Setengah Bulan tanpa TV

Apa yang terjadi kalau anak-anak berkegiatan tanpa TV di rumah? Apakah mereka akan bosan? Apakah mereka akan biasa-biasa saja?

Sudah lebih dari setengah bulan di rumah tak ada TV untuk anak-anak karena TV rusak akibat terkena petir akhir bulan lalu. Sejak itu, anak-anak praktis tak menonton Playhouse Disney kesukaan mereka yang sering menjadi hiburan saat mereka beristirahat usai makan malam.

Aku semula agak mengkhawatirkan Duta. Di luar “jadwal” menonton TV saat malam, terkadang Duta suka menonton TV sebentar, entah siang atau sore hari. Tata juga terkadang menonton Disney channel sambil bermain bersama Duta di kamar.

Intinya, TV adalah hiburan buat anak-anak di rumah. Kami tak melarang mereka menonton TV, tapi kami hanya mengatur jenis channel yang mereka tonton. So far, kami tak memiliki masalah dengan TV: anak-anak tak kecanduan TV walaupun mereka bisa menonton kapan pun, mereka juga tak “lengket” dengan acara-acara yang mereka tonton.

Bahkan, kami mendapatkan efek positif dari TV seperti kemampuan bahasa Inggris pada Yudhis, Tata, dan Duta. Tentu saja, ada aneka pengetahuan dan pembelajaran yang diperoleh Duta seperti mengenal angka, alfabet & pengetahuan umum. Bahkan, Duta belajar membaca dari menonton film World Word.

***

Seminggu berlalu. Waktu berjalan relatif cepat karena kami mengikuti acara FESPER dan pergi ke Salatiga. Tak ada masalah karena kami berada di luar. Sepanjang mengikuti FESPER dan di perjalanan juga tak ada pembicaraan tentang TV.

Minggu kedua di rumah. Aku agak was-was dan cemas. Eh, ternyata kecemasan itu terlalu mengada-ada. Tata dan Duta menyesuaikan diri dengan kondisi. Mereka tahu bahwa TV rusak karena terkena petir dan untuk membeli TV baru dibutuhkan uang yang banyak. Jadi mereka pun pasrah.

Di titik ini, aku melihat bahwa anak-anak memiliki elastisitas dan daya penyesuaian yang luar biasa. Kami memang “tertolong” dengan kegiatan keluar rumah tiga kali seminggu untuk berolahraga di Rockstar Gym yang membuat hari-hari mereka terisi dan penuh kebahagiaan.

Tata dan Duta menyesuaikan diri dengan melakukan inisiatif-inisiatif sesuka mereka. Kadang bermain kereta, menggambar, membaca buku, bikin prakarya, atau ide-ide dadakan seperti membuat gambar dari koin.

rumahkoin1

***

Walaupun Duta (dan Tata) kelihatan tak bermasalah dengan ketiadaan TV, sebagai orangtua kami ingin memastikan bahwa keseharian mereka berkualitas dengan lebih banyak menyediakan diri kami sebagai partner kegiatan mereka.

Karena proses tanpa TV ini mungkin masih agak lama (sampai ada dana untuk membeli TV baru), kami melihat proses ini sebagai “pengajaran Tuhan” untuk tak terikat dengan apapun. Ada TV bahagia, tak ada TV pun tak apa-apa. Anak-anak pun belajar bersama melalui pengalaman ini.

Tulisan menarik lainnya

– WEBINAR –

Dalam proses pengasuhan, ada aspek-aspek keterampilan dasar yang krusial dan perlu dikembangkan pada anak. Jika anak memiliki keterampilan-keterampilan dasar ini, proses pengembangan mereka saat remaja akan menjadi lebih mudah dilakukan.

Webinar ini membahaskan 10 keterampilan dasar yang perlu dan bisa dikembangkan di rumah untuk anak-anaknya.

10 Keterampilan yang akan dibahaskan dalam webinar

MENJAGA KESEHATAN & KESELAMATAN

  • Pola makan
  • pola tidur
  • pola aktivitas sehat,
  • berenang
  • bela diri
  • pertolongan pertama (P3K)

LITERASI

  • Membaca dan mengerti
  • Membaca petunjuk
  • Membaca resep
  • Membaca rambu lalu lintas
  • Membaca tabel

MENGURUS DIRI SENDIRI‚Äč

  • Mengatur waktu
  • Membuat rencana
  • Menepati rencana
  • Mengetahui baik-buruk
  • Mengambil keputusan

BERKOMUNIKASI

  • Mengajukan pertanyaan
  • Mengobrol
  • Berkenalan dengan orang baru
  • Memberi & menerima feedback
  • Mengapresiasi
  • Bernegosiasi

MELAYANI

  • Mengerjakan pekerjaan rumah
  • Berkontribusi di keluarga
  • Berkontribusi di Lingkungan
  • Berkontribusi di sosial.

MENGHASILKAN MAKAN

  • Bercocok tanam
  • Berbelanja
  • Mengolah bahan pangan
  • Memasak
  • Menata masakan

PERJALANAN MANDIRI

  • Naik sepeda
  • Kendaraan umum
  • Membaca peta
  • Bisa pergi ke manapun dan kembali ke tempat asal

MEMAKAI TEKNOLOGI

  • Memakai gadget
  • Mengenal batas hukum & etik
  • Menghindari kecanduan
  • Menggunakan secara produktif

TRANSAKSI KEUANGAN

  • Belanja
  • Mendapat penghasilan
  • Menabung
  • Berinvestasi
  • Transaksi dalam sistem keuangan

BEKERJA

  • Menghasilkan karya
  • Membuat output (tulisan, lagu, musik, cerita/presentasi, video, animasi, dll) sesuai minat & kemampuan

Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on print
Share on email

2 thoughts on “Setengah Bulan tanpa TV”

  1. Luaaar biasa, anak-anak itu. Kita memang harus banyak belajar dari anak2. Terkadang, kita sebagai ortu malah yang kelewat lebay. Gak ada TV seakan tidak ada hiburan..
    Oya, di rumah kami, sejak pindah dari Jakarta ke Cirebon, TV tak dinyalakan selama 1 tahun, karena harus punya antena tinggi2. Maklum, tinggalnya dekat dengan gunung. Tapi kami banyak bersyukur karena itu. Anak2 juga bisa adaptasi. Ketika, mudik ke rumah orang tua. Muncul kebiasan menonton TV lagi. Pas kembali ke Cirebon, mereka minta TV. Kita pun menyiasatinya dengan membelikan DVD player. Dan anak-anak pun bisa menonton film2 dari DVD. Hanya saja, film2 yg beredar di pasaran kurang mendidik.
    Pertanyaan sayaa:
    1. Darimana kita bisa dapatkan film/ video yang yang bermuatan edukatif, dan anak-anak2 juga tidak bosan, usia anak saya yang pertama 4,5 dan yang kedua 2,5 tahun?
    2. Apa menonton tv lebih dari 2 jam itu normal bagi anak-anak? berapa durasi maksimal yg sehat?

    1. Mas Masyhari,
      1. Video2 utk anak usia 4.5 tahun bisa dicari dari Youtube dan kemudian diunduh.
      2. Saya tidak tahu standarnya berapa yang normal. Kalau buat kami, yg penting secukupnya dan tidak menimbulkan ketergantungan anak pada TV. ūüôā

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.