fbpx

Dunia tanpa Sekolah

Pagi tadi aku menghidupkan komputer. Dari membaca feed Facebook Lala yang otomatis terkoneksi di browser, aku mendapati status tentang buku “Dunia tanpa Sekolah” yang dibuat mbak Andini Rizky. Jadi pengin tahu isi buku itu.

Dari status itu, aku googling dan mendapatkan versi digital dari buku “Dunia tanpa Sekolah” di Google Books. Walaupun tidak lengkap, materi ini lumayan untuk menjadi pengantar sebelum membaca versi cetakannya.

**

Buku ini berisi kisah seorang remaja bernama Izza (Muhammad Izza Ahsin Sidqi) yang memutuskan keluar dari sekolahnya di tingkat SMP. Izza tinggal di Salatiga, sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Kedua orangtuanya adalah guru.

Kesan pertama yang aku rasakan ketika mulai membaca pengantar buku ini adalah sebuah sebuah kejujuran dan keberanian. Kejujuran memotret konflik keluarga dan menceritakan dilema sebagai orangtua. Dan yang pasti, keberanian dari Izza untuk keluar dari sekolah untuk menjadi penulis, yang akhirnya didukung oleh orangtuanya yang adalah para guru sekolah.

**

Buku ini, bagiku, memiliki energi besar untuk memberikan inspirasi bagi siapapun yang ingin mewujudkan gagasan pencerahan pendidikan. Problemnya bukan di tataran teoritis atau pemahaman. Tetapi, problem sesungguhnya adalah apakah seseorang berani menjalaninya secara pribadi dan sosial.

Menjalani sebuah gagasan secara pribadi adalah meresikokan diri, dan itu adalah pembuktikan yang sejati tentang keyakinan seseorang pada sebuah gagasan. Sementara, menjalani secara sosial adalah kemampuan untuk melampaui tekanan sosial untuk bersikap konformis, yang terbukti sering menjadi penghambat keberanian seseorang untuk melakukan inovasi sosial.

Menarik membaca penggambaran Ayah Izza yang merasa sebagai guru yang berwawasan luas ketika menghadapi realitas bahwa anaknya (Izza) ingin meninggalkan sekolah.

“.. saya marah karena anak saya ingin meninggalkan sekolah. Padahal, dia keluar dari lembaga yang saya prihatinkan dan saya ragukan bisa membawa siswanya menuju kesuksesan hidup. Ini memang aneh. Aneh bin ajaib. Mengapa saya tetap percaya pada sekolah yang sekarang ini sedang saya kritik habis-habisan? Kenapa saya marah sekaligus galau, seolah anak saya tidak memiliki masa depan kalau dia keluar dari sekolah? Berbulan-bulan lamanya, saya diliputi kegundahan dan kemarahan. Rumah jadi neraka. Perdebatan dan neraka memenuhi hari-hari kami selama bulan-bulan itu..”

Ya… pengetahuan dan sesuatu yang menjadi diri memang berbeda. Sering, kita sudah merasa “menjadi”, hanya karena kita mengetahui dan meyakini sesuatu.  Tetapi, sesungguhnya ada jurang yang halus tapi sangat lebar antara mengetahui/meyakini dan menjadi diri. Ketika kita berbenturan dengan realitas yang mengusik “kepentingan” pribadi, kita akan mengetahui apakah sesuatu itu hanya sekedar pengetahuan/keyakinan atau sudah menjadi diri kita.

**

Bagi keluarga yang tertarik dengan gagasan homeschooling dan ingin menerapkannya, buku “Dunia Tanpa Sekolah” ini patut dijadikan referensi untuk menambah kesiapan hati.

6 thoughts on “Dunia tanpa Sekolah”

  1. Sebagai seorang guru/dosen, saya juga merasa lembaga sekolah itu memprihatinkan dan juga meragukan lembaga tersebut membawa kesuksesan hidup untuk anak didiknya.

    Tapi ya itu, saya masih bergumul utk mengalahkan keegoisan diri dan memutuskan homeschooling saja. Ternyata, nggak mudah ya utk jujur dan benar-benar memberikan yang “terbaik” utk anak? 🙂

  2. saya jg seorang praktisi, dan jg merasakan bahwa dunia pddk saat ini “tidak mampu” menjembatani masa depan anak2 saya, rencana HS yang saya jalani belum mampu saya aplikasikan dengan maksimal sehingga masih berjalan apa adanya. Yg menjadi masalah ,putri saya yg kls 1 smp belum berkeinginan untuk HS. Apa ada hal2 yg bisa sy jadikan pedoman untuk memberi wawasan pd dia? Mgkin ada yg bisa membantu saya.

  3. alexander christian

    Setiap anak memiliki keunikan sendiri. memiliki bakat dan minat yang berbeda-beda.
    kurikulum sekolah seringkali memenjarakan mereka dengan mencekoki hal-hal yang menurut mereka tidak penting atau tidak perlu dipelajari. (bahkan mungkin guru yang mengajar bidang studi itu bisa jadi juga menganggapnya tidak penting).
    sementara lingkungan sosial masih banyak yang beranggapan kuat bahwa prestasi sekolah identik dengan kesuksesan.
    saya sangat tertarik dengan hal-hal yang ada di rumahinspirasi.com
    saya berencana mendidik anak dengan metode HS.
    saya melihat anak saya sangat tersiksa saat sekolah.
    tolong Pak Aar membantu saya dengan apa yang perlu saya ketahui dan saya kerjakan dalam menerapkan metode HS.
    terimakasih.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.