PenutupanOASEksplorasi02-600px

Peran Orangtua Homeschooling: Fasilitator & Coach

Dari kegiatan penutupan OASEksplorasi 2017, hari ini meluncur video liputan/reportase yang dibuat oleh Agla (11 tahun) & Alev (13 tahun). Agla bertindak sebagai reporter, Alev bertindak menjadi kameramen.

Kakak beradik ini memang menekuni dunia videografi sebagai salah satu keterampilan penting yang diasahnya. Mereka adalah vlogger yang memiliki Youtube channel Telor Ceplok dengan subscriber lebih dari 1200 orang.

Walaupun masih muda, karya mereka keren-keren banget!

Selamat buat Agla & Alev. Juga orangtuanya mas Dio Andi Muhyiddin & mbak Putri Anisa

Peran Orangtua dalam Homeschooling

Menyimak karya keren Agla & Alev dan juga anak-anak remaja OASE yang membuat output personal usai melakukan ekspedisi ke Pulau Harapan, menurut saya ada satu hal yang tak bisa dilepaskan yaitu peran aktif orangtua yang bertindak menjadi coach.

Mungkin ada satu-dua anak yang dilepas tanpa coaching dari orangtua. Tapi perkiraanku, sebagian besar anak mendapatkan proses coaching, minimal diskusi tentang output yang akan dibuat.

Dalam homeschooling, memang ada 2 peran penting orangtua, yaitu sebagai fasilitator dan coach. Saat menjadi fasilitator, peran orangtua lebih berfungsi untuk memfasilitasi minat anak, memberikan kenyamanan anak menjadi dirinya sendiri agar potensi pribadinya bisa keluar.

Antara Fasilitator dan Coach

Tapi menjadi fasilitator saja tak cukup. Dalam waktu-waktu tertentu, orangtua juga bertindak sebagai coach, yang membantu anak meraih tujuan yang ditetapkan. Fungsi coach lebih untuk menjaga kualitas proses dan hasil.

Sebagai coach, orangtua menjadi teman diskusi menajamkan gagasan, menjadi bagian Quality Control, serta men-“stretch” anak agar bisa “naik kelas” dalam kualitas diri maupun kualitas karyanya.

Dalam pengalaman di keluarga kami, proses coaching itu sangat penting. Dengan proses coaching, ada diskusi bersama sehingga bisa menambah perspektif anak dari sudut pandang yang beragam. Kadang anak hanya mengerjakan sekedarnya saja sehingga perlu didorong sedikit untuk keluar dari zona nyaman mereka agar mampu menghasilkan karya yang lebih baik. Dengan kesediaan anak menerima feedback dan memperbaiki karyanya, stamina berkarya anak juga akan terbangun secara bertahap.

Proses Coaching dalam Homeschooling

Proses coaching biasanya terjadi ketika anak sudah semakin besar. Mungkin sekitar usia SMP atau SMA. Tapi, bentuk-bentuk coaching juga bisa dilakukan untuk anak-anak yang lebih kecil dengan menyederhanakan prosesnya.

Beberapa proses yang biasanya terjadi dalam coaching yang dilakukan orangtua antara lain:

  • mendiskusikan tujuan/goal. Apakah terlalu rendah, terlalu ambisius, cukup realistis dan menantang?
  • mendiskusikan proses untuk menuju tujuan yang diinginkan. Stepnya bagaimana? Resource apa yang dibutuhkan? Bagaimana jadwalnya?
  • menemani proses. Sampai di mana proses berjalan? Apakah masih on track? Apa kendala yang muncul? Bagaimana rencana solusi mengatasi kendala? Apa yang perlu dibantu?
  • mengevaluasi output. Apakah kualitas output sudah sesuai harapan? Apa yang bisa diperbaiki dengan keterbatasan sumberdaya (keahlian, waktu, alat, dll) yang ada?
  • refleksi global. Apa pelajaran yang dipetik dari seluruh proses yang dilakukan? Seberapa puas/tidak puas terhadap proses & hasilnya? Apa yang bisa diperbaiki untuk proyek selanjutnya?

Tulisan menarik lainnya

Share this post

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.