Ratusan SMA siswanya tak ada yang lulus

sarjanaAda 267 sekolah yang siswanya 100 persen tak lulus ujian nasional SMA 2010. Salah satunya adalah SMA Triwibawa di daerah Sawah Besar Jakarta Pusat yang ceritanya dimuat di Tempo Interaktif .

Menurut salah seorang guru di sekolah itu, tahun ini adalah pertama kalinya 100% dari seluruh siswanya tidak lulus. Dia merasa bahwa para guru sudah berjuang keras. Dan kambing hitamnya adalah kemiskinan, sebuah alasan yang juga dinyatakan oleh SMA Dwisaka yang 41 siswanya tak lulus.

**

Kondisi sebagaimana yang diceritakan para guru itu dapat dipahami dan diempatikan. Siswa yang lemah secara ekonomi, infrastruktur belajar yang minim, kesenjangan kualitas antar sekolah/daerah menjadi isu yang terus dinyatakan.

Menurut pendapat pribadiku, salah satu problem dari pendidikan kita adalah desain besar yang tidak tepat. Semua anak diarahkan untuk masuk ke SMA (umum). Padahal, SMA adalah jenjang bagi mereka untuk melanjutkan ke perguruan tinggi.

Kalau kenyataannya sebagian anak-anak tidak akan melanjutkan ke perguruan tinggi (karena alasan ekonomi), mengapa memilih jalur pendidikan SMA yang tak mengajarkan apapun yang dibutuhkan mereka untuk survive? Mengapa pemerintah memfokuskan pendidikan pada jenjang pendidikan umum yang sebenarnya hanya cocok utk sedikit anak-anak Indonesia?

Mengapa desain pendidikan itu tak berfokus pada pendidikan vokasional saja, sebagaimana Jerman? Jika tak cocok dengan vokasional dan merasa mampu melanjutkan diri ke perguruan tinggi, sisanya baru memilih jalur pendidikan umum.

Jadi, resource terbesar diarahkan untuk pendidikan vokasional yang bisa dilakukan dan bermanfaat bagi sebagian besar anak-anak Indonesia. Sementara perhatian pada pendidikan umum dan perguruan tinggi adalah bagian dari kekhususan untuk meningkatkan standar kualitas bangsa.

What do you think?

Tulisan menarik lainnya

– WEBINAR –

Dalam proses pengasuhan, ada aspek-aspek keterampilan dasar yang krusial dan perlu dikembangkan pada anak. Jika anak memiliki keterampilan-keterampilan dasar ini, proses pengembangan mereka saat remaja akan menjadi lebih mudah dilakukan.

Webinar ini membahaskan 10 keterampilan dasar yang perlu dan bisa dikembangkan di rumah untuk anak-anaknya.

10 Keterampilan yang akan dibahaskan dalam webinar

MENJAGA KESEHATAN & KESELAMATAN

  • Pola makan
  • pola tidur
  • pola aktivitas sehat,
  • berenang
  • bela diri
  • pertolongan pertama (P3K)

LITERASI

  • Membaca dan mengerti
  • Membaca petunjuk
  • Membaca resep
  • Membaca rambu lalu lintas
  • Membaca tabel

MENGURUS DIRI SENDIRI​

  • Mengatur waktu
  • Membuat rencana
  • Menepati rencana
  • Mengetahui baik-buruk
  • Mengambil keputusan

BERKOMUNIKASI

  • Mengajukan pertanyaan
  • Mengobrol
  • Berkenalan dengan orang baru
  • Memberi & menerima feedback
  • Mengapresiasi
  • Bernegosiasi

MELAYANI

  • Mengerjakan pekerjaan rumah
  • Berkontribusi di keluarga
  • Berkontribusi di Lingkungan
  • Berkontribusi di sosial.

MENGHASILKAN MAKAN

  • Bercocok tanam
  • Berbelanja
  • Mengolah bahan pangan
  • Memasak
  • Menata masakan

PERJALANAN MANDIRI

  • Naik sepeda
  • Kendaraan umum
  • Membaca peta
  • Bisa pergi ke manapun dan kembali ke tempat asal

MEMAKAI TEKNOLOGI

  • Memakai gadget
  • Mengenal batas hukum & etik
  • Menghindari kecanduan
  • Menggunakan secara produktif

TRANSAKSI KEUANGAN

  • Belanja
  • Mendapat penghasilan
  • Menabung
  • Berinvestasi
  • Transaksi dalam sistem keuangan

BEKERJA

  • Menghasilkan karya
  • Membuat output (tulisan, lagu, musik, cerita/presentasi, video, animasi, dll) sesuai minat & kemampuan

Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on print
Share on email

1 thought on “Ratusan SMA siswanya tak ada yang lulus”

  1. Saya setuju sekali, anak harusnya diarahkan belajar sesuai bakat dan minatnya bukan karna tuntutan sosial atau pengaruh teman. Seorang keponakan saya mati matian mau masuk smu dengan nilai pas-pasan bahkan kurang, hanya karna temannya masuk smu semua. Padahal dia bakat di bidang musik. Bayangkan kalau bakatnya difasilitasi oleh orang tua, bakal lahir musisi yg hebat, bukannya anak yg stress menghafal pelajaran yang dia tdk mengerti. Tapi sepertinya orang tua berpendapat habis smp HARUS lanjut ke smu??

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.