetilkan menjadi komitmen gerakan. FESPER 2014 langsung direncanakan secara paralel dengan kegiatan mengikuti FESPER 2013.

Hasilnya, FESPER 2014 akan diselenggarakan di Salatiga. Perkiraan waktu yang FESPER 2014 adalah tanggal 28-30 Maret 2014. Catat dulu tanggalnya! Informasi dan update tentang FESPER 2014 akan segera dipersiapkan.

***

Fesper2013b

Kembali pada antusiasme Yudhis dan Tata untuk mengikuti FESPER 2014, Lala mengajak mereka untuk terlibat aktif merencanakannya.

“Kalau begitu, nanti sesampai di Jakarta mulai menabung. Tiap anak Rp 2 ribu setiap hari. Kalau menabung selama 300 hari, berapa tabungan yang kalian kumpulkan?”

“Enam ratus ribu,” kata Yudhis dan Tata.

“Nah, itulah biaya kalian untuk mengikuti FESPER tahun depan, sudah termasuk biaya peserta dan biaya perjalanan kita dari Jakarta ke Salatiga.”

 

Photo: (c) ridwannurzeha, dok pribadi

(Bersambung)

Tulisan menarik lainnya

About Aar

Aar senang membaca, suka menulis, berbahagia saat berbagi dan bermain bersama anak-anak. Minat utama tentang pendidikan, anak, teknologi, spiritualitas, bisnis, dan apa saja yang membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik. Buku yang telah diterbitkan "Homeschooling Lompatan Cara Belajar" (Elex Media, 2007), "Warna-warni Homeschooling" (Elex Media, 2008).

Trackbacks

  1. […] perjalanan kami mengikuti Kemah FesPer lalu ternyata membuktikan Duta itu manis sekali kalau diajak jalan-jalan. Semakin bertambah besar, […]

Tinggalkan komentar Anda

*

Close