Ruang Belajar dan Ruang Bermain

Batasan antara belajar dan bermain sesungguhnya sangat tipis. Apalagi pada anak-anak. Mereka relatif tidak mengenal batasan itu. Yang penting menyenangkan, maka itulah yang mereka pilih dan sukai.

Belajar itu selalu serius?
Banyak orangtua mendefinisikan bahwa kegiatan belajar adalah sesuatu yang dilakukan dengan serius. Prosesnya dilakukan dengan duduk-diam-mendengarkan, berfikir keras, menggunakan buku, tentang mata pelajaran, dan sejenisnya. Semakin sulit dan susah anak, berarti semakin tinggi kualitas proses belajarnya. Itulah pengertian tentang belajar yang sering didefinisikan orangtua, sadar atau tidak sadar, diucapkan atau tidak.

Sementara itu, kalau tidak berkaitan dengan pelajaran, orangtua sering menyebutnya sebagai kegiatan bermain. Lebih jauh lagi, kalau sebuah kegiatan dilakukan dengan tertawa-tawa, tidak serius, atau permainan, kegiatan itu tak lagi disebut sebagai belajar.

 

Kasta kegiatan
Dengan menyebutkan sebuah kegiatan sebagai bermain, bukan belajar, secara mental orangtua seolah sedang membuat “kasta” atau peringkat kemuliaan kegiatan. Bermain adalah sebuah sebutan untuk kegiatan yang kualitas atau “kasta”-nya lebih rendah daripada belajar. Bermain adalah sebuah kegiatan tidak penting, tidak serius, tidak prioritas dan buang-buang waktu.

Karena pembagian yang terlalu ketat antara belajar dan bermain, orangtua sering merasa bermasalah ketika melihat anaknya bermain. Orangtua belum merasa tenang ketika anaknya belum “belajar”. Dan sebaliknya, orangtua tak peduli tentang apapun yang kegiatan yang dilakukan anak pada saat bermain.

Kalau anak sedang membaca buku sejarah atau melakukan percobaan IPA, maka itu disebut belajar. Kalau anak mengerjakan lembar kerja (worksheet), maka itu disebut belajar.

***

Pada anak-anak, batasan dan pembagian sebagaimana yang ada di benak orangtua itu belum ada. Mereka melakukan segala kegiatan yang menyenangkan dan disukainya, tak peduli dengan muatannya.

Jika kita -orangtua- ingin menghadirkan proses belajar yang menyenangkan buat anak-anak, penting untuk melakukan hal-hal sebagai berikut:

* Ubah mindset tentang belajar harus serius
Belajar bisa mengambil bentuk bermain dan menyenangkan. Orangtua harus mengubah dan memperluas mindset-nya tentang belajar.

Perhatikan sudut pandang anak
Masukkan sudut pandang anak dalam proses belajar. Pertimbangkan kepentingan mereka, bukan hanya kepentingan kita sebagai orangtua.

* Cairkan batasan antara belajar dan bermain
Kalau batasan antara belajar dan bermain bisa dicairkan, kita akan bisa mendapatkan ide-ide untuk membuat kegiatan belajar menjadi seperti permainan karena dilangsungkan dengan menyenangkan. Demikian juga, kegiatan bermain bisa menjadi berkualitas karena mendapat pengayaan.

* Ganti istilah belajar dengan bermain
Menggunakan istilah yang tepat sering bisa menjadi alat bantu untuk mendorong pikiran ke arah tertentu. Supaya belajar menyenangkan, gunakan istilah yang tepat yang menggerakkan anak.

Sebagai contoh, orangtua sering beranggapan bahwa kegiatan menulis adalah belajar, tetapi kegiatan menggambar adalah bermain. Istilah menulis dan menggambar telah menciptakan persepsi tertentu di benak orangtua dan anak-anak. Anak-anak menyukai menggambar karena itu adalah kegiatan yang menyenangkan, sementara orangtua ingin anaknya belajar menulis.

Dengan sedikit menyebut menulis sebagai kegiatan menggambar, “mental block” itu bisa dihilangkan. Kegiatan anak adalah menggambar, tetapi yang digambarnya adalah huruf dengan berbagai ornamen yang tetap memberikan ruang kreasi bagi anak-anak.

***

Menggeser istilah, menggeser persepsi, menggeser sudut pandang kelihatannya hal yang sederhana, tapi dampaknya bisa luar biasa.

Tulisan menarik lainnya

– WEBINAR –

Dalam proses pengasuhan, ada aspek-aspek keterampilan dasar yang krusial dan perlu dikembangkan pada anak. Jika anak memiliki keterampilan-keterampilan dasar ini, proses pengembangan mereka saat remaja akan menjadi lebih mudah dilakukan.

Webinar ini membahaskan 10 keterampilan dasar yang perlu dan bisa dikembangkan di rumah untuk anak-anaknya.

10 Keterampilan yang akan dibahaskan dalam webinar

MENJAGA KESEHATAN & KESELAMATAN

  • Pola makan
  • pola tidur
  • pola aktivitas sehat,
  • berenang
  • bela diri
  • pertolongan pertama (P3K)

LITERASI

  • Membaca dan mengerti
  • Membaca petunjuk
  • Membaca resep
  • Membaca rambu lalu lintas
  • Membaca tabel

MENGURUS DIRI SENDIRI​

  • Mengatur waktu
  • Membuat rencana
  • Menepati rencana
  • Mengetahui baik-buruk
  • Mengambil keputusan

BERKOMUNIKASI

  • Mengajukan pertanyaan
  • Mengobrol
  • Berkenalan dengan orang baru
  • Memberi & menerima feedback
  • Mengapresiasi
  • Bernegosiasi

MELAYANI

  • Mengerjakan pekerjaan rumah
  • Berkontribusi di keluarga
  • Berkontribusi di Lingkungan
  • Berkontribusi di sosial.

MENGHASILKAN MAKAN

  • Bercocok tanam
  • Berbelanja
  • Mengolah bahan pangan
  • Memasak
  • Menata masakan

PERJALANAN MANDIRI

  • Naik sepeda
  • Kendaraan umum
  • Membaca peta
  • Bisa pergi ke manapun dan kembali ke tempat asal

MEMAKAI TEKNOLOGI

  • Memakai gadget
  • Mengenal batas hukum & etik
  • Menghindari kecanduan
  • Menggunakan secara produktif

TRANSAKSI KEUANGAN

  • Belanja
  • Mendapat penghasilan
  • Menabung
  • Berinvestasi
  • Transaksi dalam sistem keuangan

BEKERJA

  • Menghasilkan karya
  • Membuat output (tulisan, lagu, musik, cerita/presentasi, video, animasi, dll) sesuai minat & kemampuan

Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on print
Share on email

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.