Percobaan Lada Berlarian

Membangun Alat untuk Refleksi

Kereta api kakak untuk adik

Apakah kegiatan anak-anak kita berkualitas? Apakah proses belajar anak-anak efektif? Apakah kegiatan anak-anak cukup variatif? Apakah anak-anak “on track”?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu pasti terlintas di benak orangtua, terutama orangtua anak-anak homeschooling. Tetapi, pertanyaan semacam ini mungkin juga muncul pada orangtua yang anak-anaknya sekolah.

Untuk menjawab pertanyaan itu, kita bisa saja menjawabnya berdasarkan pengamatan sekilas dan menggunakan common sense kita. Tetapi, bukankah akan lebih baik jika jawaban kita berpijak pada fakta dan bukan hanya asumsi kita belaka?

***

Salah satu alat (sederhana) untuk merefleksikan kualitas kegiatan/belajar anak adalah dengan cara mendokumentasikan kegiatan keseharian anak-anak kita. Caranya tak perlu terlalu rumit, bisa dimulai dengan memotret anak-anak saat sedang melakukan kegiatan/belajar.

Itulah gagasan teman-teman dengan kegiatan “Tantangan 30 hari Klub Oase”. Klub Oase mengajak para orangtua untuk sama-sama belajar memotret kegiatan/belajar anak selama 30 hari berturut-turut, mulai tanggal 1 Agustus 2011. Kemudian, hasilnya diupload ke dalam satu album di Facebook.

Panduan selengkapnya mengenai “Tantangan 30 Hari Klub Oase” bisa dibaca di sini.

Diskusi mengenai “Tantangan 30 Hari Klub Oase” di Facebook bisa dibaca di sini.

***

Percobaan Lada Berlarian

Aku suka gagasan mendokumentasikan kegiatan anak ini. Banyak manfaat yang bisa diperoleh orangtua dari kegiatan ini.

a. Membangun proses sadar
Biasanya, kita membiarkan saja anak berkegiatan dan sesekali kita memperhatikannya. Dengan memotret, kita memaksa diri kita untuk secara sadar memperhatikan kegiatan anak dan mencari momen-momen terbaiknya yang bisa difoto. Perubahan dari proses alami/otomatis menjadi proses sadar adalah sebuah lompatan besar dalam proses parenting.

b. Meningkatkan ikatan
Ikatan (connection) adalah kata penting dalam hubungan orangtua dan anak. Ikatan itu terhubung melalui interaksi yang baik antara orangtua-anak. Ketika proses memperhatikan anak dengan sadar itu kita lakukan secara kontinu, kualitas interaksi dan hubungan antara orangtua dan anak pun akan meningkat kualitasnya.

c. Belajar ketrampilan
Memotret kegiatan anak adalah bagian dalam proses belajar membuat dokumentasi. Ini adalah skills, ketrampilan penting orangtua, terutama bagi yang anaknya homeschooling. Dengan sering memotret, membuat kolase foto, kita menjadi tahu dan belajar tentang fotografi, mencari momen, mengolah foto, dsb. Tanpa kita sadari, kemampuan kita akan meningkat selama proses menjalani tantangan ini.

d. Melatih ketekunan
Ketekunan itu perlu dilatih, tak lahir begitu saja. Melakukan kegiatan selama 30 hari berturut-turut adalah sarana yang baik untuk melatih ketekunan kita. Kabar baiknya, kegiatan ini dilakukan oleh banyak orang sehingga kita bisa saling menyemangati dan mencari semangat dari orang lain.

e. Membuat Alat Refleksi
Dengan adanya foto dokumentasi kegiatan anak, kita bisa melakukan refleksi dan evaluasi. O… ternyata ini yang dilakukan anak-anak. Bagian yang ini sudah bagus, bagian yang ini masih kurang. Kegiatannya perlu lebih variatif, kegiatan perlu ditambahkan intensitasnya. Dll.

***

Yuk ikutan kegiatan ini. Ajak juga teman-teman yg lain. Ini akan menjadi proses belajar bersama-sama yang mengasyikkan. Semoga ini bisa menjadi salah satu jalan bagi kita semua untuk #SelamatkanAnakBangsa

Share this post

4 thoughts on “Membangun Alat untuk Refleksi”

  1. mau mencoba ikutan …keren banget nih idenya, jd bs bertukar kegiatan sama teman2 yg laen…makasih ya mbak….

    tapi punten ya, sy msh mencoba utak atik bikin scrab, nanti kl dah bisa dikit, sy coba upload ….*jangan malu ya mbak punya temen gaptek kayak saya inih*

    1. Ayo mbak… ini kesempatan buat belajar bersama-sama. Yg penting tiap hari didokumentasikan dan upload. Sambil jalan, sambil terus belajar. Dibikin asyik aja mbak, kan ini bukan buat lomba, tapi buat proses belajar kita sendiri.. 🙂

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Bagaimana Cara Belajar Anak Homeschooling?

Jangan membayangkan homeschooling hanya dengan mengundang guru privat. Proses belajar dalam homeschooling bisa sangat beragam dan kaya, tergantung pada kreativitas orangtua.

Jika orangtua ingin meningkatkan kualitas homeschooling yang dijalaninya, orangtua perlu meningkatkan kapasitas diri agar anak-anak tidak hanya belajar untuk lulus ujian, tidak hanya belajar berbasis mata pelajaran, tidak hanya belajar dengan mendengarkan ceramah dan latihan soal.

Serial webinar ini akan membahaskan tentang strategi pembelajaran berbasis dunia nyata dan keseharian. Strategi pembelajaran ini bukan hanya penting untuk meningkatkan kualitas pendidikan anak-anak, tetapi juga meningkatkan kepercayaan diri orangtua dan kapasitas keterampilan orangtua sebagai fasilitator dalam proses belajar anak.

Materi yang dibahaskan dalam webinar ini untuk anak beragam usia dari anak usia pra-sekolah hingga SMA.