Tips mengenali jenis kecerdasan anak

Kecerdasan Majemuk

Di dalam teori Multiple Intelligences atau ย Kecerdasan Majemuk, dijelaskan bahwa kecerdasan itu tak hanya meliputi kecerdasan logis-matematis atau kecerdasan bahasa saja. Tetapi, banyak ragam lain kecerdasan yang mungkin dimiliki oleh anak.

Bagaimana mengenali jenis-jenis kecerdasan yang dimiliki anak kita?

Ada 2 cara mengenali jenis kecerdasan anak secara sederhana melalui pengamatan yang bisa dilakukan oleh orangtua/guru.

Apa bentuk/ekspresi “kenakalan” anak?
Kenakalan anak pada dasarnya adalah ekspresi pemberontakan yang dilakukannya ketika mereka merasa bosan/jenuh atau tidak nyaman dengan keadaan yang dialaminya. Ekspresi ini beragam pada setiap anak, sesuai dengan kecenderungan natural yang paling mencolok dalam dirinya.

Ada anak yang mengekspresikan pemberontakannya dengan asyik mengobrol dengan temannya (interpersonal), ada yang berlari-lari (fisik-kinestetis), ada yang mencoret-coret, ada yang melamun dan berkhayal, dan sebagainya.

Bagaimana anak mengisi waktu luang mereka?
Ketika anak diberi kebebasan untuk melakukan sesuatu tanpa sebuah perintah/tekanan, apa pilihan yang mereka lakukan? Itulah cermin dari hal-hal yang disukai dan menjadi minat alamiah anak. Dan dimungkinkan, itu merupakan salah satu jenis kecerdasan yang meonjol pada anak.

Ada anak-anak yang mengisi waktu luang dengan mendengarkan musik, membaca, menulis, olahraga, jalan-jalan, dan sebagainya.

Sederhana, kan? Mudah, murah dan cenderung efektif. Semua orangtua pasti bisa melakukannya di rumah.

Tulisan menarik lainnya

About Aar

Aar senang membaca, suka menulis, berbahagia saat berbagi dan bermain bersama anak-anak. Minat utama tentang pendidikan, anak, teknologi, spiritualitas, bisnis, dan apa saja yang membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik. Buku yang telah diterbitkan "Homeschooling Lompatan Cara Belajar" (Elex Media, 2007), "Warna-warni Homeschooling" (Elex Media, 2008).

Komentar

  1. utk mengisi waktu luang :
    jika anak lebih sering mengisinya dengan bermain game di komputer/laptop. apakah termasuk kecerdasan?
    walau jika dibandingkan dgn “saya” misalnya sebgai orang dewasa, kadang sama sekali tidak mengerti alur game yg sedang dimainkan. krn sebelumnya kami memberi batasan game yg boleh dan tidak.
    terutama utk game petualangan, dan kayaknya alurnya lama dan membosanka, itu pun bsia dilalui sampai beberapa level.
    dan jika ada game baru dan menarik, akan terus penasaran sampai bisa tamat level akhir. dan jika suka, tidak akan bosan utk kembali ke level awal.

    sekedar tambahan, ketika anak sulung saya itu umur baru 3 tahun, sudah bsia mengubah screen server sendiri, tanpa kami ajari . dan hanya melihat bapaknya saja.

    apakah ini termasuk bakat dan minat?
    saya bingung sekali harus mengarahkannya bagaimana, karena di presepsi saya game masih tidak baik utnuk anak. dan game maker bukanlah pekerjaan yg mulia.

    utk tambahan info :
    anak sy ini suka main lego, origami : bisa menciptakan bentuk sendiri dg rumit dan menikmatinya. suka menggambar dan bsia menggambar detil seperti kartunis.

    sy ingin sekali bisa mnegarahkan bakatnya dari kecil. ataukah harus menunggu beberapa tahun lagi, sampai minatnya benar2 terlihat?

    trima kasih atas responnya ya pak dan bu,

  2. Dari yg saya ketahui, proses pengenalan jenis-jenis kecerdasan itu berlangsung terus sepanjang proses belajar anak. Yang bisa kita lakukan sbg orangtua adalah memberikan stimulus agar potensi-potensi itu keluar, bukan hanya fokus pada satu jenis kecerdasan, tetapi juga memperkayanya dengan pengalaman-pengalaman yg beragam.

    Proses itu berlangsung terus (sesuai usianya), tak perlu ditunda. Yg penting jangan hanya bersandar/berpegangan pada satu jenis stimulus saja.

    Dlm pemilihan game, setiap klg tentu memiliki kebijakan masing2. Jika orgtua dapat memanfaatkan game utk proses belajar, itu adl hal yg luar biasa: orgtua bahagia, anak jg senang.

    Belajar yg efektif itu adalah melalui hal2 yg disukai anak, bukan dari apa-apa yg dianggap baik orgtua. Jika ada hal2 yg dianggap baik dan penting orgtua, tinggal diintegrasikan ke dalam hal2 yg disukai anak.

    Kuncinya adalah orangtua terlibat/menyelami apa yg dilakukan/disukai anak, bukan hanya menjadi pengamat. Dg demikian, orangtua bisa meningkatkan kualitas kegiatan anak dari hal yg biasa menjadi pembelajaran yg luar biasa.

    Game maker? Why not? Pembuat aplikasi pendidikan atau edugames adalah sebuah profesi langka yg memberikan manfaat kepada banyak orang. Games hanyalah alat/tools, yg penting adalah nilai2 yg tertanam pd anak mengenai apa yg penting/benar/baik yg menjadi panduan mereka ketika memilih/bertindak.

    Semoga memberikan inspirasi. Mohon maaf jika ada yg kurang berkenan. ๐Ÿ™‚

  3. wah, terima kasih sekali atas masukannya. sama sekali tidak ada yg tidak berkenan di hati saya ๐Ÿ™‚

    semuanya berkenan :)))

    terlibat dalam kegiatan anak [terutama game] sangat jarang sy lakukan, karena pada dasarnya sya dan suami tidak suka main game. mgkn juga efek asuh ortu dulu yg benar2 menganggap bermain adalah dosa besar.

    kadang di hati kecil saya, masih berperang dgn pembandingan terhadap diri saya di masa kecil. yg relatif bsia melakukan sendiri, atau terpaksa melakukan sendiri apa2 yg harus sy pelajari/kerjakan, karena saudara banyak – 8 orang.

    akhirnya, mungkin, kebutuhan anak akan pendampingan masih kurang saya penuhi. bahkan beberapa kali, sy anggap anak bisa benar2 lepas tanpa pendampingan, melainkan hanya saya arahkan dan amati dari jauh, itu ketika anak kelas dua SD.

    dan setelah membaca satu artikel parenting jg dari situs ini, ada faktor pendampingan yg ternyata penting dan lebih baik disesuaikan dg kebutuhan anak,

    jadinya saya sadar, ternyata sy menetapkan jadwal sendiri, bukan berdasar kebutuhan anak.

    point of view yg disampaikan ttg game maker, sangat mencerahkan saya.

    ketakutan bahwa nanti sy keliru mengarahkan terjawab sudah.

    terima kasih atas inti yg diberikan : bahwa hal yg baik menurut ortu, diintegrasikan dg kesukaan anak. dan saya yakin anak sy pun lega mendengar hal ini.

    karena :
    beberapa saat yg lalu, sy sering bicara pada anak : jangan hanya main game dong, bikin juga. lalu terbitlah minatnya untuk membuat game ,salah satunya dgn ingin dikursuskan animasi, atau diberi softwarenya. tapi hal ini belum bisa saya penuhi,software belum nemu, spek komputer belum sesuai, jg kalau kursus jauh sekali, sementara dia masih kecil.

    lalu saya relatif melonggarkan kesukaannya main game. benar2 game, bukan edugame, dgn syarat tdk kejam dan malu [cenderung porno walau dari baju saja]

    tetapi sy amati, seepertinya kelonggaran bermain game ini tak akan bisa memuaskan anak sy. selesai satunya, ingin satunya lagi,.

    sy pun takut dia kecanduan.

    maka dari itu, konsep lebih baik jadi game maker, secepatnya saya ubah.

    akhirnya, ketika ngobrol2 lagi, saya bilangnya begini : “udahlah mas, jangan jadi game maker ya cita2nya, soalnya kan bukan perbuatan mulia. nanti kamu bikin anak2 jadi lupa belajar, karena main game, kayak kamu itu, ya kan?”

    anak sempat berdebat sih, lalu kami, memberi vonis, main game dan main bola itu hobi, bukan cita2.

    saya salah ya ttg hal ini?

    dan apakah perlu kita perhatikan ini, maksudnya, ketika anak menuliskan cita2 sbg pemain bola atau game maker, apakah ini sudah perlu dianggap dan diarahkan? atau hanya sekedar tulisan di masa kecil saja?

    kenapa sy memikirkan hal ini?
    karena, beberapa kali sy membaca Cara melejitkan potensi unggul anak, atau menemukannya sejak dini [seperti tulisan Ayah Edy]. yg menunjukkan metode, dari kecil misalanya kelihatan bakat tenis, maka sejak itulah tenis saja yg difokuskan dan akhirnya jadi atlet dunia.

    nah lho, anak sy kan sukanya, game, gambar, lego, lalu bagaimana sy mengarahkannya?

  4. wah mbak Lala, dan mas Aar,
    anak sy kasih tahu kalimat,
    “game maker, why not?….” dari mbak, kepada anak saya Aldo, 8 tahun
    dan dia ketawa lebar dan bertoast pada saya,. tapi melenceng jarinya ke hidung saya ๐Ÿ™‚ :mrgreen: ๐Ÿ˜€

  5. Perihal game, orangtua biasanya memiliki 2 kecenderungan ekstrem: melarang (sama sekali) atau membiarkan (bermain sesukanya). Menurut saya, kunci dari menghindarkan kecanduan adalah disiplin. Disiplin itu adalah perihal membuat & memenuhi aturan/kesepakatan; mis: kapan bermain game, berapa lama, apa yg dmainkan.

    Kesukaan anak adalah pertanda baik. Kesukaan ini dapat dimanfaatkan sebagai alat utk motivasi, juga sebagai carrot & stick (hadiah utk usaha/kebajikan yg dilakukan, dicabut utk disinsentif).

    “Jangan jadi game maker krn bisa bikin anak2 lupa belajar”, menurut sy tergantung pengertian belajar. Mungkin kita berbeda dlm hal ini karena menurut kami belajar itu tak hanya mengenai mata pelajaran. Bahkan, to some extent belajar mata pelajaran itu menurut kami tak terlalu penting dibandingkan proses anak belajar tentang kehidupan.

    Mengenai cita2 anak, kalau di dalam pandangan saya, kita sbg orangtua sebaiknya tidak mematahkan apa yg menjadi khayalan/cita2 mereka. Seandainya pun kita tak setuju, biarlah proses yang mereka alami yang akhirnya membuat mereka mengambil keputusan untuk berubah berdasarkan pengalaman/pertimbangan mereka sendiri.

    Lagi pula, anak2 pada umumnya masih pendek jangkauan waktunya. Mereka tak bisa membedakan antara hobi dan cita-cita. Yg mereka tahu adalah mengerjakan sesuatu yg mereka sukai. Semakin besar, mereka akan semakin mengetahui apa yg paling tepat utk dirinya. Melalui sesuatu yg disukai anak itu, org tua dapat memfasilitasinya (jika kondisi memungkinkan).

    Ketika memfasilitasi anak, yg harus dilonggarkan adalah ekspektasi orgtua terhadap hasil. Jika anak kemudian berubah minat, jangan dianggap gagal. Tetapi itu adl bagian dari biaya & proses belajar anak. Anak pasti mendapatkan sesuatu dari proses itu. Setidaknya, dia tahu bhw orgtuanya mendukung dia. Jg, dia kemudian akan lebih berhati2 jika meminta sesuatu (spy tak mengulangi “kegagalan” yg sama).

    ๐Ÿ™‚

  6. masukan dari pak Aar diatas-lah yg selama ini saya cari referensinya.
    terima kasih untuk kesediaannya menjawab dan merespon komentar saya.

    memang, saya tidak penuh melakukan HE utk anak2 saya, karena berbagai sebab. namun masukan dan konsep pembelajaran dari orang tua HE yang kebetulan jadi teman baru saya di fb, benar2 memperbaiki cara pandang sy pada proses belajar mengajar. walau prakteknya benar2 saya ngaku “kalah” ๐Ÿ™‚

    jadi sekali lagi, senang kiranya jika ketidak tahuan saya mendapatkan tempat untuk bertanya.

    terima kasih pak Aar dan mbak Lala. semoga bisa dimudahkan jalannya utk menyebarkan informasi seputar parenting sehat, HE dll, pada semua kalangan ortu, baik yg anaknya HS ataupun sekolah seperti keluarga saya ๐Ÿ˜€

  7. mas Aar dan mbak Lala. bener2 memberi pndangan baru dan menambah dari yang pernah saya tahu atau pelajari sebelumnya.
    situs ini bakal jadi bacaan wajib saya niih. dan tambah senang krn bisa diskusi juga.
    Terima kasih mas dan mbak..terus semangat menebar dan share ilmu yaa

  8. atiehirosmother says:

    Wah menarik sekali mengikuti artikel dn komentarnya dsni. Sy juga orgtua yg ingn skli bs mengasah, menstimuli dn mengarahkan potensi anak sy. Tp sy msh blm paham bgaimana. Anak sya 2tahun9bln, sgt mnyukai lego dan berimajinasi spt main masak2an, jual2an, nyupir mobil (dari bantal dkasur yg disusun2 lalu dia duduk dtgahnya spt supir, gulingnya jdi pintu mobil), anak sy jg suka brnyanyi dn cpt menghafal lagu2 (sy suka brnyanyi utknya),jga cpt menghfal koskata dlm bhs inggris (ini sy yg mengarahkan). Dulu anak sy suka skli memanjat dan pandai salto tp krn sy khwtr jd sy larang, skr sdh tdk prnh lgi.belakangn sy tau itu bagian dri kecerdasan kinestetik? Bgaimana y sy hrs mengarahkannya? Terimasih ats msukannya.

  9. bagaimana caranya menjadi anggota bentang ilmu?

  10. Emri legina says:

    Wah sangat menarik ya Mas aar Dan Mba Layla metode Nya cuman yg aq pengen tanyain anak ku 4 tahun 1 bulan dia suka main game perang trus Kadang Klo bosen dia suka main sendirian seolah Dia lg main perang ma temen khayalanya dia masih menolak sekolah Tp berhitung hapal in lagu sama warna dia Udah tau Lego juga Kadang main menyusun mainan dengan warna dia Sangat cepat Gimana ya Mba Lala dan Mas aar terima kasih

  11. Anak saya sekarang berusia 5 tahun, sudah lihai melakukan salto dan juga gerakan-gerakan bela diri tanpa diajari, tetapi dia sangat penakut untuk ikut kursus bela diri anak . Dia Sangat aktif dan tidak betah diam. Jika disekolah guru sedang mengajar, sering sibuk mainan sendiri.

    Dirumah dia suka merakit Barang-barang bekas untuk Membuat mobi-mobilan, pesawat atau bangunan dengan bantuan ayahnya.

    Mulai bicara usia 1 tahun. Saat usia 1 tahun 4 bulan anak saya sudah bisa memahami cerita dora the eksplorer dan film kartun edukatif lainnya. Ibu-ibu yang lain mengatakan perbendaharaan kata anak saya jauh lebih banyak dari anak sebaiknya. Tetapi setahun ini pelajaran hafalan nya menurun. Sebagai catatan, 1.5 tahun ini anak, saya tinggal tugas belajar di kota lain.

    Kira-kira apa ya bakat anak saya? Dan apakah anak saya memiliki kelebihani kecerdasan tertentu dibanding anak lainnya. Trimakasih sarannya…

    • Bakat berkaitan dengan kemampuan menghasilkan ouput dan kapasitas belajar yg luas & cepat. Karena bakat susah dikenali, sebaiknya orangtua fokus pada usaha memberikan stimulasi pada anak dengan mengekspos anak2 pada berbagai kegiatan dan berbagai jenis kecerdasan.

  12. anak laki-laki saya usia 8 th kelas 3 sd, permasalahannya dia susah sekali klo disuruh belajar apalagi mengerjakan tugas sekolah, nilai2nya pun biasa saja padahal sudah dikasih les tambahan oleh guru kelas dan les diluar sekolah, agak cuek masalah pelajaran sekolah, tetapi klo masalah menyusun lego ataupun robot2 atau pizzel yg berbentuk bangunan gedung atau alat transportasi dia sangat bersemangat dan hasilnya bagus, pernah satu kali dia bisa menyusun tempat tidur rakitan yg oleh tukang susah dirakit tetapi dia bisa menyelesaikan dengan waktu yang singka ( dengan instruksi, dan tukang yang mengerjakan ), dia juga pandai berenang dan jiwa sosialnya tinggi terhadap teman2nya suka berbagi…., bagaimana ya caranya supaya dia mau care terhadap pelajaran?

    • Salah satu masalah persekolah saat ini adalah materi belajar yang kurang relevan dengan kehidupan anak sehingga anak tidak tertarik untuk mempelajarinya. Anak tidak cukup dileskan dan dipaksa untuk belajar. Tantangannya adalah orangtua membantu anak dengan melihat materi yang harus dipelajarinya dan memberi makna sehingga relevan dengan keseharian anak-anak

Tinggalkan komentar Anda

*

Close