Tata-Seterika

Tata belajar menyeterika

Selalu ada langkah pertama untuk memulai… apapun. Langkah pertama hampir selalu tidak sempurna. Tapi langkah pertama itu harus dilakukan.

Mengapa?

Karena tanpa langkah pertama, tak ada langkah kedua dan seterusnya. Tanpa sebuah langkah, semuanya hanya menjadi pengetahuan dan wawasan.

Dramatis banget ya? hehehe… Padahal ini urusannya hanya tentang seterika.

Tata-Seterika
Membangun nilai-nilai pelayanan

Salah satu nilai yang kami bangun di keluarga adalah melayani. Anak-anak belajar keluar dari kepentingan pribadi dan egonya melalui proses melayani orang lain.

Untuk menuju ke tujuan besar itu, kami memulainya melalui kegiatan di rumah sehari-hari. Kami menekankan pada anak-anak untuk saling tolong dan membantu. Anak-anak belajar melakukan pekerjaan rumah karena itu adalah salah satu bentuk pelayanan kepada keluarga.

Yudhis bertugas menyapu dan mengepel lantai, sesekali menyeterika. Tata bertugas menata meja makan. Duta belum ada tugas, tetapi dia berusaha kami latih untuk merapikan mainannya dan sesekali membantu mengurusi pakaian kotor.

Menyeterika = keterampilan & kelapangan hati

Hari ini, Tata belajar menyeterika. Ini adalah pengalaman pertama Tata menyeterika. Tangannya masih kaku memegang seterika, tapi dia terus memulainya.

Di hari pertama ini, Tata hanya belajar menyeterika sarung bantal & guling, handuk, dan beberapa pakaian kecil yang mudah. At least, dia mulai melakukannya.

Bagi kami, melakukan pekerjaan rumah adalah salah satu keterampilan yang menjadi “mata pelajaran” dalam homeschooling kami. Melakukan pekerjaan rumah adalah pelajaran yang melibatkan hati dan keterampilan tangan.

Anak-anak belajar tidak mengeluh, tapi lapang hati melakukannya. Mereka belajar untuk menghadirkan hati saat melakukan pekerjaan, bukan hanya asal mengerjakan saja. Ini adalah pelajaran meditasi dan spiritualitas dalam bentuk yang nyata bagi mereka.

Dari sisi keterampilan, melakukan pekerjaan rumah membuat tangan mereka terampil. Mereka menjadi lebih mandiri. Mereka juga lebih menghargai orang lain. Mereka tak lagi “taken for granted” atas hal-hal yang biasanya mereka terima (mis: pakaian bersih dan rapi).

Dengan merasakan sendiri susahnya menyeterika, Tata menjadi lebih hati-hati saat mengatur pakaian di lemari.

***

Hal-hal semacam ini mungkin dianggap kecil dan sepele dalam proses belajar pada umumnya. Tak apa-apa. Bagi kami, yang penting hal-hal seperti ini bisa meningkatkan kualitas pribadi anak-anak.

Tulisan menarik lainnya

Share this post

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Bagaimana Cara Belajar Anak Homeschooling?

Jangan membayangkan homeschooling hanya dengan mengundang guru privat. Proses belajar dalam homeschooling bisa sangat beragam dan kaya, tergantung pada kreativitas orangtua.

Jika orangtua ingin meningkatkan kualitas homeschooling yang dijalaninya, orangtua perlu meningkatkan kapasitas diri agar anak-anak tidak hanya belajar untuk lulus ujian, tidak hanya belajar berbasis mata pelajaran, tidak hanya belajar dengan mendengarkan ceramah dan latihan soal.

Serial webinar ini akan membahaskan tentang strategi pembelajaran berbasis dunia nyata dan keseharian. Strategi pembelajaran ini bukan hanya penting untuk meningkatkan kualitas pendidikan anak-anak, tetapi juga meningkatkan kepercayaan diri orangtua dan kapasitas keterampilan orangtua sebagai fasilitator dalam proses belajar anak.

Materi yang dibahaskan dalam webinar ini untuk anak beragam usia dari anak usia pra-sekolah hingga SMA.