buku

Open Source Textbook

Apa beda isi buku matematika tahun ini dibandingkan tahun lalu? Apakah ada perbedaan yang substansial? Kalau tidak ada, mengapa orangtua harus membeli buku baru setiap tahun? Mengapa kita tak bisa menggunakan buku yang lama saja?

Alasan untuk semua itu?

Bisnis, titik. There’s nothing to do with education. Ketersediaan buku baru setiap tahun tak ada hubungannya dengan kurikulum dan kualitas pendidikan anak, tetapi tentang bisnis buku pelajaran bernilai milyaran rupiah yang harus tetap berjalan. Penerbit, penulis, dan seluruh komponen jaringan distribusi ingin memastikan bahwa setiap tahun selalu ada pembelian buku baru oleh orangtua untuk anak-anaknya yang bersekolah, dengan alasan apapun.

Buku baru dan pembelian buku pelajaran baru setiap tahun adalah darah segar yang menghidupi industri buku pelajaran. Pasarnya adalah para orangtua yang selalu berada dalam posisi tidak berdaya dan tidak memiliki pilihan lain kecuali mengikuti kebijakan yang telah ditetapkan oleh sekolah/guru yang telah menjadi bagian dari industri dan mata rantai distribusi buku pelajaran.

**

Keprihatinan terhadap hal ini bukan hanya milik para orangtua yang setiap tahun selalu mengalami isu penyediaan dana tambahan untuk membeli buku baru.

Scott G. McNealy, mantan CEO Sun Microsystem, saat ini sedang menggagas open source untuk buku pelajaran. “Sejak dulu sepuluh ditambah sepuluh adalah dua puluh,” kata McNealy.

“Di Amerika Serikat, kita mengeluarkan $8-10 miliar per tahun untuk buku pelajaran,” imbuhnya. “Menurut saya, kita dapat meletakkan seluruh material itu di Internet dan dapat diunduh gratis.”

Sejak enam tahun lalu, McNealy merintis situs Curriki yang menjadi titik hubung antara para ahli, pendidik, dan pembelajar untuk menciptakan materi-materi pendidikan yang berkualitas, mulai tingkat SD hingga SMA, bidang studi Science & Technology, Math, English, dan Social Studies. Siapapun dapat mengunduh materi yang ada di Curriki.

**

Open source untuk buku pelajaran adalah angin segar untuk dunia pendidikan. Saatnya setiap orangtua memiliki kesempatan mengoptimalkan dana yang mereka keluarkan. Masa santai industri buku pelajaran sudah waktunya diakhiri. Saatnya mereka harus bekerja lebih keras untuk meraih hati dan uang dari para orangtua.

Apakah pemerintah akan berpihak pada open source textbook atau pada industri percetakan? Kita lihat saja. Tapi kita sudah lumayan berbahagia melihat inisiatif pemerintah dengan Buku Sekolah Elektronik (BSE). Mudah-mudahan semakin lama semakin banyak materi BSE dan semakin mudah diakses oleh masyarakat luas.

Yang pasti, praktisi homeschooling bisa mulai memanfaatkan resource semacam ini karena proses belajar dalam homeschooling memang bisa menggunakan bahan apa saja; buku baru atau bekas, buku berbahasa Indonesia atau berbahasa Inggris, atau materi-materi non-buku sekalipun.

Yang penting tujuan pendidikan dicapai, anak-anaknya senang, orangtua bahagia.

Open source textbook: Curriki

Tulisan menarik lainnya

Share this post

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Bagaimana Cara Belajar Anak Homeschooling?

Jangan membayangkan homeschooling hanya dengan mengundang guru privat. Proses belajar dalam homeschooling bisa sangat beragam dan kaya, tergantung pada kreativitas orangtua.

Jika orangtua ingin meningkatkan kualitas homeschooling yang dijalaninya, orangtua perlu meningkatkan kapasitas diri agar anak-anak tidak hanya belajar untuk lulus ujian, tidak hanya belajar berbasis mata pelajaran, tidak hanya belajar dengan mendengarkan ceramah dan latihan soal.

Serial webinar ini akan membahaskan tentang strategi pembelajaran berbasis dunia nyata dan keseharian. Strategi pembelajaran ini bukan hanya penting untuk meningkatkan kualitas pendidikan anak-anak, tetapi juga meningkatkan kepercayaan diri orangtua dan kapasitas keterampilan orangtua sebagai fasilitator dalam proses belajar anak.

Materi yang dibahaskan dalam webinar ini untuk anak beragam usia dari anak usia pra-sekolah hingga SMA.