PenutupanOASEksplorasi02-600px

Refleksi Proses Merancang Boardgame

Banyak hal menarik yang dialami anak-anak sepanjang proses OASEksplorasi 2017. Salah satunya mengenai output personal dan proses presentasi saat penutupan.

Seperti yang dialami Yudhis, yang sejak awal proses OASEksplorasi 2017, merencanakan untuk membuat output boardgame karena dia sedang jatuh cinta dengan dunia boardgame.

Rencana ini membuatnya belajar banyak tentang boardgame design secara otodidak. Dia membuat rancangan konsep, membuat prototype, mencari feedback, membongkar konsep, mencari mekanik baru, dan seterusnya.

Proses merancang boardgame ini dilakukan tanpa keterlibatan kami (orangtuanya) dan mentor OASEksplorasi karena kami tidak memiliki ilmu tentang dunia boardgame design.

Jadilah Yudhis belajar dari para mentor baru, pemain & desainer boardgame. Dia berdiskusi dengan mas Ervan, seorang boardgame enthusiast. Juga berdiskusi dengan mas Dani dan para desainer boardgame yang lain.

Bagaimana hasilnya? Aku tak tahu dan tak bisa memberi penilaian. Yudhis sendiri merasa belum puas dengan karyanya. Tapi kami memang memintanya menutup proyek ini agar dia bisa maju ke proyek pembelajaran berikutnya.

Refleksi proses mendesain boardgame

Yang menarik buatku bukan boardgame-nya, tapi pelajaran yang diperoleh sepanjang petualangan belajar ini.

Saat presentasi di penutupan OASEksplorasi 2017, Yudhis justru menceritakan tentang proses belajar dan sekaligus refleksinya. Dia menyampaikan 3 pelajaran besar yang dianggapnya sebagai kesalahan saat membuat boardgame ini, yaitu: terlalu ambisius dan ekspektasi yang terlalu tinggi untuk boardgame pertamanya, kurang memperhatikan manajemen waktu sehingga kedodoran karena harus bongkar-pasang, serta underestimate kompleksitas dalam proses membuat boardgame terutama detil-detil saat eksekusi hingga menjadi produk akhir.

Buatku, refleksi ini tajam dan berani; apalagi dilakukan secara terbuka dalam presentasi publik. Mudah-mudahan itu menjadi penanda bahwa dia siap selalu mengosongkan isi gelasnya, berani membongkar diri dan siap untuk belajar meningkatkan kualitas dirinya.

Kalau murid sudah siap, semoga gurunya segera tiba.

Berikut ini video presentasi Yudhis yang dibuat oleh mas Dudi Gabriel Mahendra.

Tulisan menarik lainnya

Share this post

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Bagaimana Cara Belajar Anak Homeschooling?

Jangan membayangkan homeschooling hanya dengan mengundang guru privat. Proses belajar dalam homeschooling bisa sangat beragam dan kaya, tergantung pada kreativitas orangtua.

Jika orangtua ingin meningkatkan kualitas homeschooling yang dijalaninya, orangtua perlu meningkatkan kapasitas diri agar anak-anak tidak hanya belajar untuk lulus ujian, tidak hanya belajar berbasis mata pelajaran, tidak hanya belajar dengan mendengarkan ceramah dan latihan soal.

Serial webinar ini akan membahaskan tentang strategi pembelajaran berbasis dunia nyata dan keseharian. Strategi pembelajaran ini bukan hanya penting untuk meningkatkan kualitas pendidikan anak-anak, tetapi juga meningkatkan kepercayaan diri orangtua dan kapasitas keterampilan orangtua sebagai fasilitator dalam proses belajar anak.

Materi yang dibahaskan dalam webinar ini untuk anak beragam usia dari anak usia pra-sekolah hingga SMA.