seminar01

Pertemuan Nasional Pendidikan Alternatif

Akhirnya waktunya sampai juga. Jumat (21/10/2016) akan dimulai kegiatan Pertemuan Nasional Pendidikan Alternatif yang pertama di Sanggar Anak Alam (SALAM), Yogyakarta.

seminar02

Sejak pagi, satu-persatu peserta mulai melakukan registrasi di areal utama yang lokasinya di halaman SALAM yang berada di tengah sawah. Peserta yang hadir dalam kegiatan Pertemuan Nasional Pendidikan Alternatif ini mewakili 88 lembaga dan komunitas dari 31 daerah di Indonesia.

Selain dihadiri peserta dewasa, juga hadir 51 anak yang mewakili lembaga penyelenggara pendidikan alternatif dari berbagai daerah. Anak-anak ini terlibat dalam acara Kongres Anak Merdeka yang merupakan satu kesatuan dengan Pertemuan Nasional Pendidikan Alternatif.

(Sebelumnya: belajar jemparingan, panahan tradisional Jawa)

Seminar Nasional Pendidikan Kritis

Pertemuan Nasional Pendidikan Alternatif dibuka secara simbolik oleh anak-anak peserta Kongres Anak Merdeka karena Dirjen Kebudayaan yang sedianya membuka acara membatalkan kehadiran.

Setelah itu acara dilanjutkan dengan Seminar Pendidikan Kritis yang dilangsungkan 2 sesi. Pada sesi pertama hadir pembicara dari kalangan akademisi, yaitu: Romo Agustinus Setyo Wibowo SJ (STF Driyarkara, Jakarta), Edi Subkhan, S. Pd., M. Pd. (Universitas Negeri Semarang), dan Dr. Siswanto MS EM (Universitas Sarjana Wiyata, Yogyakarta).

seminar01

Makalah dari para pembicara bisa diunduh di sini:

Sementara itu, pada sesi ke-2 menghadirkan para praktisi pendidikan alternatif, yaitu: Gus Irwan Masduqi (Pondok Pesantren as-Salafiyah, Mlangi), Sri Wahyaningsih (Sanggar Anak Alam Yogyakarta), Aripin Ali (Sekolah Hikmah Teladan Bandung).

Acara Seminar Pendidikan Kritis berlangsung hingga sore hari. Malam hari, anak-anak yang menjadi mengisi panggung dengan penampilan mereka. Walaupun baru saling mengenal, anak-anak ternyata sudah mulai bisa berkolaborasi menghasilkan penampilan.

Pindah ke Omah Kebon

Dalam momen yang sibuk seperti hari pertama Pertemuan Nasional Pendidikan Alternatif, yang menantang adalah mengelola kegiatan Duta. Duta masih terlalu kecil untuk mengikuti kegiatan anak-anak seperti yang dilakukan oleh Yudhis & Tata. Jadilah dia sendirian dan mencoba mengisi waktunya, sementara aku dan Lala sibuk sebagai bagian dari panitia.

Acara yang berlangsung sampai pukul 21.30 itu lumayan berat buat Duta. Tapi dia berhasil melewatinya tanpa merengek dan menangis. Dia mencoba beradaptasi dengan kondisi ketidakpastian yang dialaminya.

Sedikit rengekan hanya terjadi saat larut malam karena Duta sudah capek dan mengantuk. Akhirnya, dalam malam yang gelap kami menyusuri pematang sawah untuk pindah ke tempat penginapan baru di Omah Kebon. Dalam kondisi terkantuk-kantuk, Duta juga tetap membawa ransel pakaiannya, hehehe…

#petualanganbelajar #travelschooling #pertemuannasional #pendidikanalternatif

(bersambung)

Tulisan menarik lainnya

Share this post

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Bagaimana Cara Belajar Anak Homeschooling?

Jangan membayangkan homeschooling hanya dengan mengundang guru privat. Proses belajar dalam homeschooling bisa sangat beragam dan kaya, tergantung pada kreativitas orangtua.

Jika orangtua ingin meningkatkan kualitas homeschooling yang dijalaninya, orangtua perlu meningkatkan kapasitas diri agar anak-anak tidak hanya belajar untuk lulus ujian, tidak hanya belajar berbasis mata pelajaran, tidak hanya belajar dengan mendengarkan ceramah dan latihan soal.

Serial webinar ini akan membahaskan tentang strategi pembelajaran berbasis dunia nyata dan keseharian. Strategi pembelajaran ini bukan hanya penting untuk meningkatkan kualitas pendidikan anak-anak, tetapi juga meningkatkan kepercayaan diri orangtua dan kapasitas keterampilan orangtua sebagai fasilitator dalam proses belajar anak.

Materi yang dibahaskan dalam webinar ini untuk anak beragam usia dari anak usia pra-sekolah hingga SMA.