(c) Weilin Han

Belajar menjadi Tukang Kebun Kehidupan

Sebuah pesan masuk melalui WA dan memperkenalkan diri.

“Perkenalkan saya Billy Fariman, perwakilan dari tim pelatihan kompetensi sosial dan kepribadian.

Saya diminta menghubungi Bapak berhubungan dengan pelatihan yang akan diadakan di P2KTPK2 Jakarta Timur. Apakah saya bisa bertemu dan menjelaskan?”

Percakapan pun terjadi melalui Whatsapp tentang pelatihan yang disusul dengan janjian ketemuan di Studio Sang Akar di Tebet bersama pakde Susilo Adinegoro.

Tak lama berselang dari pesan Billy, ada WA dari bu Weilin Han dengan pesan serupa.

Aku seperti terhenyak dengan interupsi ini.

“Ada apa ini? Apa hubunganku dengan pelatihan ini? Apa materinya? Kenapa aku?”

Aneka pertanyaan berkecamuk. Bahkan setelah Billy mengirimkan email berisi materi pelatihan dan menjelaskan dengan sangat meyakinkan saat kami bertemu di Studio Sang Akar, beragam pertanyaan masih berkecamuk.

Dari percakapan secara online dan pertemuan tatap muka, pesan yang aku terima jelas. Ada pelatihan untuk guru dan kepala sekolah Jakarta Timur yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Jakarta Timur dan aku diminta menjadi salah satu narasumber/fasilitator pelatihannya. Tema pelatihan jelas yaitu mengenai “Kompetensi Sosial dan Kepribadian“.

Karena jadwal dari Dinas Pendidikan baru ditentukan pada menit-menit terakhir, tim Fasilitator yang dikoordinir bu Itje Chodijah dan bu Weilin Han mengalami sedikit masalah sumberdaya. Para fasilitator sudah memiliki jadwal kesibukan masing-masing dan ada slot kosong yang membutuhkan fasilitator tambahan. Ada satu jadwal kelas yang belum ada fasilitatornya, aku dan pakde Susilo Adinegoro diminta untuk membantu menjadi fasilitator.

(c) Weilin Han

Undangan menjadi Fasilitator Pelatihan

Setelah membaca materi pelatihan, secara tema aku merasa cukup familiar. Spirit besar pelatihan ini adalah mengajak para guru dan orangtua untuk tak hanya menjadi operator pendidikan yang sibuk dengan urusan eksekusi & administratif, tetapi menjadi agen perubahan dan desainer pendidikan di area yang mampu mereka lakukan. Mengambil spirit dari ajaran Ki Hajar Dewantara, pelatihan ini ingin mengembangkan dan menguatkan spirit guru perawat taman kehidupan, bukan menjadi pemahat atau pabrik yang mencetak tenaga kerja.

Problemnya, aku bukan seorang trainer bagi guru. Walaupun sempat menjadi guru komputer SMA saat kuliah, aku tak pernah mendapatkan pendidikan formal maupun pelatihan keguruan. Aku tak memiliki pengetahuan dan pengalaman mengenai dinamika kelas dan persekolahan karena aku cuma praktisi pendidikan yang mendidik anak-anak sendiri dan senang melakukan sharing untuk orangtua mengenai pendidikan mandiri.

Tapi entah mengapa, bu Weilin sangat percaya bahwa aku sanggup mengampu dan menjadi fasilitator pelatihan ini. Entah siapa yang menjadi pembisik bagi bu Weilin, beliau yakin bahwa aku bisa. Padahal bu Weilin belum pernah bekerjasama denganku. Padahal kami baru bertemu sekali, itupun dalam suasana informal tanpa pembicaraan yang serius. Tapi beliau bersikukuh dan yakin aku bisa.

Buatku, ini sebuah kehormatan tetapi juga sebuah hal yang menggentarkan. Aku suka dengan gagasan-gagasan yang ada di dalam pelatihan ini. Aku ingin membantu agar pelatihan ini berhasil. Tapi aku merasa tidak kapabel membawakannya. Dan aku memiliki pantangan pribadi untuk membawakan hal-hal yang tak aku kuasai.

Demi meyakinkan aku, Billy mengatur pertemuan dengan bu Weilin hari Senin siang saat pelatihan hari pertama. Di sana, untuk pertama kali aku bertemu dengan bu Itje Chodijah, yang sama sekali tak memberi ruang buatku untuk mengatakan tidak bisa.

“Pokoknya saya percaya dan yakin Anda bisa!”

Matilah aku!

Dua sosok guru yang kuhormati sudah memutuskan nasibku. Dan aku seperti anak kecil yang tak bisa menolaknya, hahaha…

Semua pertanyaan dan concern-ku dijawab semua oleh bu Weilin dan bu Itje. Bahkan, bu Weilin menjawab secara teknis dan mensimulasikan materi yang harus kubawakan.

Yang membuat aku agak tenang, di ruang fasilitator ada teman-teman yang sudah aku kenal baik sebelumnya. Ada Deta Ratna Kristanti dan teh Ifa Misbach yang ternyata juga menjadi fasilitator pelatihan ini.

(c) goodnewsfromindonesia.id

Belajar di Kelas

Lalu, mulailah perjalanan belajarku bersama para guru ini. Aku belajar materi-materi yang dikirimkan. Aku ikut belajar dan sit-in di kelas mas Aditya, teh Ifa Misbach, dan bu Weilin Han selama 3 hari berturut-turut.

Seru dan asyik sekali menikmati dinamika proses belajar di ruang kelas bersama para guru dan kepala sekolah. Juga mendengarkan obrolan dan percakapan bersama para fasilitator selama jam-jam istirahat.

Pelatihan “Kompetensi Sosial dan Kepribadian” ini intinya adalah mengajak para guru reflektif dan menjadi agen perubahan. Dari sisi konten, temanya mengajak kembali para guru untuk merenungkan gagasan pendidikan Ki Hadjar Dewantara (Bapak Pendidikan Indonesia) yang memandang pendidikan bukan seperti pabrik, tetapi seperti taman/kebun. Anak-anak adalah tumbuhan dengan spesies yang berbeda-beda, guru adalah perawat kebun agar tumbuh optimal sesuai jenis tanamannya.

“Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.” ~ Ki Hadjar Dewantara

Selain itu, pelatihan ini berusaha membangun kepercayaan diri kepada para guru dan kepala sekolah bahwa mereka adalah agen perubahan yang sangat bisa menjadi ujung tombak perubahan di bangsa ini. Oleh karenanya, ada sesi-sesi materi tentang “design for change” dan studi kasus untuk memberikan tools praktis bagi para guru.

Materi pelatihan ini dirancang oleh bu Itje Chodidjah beserta tim dan sudah dijalani oleh sekitar 1800 guru, kepala sekolah, dan pengawas di DKI Jakarta.

Catatan Personal

Sebagai pendatang baru, aku sangat bersyukur bisa terlibat dalam kegiatan pelatihan ini, belajar dan berinteraksi sangat intens dengan para fasilitator, serta menemani proses belajar bersama para guru dan kepala sekolah.

* Berkumpul bersama orang baik itu membahagiakan

Walaupun hanya beberapa hari, proses yang aku jalani terasa sangat intens dan menjadi pengalaman personal yang memperkaya buatku. Bahagia bisa belajar dari teman-teman yang aktif mengabdikan diri untuk perbaikan dunia pendidikan dengan sepenuh hati.

Bahagia bisa belajar tentang ilmu dan pengalaman mereka, rasanya penuh (content) bisa menyerap & bertukar energi kepedulian untuk kebaikan negeri ini.

* Guru sebagai Perawat Taman Kehidupan

Salah satu gagasan pendidikan yang aku “imani” adalah menempatkan anak sebagai subyek pendidikan. Dan proses pendidikan yang utama adalah proses mengeluarkan potensi anak dan merawatnya hingga tumbuh berkembang & berbuah sesuai kodrat keunikan setiap anak.

Pelatihan ini dan perbincangan bersama para fasilitator dan guru meneguhkan aku terhadap prinsip-prinsip pendidikan ini. Dalam konteks personalku sebagai orangtua homeschooling, penting untuk terus menjaga kesadaran agar bisa memfasilitasi anak-anak agar bisa bertumbuh dengan baik sesuai dengan keunikan mereka.

* Pendekatan Pelatihan

Pendekatan pelatihan ini menarik karena tidak menggunakan ceramah, tetapi pelibatan dan refleksi. Bahkan ada sesi khusus praktek katarsis emosi untuk membantu para guru mengelola beban emosi dalam pekerjaan maupun kesehariannya.

Berulangkali bu Weilin mengingatkan aku untuk sering menggunakan pertanyaan reflektif yang akan memancing para peserta melakukan pertanyaan pada diri sendiri. Walaupun proses perubahan adalah hal yang kompleks dan tak mudah, setiap sesi membahaskan praktek2 kesadaran sederhana yang dijalani sepanjang proses pelatihan, seperti memilah sampah, merapikan ruang, mengobrol selama materi pelatihan, pengaturan sandal di mushola, dan lain-lain.

*Belajar dan Mengajar

Momen menyiapkan diri menjadi fasilitator dan akhirnya mengampu satu kelas selama satu hari dalam pelatihan “Kompetensi Sosial dan Kepribadian” sangat transformatif buatku. Kondisi ini memaksaku belajar banyak, bahkan menyiapkan materi pelatihan hingga jam 2 pagi untuk memastikan aku bisa lancar membawakannya. Walaupun pada prakteknya, aku ternyata tetap merasa kurang berhasil membawakannya, hehehe

Setidaknya, momen pelatihan ini jadi pengalaman berharga yang memperkayaku, yang membuat aku keluar dari zona nyaman yang aku saat ini sebagai fasilitator proses pendidikan mandiri untuk anak-anakku.

**

Terima kasih teman-teman untuk kepercayaan dan pengalaman yang diberikan..

Berikut ini refleksi teh Ifa Misbach mengenai pelatihan ini: https://medium.com/@ifahmisbach/refleksi-akhir-tahun-jebakan-menjadi-perjalanan-berkah-5f01c23821b2

Share this post

1 thought on “Belajar menjadi Tukang Kebun Kehidupan”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Bagaimana Cara Belajar Anak Homeschooling?

Jangan membayangkan homeschooling hanya dengan mengundang guru privat. Proses belajar dalam homeschooling bisa sangat beragam dan kaya, tergantung pada kreativitas orangtua.

Jika orangtua ingin meningkatkan kualitas homeschooling yang dijalaninya, orangtua perlu meningkatkan kapasitas diri agar anak-anak tidak hanya belajar untuk lulus ujian, tidak hanya belajar berbasis mata pelajaran, tidak hanya belajar dengan mendengarkan ceramah dan latihan soal.

Serial webinar ini akan membahaskan tentang strategi pembelajaran berbasis dunia nyata dan keseharian. Strategi pembelajaran ini bukan hanya penting untuk meningkatkan kualitas pendidikan anak-anak, tetapi juga meningkatkan kepercayaan diri orangtua dan kapasitas keterampilan orangtua sebagai fasilitator dalam proses belajar anak.

Materi yang dibahaskan dalam webinar ini untuk anak beragam usia dari anak usia pra-sekolah hingga SMA.