no-computer

No Game, no Gadget, no TV, no Internet

Sudah seminggu ini kami mencoba melakukan kegiatan “Non Teknologi” untuk anak-anak. Yudhis dan Tata belajar dan berkegiatan menggunakan materi fisik, kertas ataupun kegiatan lainnya. Intinya, kami berusaha melakukan “unplugged activities”: no game, no Youtube, no gadget, no Cartoon Network, no Internet.

Aktivitas non-Internet ini adalah bagian dari usaha kami untuk membuat aktivitas yang lebih seimbang pada anak-anak. Kami merasa perlu melakukannya untuk mencegah ketergantungan yang berlebihan anak-anak terhadap teknologi.

Bukan apa-apa. Pekerjaan kami di bidang teknologi (internet) membuat kami sangat intensif menggunakan komputer, gadget, dan internet di dalam keseharian. Anak-anak pun terekspos sangat besar pada teknologi, termasuk dalam kegiatan belajar dan kesehariannya.

Ternyata ada dampak sampingan dari teknologi yang mulai kami lihat pada anak-anak, antara lain: rentang konsentrasi menurun, kurangnya kreativitas melakukan kegiatan non-komputer, saat sedang main game sangat fokus dan secara emosi lebih fragile.

Walaupun belum sampai mengkhawatirkan dan ketergantungan, kami memutuskan untuk melangkah lebih jauh melalui inisiatif kegiatan tanpa komputer, gadget, dan TV. Inisiatif ini melengkapi kegiatan berenang 3 kali seminggu yang sudah mereka lakukan selama ini.

***

Pada awalnya kami sempat khawatir akan terjadi pemberontakan pada anak-anak. Atau, bisa saja mereka menjadi pasif dan kehilangan gairah berkegiatan akibat tercabutnya kegiatan yang selama sudah “melekat” pada kebiasaan mereka.

Tapi ternyata kekhawatiran itu tak terjadi. Yudhis dan Tata tetap menjalani kegiatannya dengan normal. Tak ada letupan emosi atau perubahan irama keseharian yang besar walaupun mereka tak lagi menyentuh komputer dan tak bisa melakukan kegiatan di Internet.

Agar proses ini mulus, kami berdua (aku & Lala) lebih merapat ke anak-anak. Kami mengalokasikan waktu lebih banyak untuk mendampingi mereka. Lala menyediakan materi printable dari Teacher Filebox dan terus mendorong inisiatif kegiatan mereka. Salah satunya adalah mengawal inisiatif membuat panggung boneka.

***

Satu minggu selesai. Walaupun prosesnya masih belum mulus karena terkadang mereka seperti kehilangan ide kegiatan, di akhir minggu proyek panggung boneka selesai dan mereka berhasil melakukan pertunjukan panggung boneka. Overall kami menilainya sebagai keberhasilan.

Sebagai reward, usai pertunjukan boneka di hari Minggu kami berikan kesempatan kepada mereka untuk bermain game bersama Abby “sepuasnya”. Reward ini sekaligus pelepasan untuk menjaga stamina mereka menuju minggu kedua kegiatan tanpa gadget, komputer, dan TV.

Sampai kapan kegiatan ini akan berlangsung? Secukupnya. Poin besarnya adalah memperkuat stabilitas emosi & kemampuan survival anak-anak. Prosesnya akan tarik ulur sesuai kebutuhan dan penilaian di lapangan.

Tulisan menarik lainnya

Share this post

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Bagaimana Cara Belajar Anak Homeschooling?

Jangan membayangkan homeschooling hanya dengan mengundang guru privat. Proses belajar dalam homeschooling bisa sangat beragam dan kaya, tergantung pada kreativitas orangtua.

Jika orangtua ingin meningkatkan kualitas homeschooling yang dijalaninya, orangtua perlu meningkatkan kapasitas diri agar anak-anak tidak hanya belajar untuk lulus ujian, tidak hanya belajar berbasis mata pelajaran, tidak hanya belajar dengan mendengarkan ceramah dan latihan soal.

Serial webinar ini akan membahaskan tentang strategi pembelajaran berbasis dunia nyata dan keseharian. Strategi pembelajaran ini bukan hanya penting untuk meningkatkan kualitas pendidikan anak-anak, tetapi juga meningkatkan kepercayaan diri orangtua dan kapasitas keterampilan orangtua sebagai fasilitator dalam proses belajar anak.

Materi yang dibahaskan dalam webinar ini untuk anak beragam usia dari anak usia pra-sekolah hingga SMA.