15 Peralihan dari Sekolah ke Homeschooling

Ada sebagian keluarga yang menjalani homeschooling pada saat anaknya sudah masuk usia sekolah. Awalnya anaknya sekolah, tapi kemudian keluarga ingin beralih ke homeschooling karena berbagai alasan.

Bagaimana menjalani homeschooling untuk anak yang beralih dari sekolah?

Tak sekedar memindahkan sekolah ke rumah

Apapun alasan orangtua melakukan homeschooling, semuanya adalah sah sebagai usaha orangtua memberikan pendidikan terbaik untuk anak-anaknya. Homeschooling itu legal dan dijamin Undang-undang tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Yang perlu disadari orangtua, menjalani homeschooling tak bisa begitu saja meng-copy proses yang terjadi di sekolah. Meniru secara persis sekolah dan kemudian dipraktekkan di rumah memiliki kegagalan sangat tinggi karena rumah berbeda dari sekolah.

Yang pertama, semua interaksi yang terjadi di rumah berlangsung secara informal. Komunikasi antara orangtua dan anak berlangsung secara informal dan kasual, berbeda dengan komunikasi antara guru dan murid yang bersifat formal. Oleh karenanya, pendekatan komunikasi dalam proses belajar pun berbeda.

Yang kedua, orangtua berbeda dari guru. Walaupun salah satu fungsi orangtua dalam homeschooling adalah menjadi guru (sumber ilmu), tetapi fungsi terbesarnya bukan di sana. Sumber ilmu bisa diperoleh dari mana saja. Fungsi utama orangtua dalam homeschooling adalah menjadi inspirator, motivator, dan manajer kegiatan belajar anak. Atau, secara sederhana fungsi orangtua adalah mirip kepala sekolah.

Yang ketiga, sarana di rumah tak sama dengan sekolah. Pengaturan ruang-ruang di rumah pun berbeda dengan sekolah. Oleh karena itu, belajar dalam homeschooling sering mengambil bentuk-bentuk yang berbeda dengan menggunakan keseharian dan berbagai sarana yang ada di dunia nyata (masyarakat).

Yang keempat, model homeschooling itu sangat banyak. Model homeschooling tak hanya mengadaptasi sekolah. Di sinilah peran besar orangtua untuk belajar mengenai homeschooling.


Membangun budaya belajar baru

Nah, karena setting homeschooling berbeda dari sekolah, maka diperlukan usaha orangtua untuk menjembatani perbedaan mindset dan budaya dari sekolah ke homeschooling.

Dalam homeschooling, sebagian besar proses belajar yang alami memanfaatkan keadaan anak, baik minat, pola kegiatan, gaya belajarnya, dan lain-lain. Proses belajar akan efektif jika berangkat dari anak, baik karena kebutuhan atau kesukaan. Keaktifan dan inisiatif anak memiliki peran yang sangat penting dalam proses homeschooling.

Di sinilah titik krusialnya.

Budaya belajar dalam homeschooling berbeda dengan sekolah. Di sekolah, hal terpenting adalah anak berangkat ke sekolah dan masuk kelas. Semua materi dan proses belajar sudah ditentukan oleh sistem. Jadwal belajar sudah dipastikan. Proses belajar diinisiasi oleh guru. Anak tinggal pasif dan menjalani saja apa-apa yang dikatakan oleh guru.

Kalau proses seperti sekolah ini diadaptasi ke rumah, prosesnya akan sangat berat sekali bagi orangtua. Orangtua harus menjadi pusat belajar. Orangtua setiap kali harus menyuruh anak belajar. Sementara, anak hanya bersikap pasif dan menunggu perintah orangtua untuk belajar. Belajar tak dirasakan sebagai tanggung jawab, apalagi kebutuhan anak karena mindset-nya seperti sekolah.

Sekali lagi, tantangan dalam peralihan dari sekolah ke homeschooling adalah mengubah mindset orangtua tentang belajar. Belajar bukan hanya tentang mata pelajaran. Yang diharapkan aktif lebih banyak adalah anak. Peran orangtua adalah memfasilitasi kebutuhan dan proses belajar anak.

Proses peralihan ini biasa disebut “deschooling”, yang tujuan besarnya adalah membangkitkan kembali minat belajar yang alami pada anak. Orangtua perlu belajar dan mencari pengetahuan tentang “deschooling”.

***

Untuk lebih detil, Anda bisa melakukan googling tentang “deschooling” atau mengikuti Webinar Homeschooling Rumah Inspirasi.

Salam,
Aar+Lala

Tulisan menarik lainnya

– WEBINAR –

Dalam proses pengasuhan, ada aspek-aspek keterampilan dasar yang krusial dan perlu dikembangkan pada anak. Jika anak memiliki keterampilan-keterampilan dasar ini, proses pengembangan mereka saat remaja akan menjadi lebih mudah dilakukan.

Webinar ini membahaskan 10 keterampilan dasar yang perlu dan bisa dikembangkan di rumah untuk anak-anaknya.

10 Keterampilan yang akan dibahaskan dalam webinar

MENJAGA KESEHATAN & KESELAMATAN

  • Pola makan
  • pola tidur
  • pola aktivitas sehat,
  • berenang
  • bela diri
  • pertolongan pertama (P3K)

LITERASI

  • Membaca dan mengerti
  • Membaca petunjuk
  • Membaca resep
  • Membaca rambu lalu lintas
  • Membaca tabel

MENGURUS DIRI SENDIRI​

  • Mengatur waktu
  • Membuat rencana
  • Menepati rencana
  • Mengetahui baik-buruk
  • Mengambil keputusan

BERKOMUNIKASI

  • Mengajukan pertanyaan
  • Mengobrol
  • Berkenalan dengan orang baru
  • Memberi & menerima feedback
  • Mengapresiasi
  • Bernegosiasi

MELAYANI

  • Mengerjakan pekerjaan rumah
  • Berkontribusi di keluarga
  • Berkontribusi di Lingkungan
  • Berkontribusi di sosial.

MENGHASILKAN MAKAN

  • Bercocok tanam
  • Berbelanja
  • Mengolah bahan pangan
  • Memasak
  • Menata masakan

PERJALANAN MANDIRI

  • Naik sepeda
  • Kendaraan umum
  • Membaca peta
  • Bisa pergi ke manapun dan kembali ke tempat asal

MEMAKAI TEKNOLOGI

  • Memakai gadget
  • Mengenal batas hukum & etik
  • Menghindari kecanduan
  • Menggunakan secara produktif

TRANSAKSI KEUANGAN

  • Belanja
  • Mendapat penghasilan
  • Menabung
  • Berinvestasi
  • Transaksi dalam sistem keuangan

BEKERJA

  • Menghasilkan karya
  • Membuat output (tulisan, lagu, musik, cerita/presentasi, video, animasi, dll) sesuai minat & kemampuan

Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on print
Share on email

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.