Sosialisasi Anak Homeschooling

Sosialisasi Anak HomeschoolingKemarin ada seseorang yang memberikan komentar (sedikit) negatif tentang sosialisasi anak homeschooling dalam sebuah diskusi terbuka di page facebook serial belajar mandiri. Katanya “dengan anak yang HS sosialisasi jadi kurang sehingga terkesan sombong”.

Sebenarnya komentar seperti ini sih biasa banget untuk orang yang awam dan hanya melihat homeschooling sepintas dari luar. Apalagi setelah dicaritahu lebih jauh ternyata orang yang berkomentar ini adalah seorang guru. Kami (para homeschooler) memang paling banyak menerima tentangan dari kelompok “sekolah” yang merasa memiliki jalan yang lebih baik, lebih teruji dan yang lain dan yang lainnya.

Isu sosialisasi memang suatu hal yang paling sering dijadikan alasan bagi seseorang untuk mendeskriditkan HS. Mungkin karena untuk sebagian besaar orang, anak HS dianggap hanya diperam di rumah dan tidak bisa bersosialisasi. Padahal, kalau kita mau lihat lebih detil lagi, sebenarnya anak yang bersekolah di sekolah publik itu sebenarnya “terkungkung” di dalam sebuah kelas untuk paling tidak 180 hari setiap tahun dengan sedikit kesempatan ter-expose ke tempat-tempat terbuka atau jalan-jalan. Mereka terjebak dalam sebuah grup anak-anak seusia mereka dalam jangka waktu yang lama. Mereka juga terpaksa mengikuti “mainstream”, dan tak memiliki kebebasan untuk berkreasi atau mempelajari apa-apa yang mereka sukai sesuka hati mereka karena terbentur jam sekolah, terikat kurikulum dan aneka kegiatan sekolah.

Dalam kondisi sebaliknya, anak homeschooling justru memiliki kesempatan yang lebih luas untuk dapat menghabiskan waktunya bersosialisasi lintas usia. Sejak awal mereka sudah diajarkan pada dunia yang penuh warna, mereka belajar bagaimana caranya bersosialiasi dengan orang2 yang tidak seumur. Karena pada kenyataannya, kita tidak akan pernah menemukan sebuah pekerjaan yang berisi dengan orang2 sepantar kita, anak2 pun kelak akan harus bekerja dengan orang2 yang lebih tua atau lebih muda dari mereka.

Mereka pun mempunyai waktu lebih banyak untuk mengeksplorasi dirinya, minatnya serta bakatnya di tempat-tempat yang dipilihnya dalam waktu yang ditentukannya sendiri. Kesempatan ini membuat mereka lebih memiliki kesiapan mental menghadapi “dunia nyata”. Mereka pun tak terkungkung dengan “peer pressure” yang terkadang dapat membawa mereka ke dalam hal-hal negatif. Dengan homeschooling, mereka akan lebih banyak belajar dari pengalaman (bukan hanya dari buku/teori), “Hands on experiences”, belajar dari para ahli yang ada di sekitarnya. Karena mereka tidak terikat oleh jadwal, mereka bisa mengikuti aneka grup/club, kursus, kegiatan2 yang mereka sukai yang memberikan mereka kesempatan lebih luas lagi untuk bersosialisasi.

Jadi, isu sosialisasi ini memang sangat tergantung kepada keluarganya. Bukan pada HS atau sekolah. Hasil riset banyak menunjukkan kalau anak HS itu tidak memiliki masalah dengan sosialisasi. sedangkan kalau mengenai kesan, tentu saja setiap orang boleh memiliki kesan tertentu kepada orang lain, asal tak digeneralisir saja. Takutnya nanti tidak fair.. ^_^

Tulisan menarik lainnya

About Lala

Lala suka main musik, main game, main sama anak-anak, bikin-bikin, baca buku, nonton film yang seru, jalan-jalan, internetan dan masak-masak. Salah satu mimpi besarnya adalah menjadikan virtual distance learning bisa dinikmati anak-anak Indonesia sampai ke seluruh plosok tanah air. Lebih lengkap tentang Lala bisa dilihat di sini :D

Komentar

  1. Sebenarnya sayang sekali … kalau guru malah tidak tahu kelemahan sosialisasi di sekolah. Yang menjadi role model bagi anak-anak sekolah adalah sesama anak-anak, bukannya guru yang cuma sendirian menghadapi 46 orang anak, sehingga jelas saja anak-anak menjadi tidak dewasa. Anak-anak sekolah juga cenderung cuma mau bermain dengan orang seumur, akibat pergaulan sehari-hari di sekolah cuma dengan anak seumur. Orang tua yang anaknya sekolah perlu waspada dengan kekurangan sosialisasi di sekolah kalau anaknya cuma mau bergaul dengan ‘yang sepantaran saja’. Dari pengalaman, saya perhatikan anak homeschooling lebih terbuka pada perbedaan daripada anak sekolah.

  2. Ha3, saya baru dengar ini soal anak homeschooling “sosialisasi kurang jadi terkesan sombong”. Biasanya dengernya anak homeschooling “sosialisasi kurang jadi terkesan minder dan pemalu”. Jadi yg benar yg mana? 🙂 Masih bakal bertahan lama lah mitos2 homeschooling seperti ini di masyarakat umum (atau bahkan guru).

  3. Bunda Zia says:

    kyknya asik yah … jd pengen mengenal lbh jauh ttg homeshooling … persiapan buat Keyke … kira2 di semarang ada ga ya ??

    c3

  4. ijin share ya.. thanks !

  5. Mbak, izin share di blog saya ya mengenai semua isu tentang sosialisasi bagi anak homeschooling :).
    Terimakasih sebelumnya

Tinggalkan komentar Anda

*

Close