Perjalanan

Merefleksikan Perjalanan Homeschooling

Tanpa terasa, sudah sembilan tahun perjalanan homeschooling yang kami jalani bersama anak-anak. Sembilan tahun yang kaya dan penuh warna, di dalam pasang-surut perjalanan belajar yang selalu kami upayakan dengan penuh rasa syukur dan sikap mental positif.

Bagi kami, kualitas homeschooling sangat erat korelasinya dengan kualitas kehidupan keluarga. Bagaimana kami menjalani kehidupan, begitulah kurang lebih wujud homeschooling yang kami jalani.

Ketika kami bisa menjalani kehidupan yang berkualitas, kami melihat proses homeschooling yang kami jalani pun berkualitas. Tetapi ketika kehidupan kami sendiri turun kualitasnya, yang terjadi adalah penurunan kualitas pendidikan anak-anak dalam homeschooling.

Oleh karena itu, tantangan terbesar bagi kami adalah terus menjaga agar hidup kami berkualitas. Yang kami maksudkan hidup berkualitas adalah hidup yang dijalani dengan kelapangan (ikhlas) dan sukacita (syukur), dalam keadaan apapun.

Kami berusaha keras untuk berdamai dengan diri sendiri menghadapi berbagai gejolak pasang-surut keseharian agar bisa selalu menghasilkan kejernihan hati dan pikiran yang kami percayai akan berdampak pada terciptanya situasi yang nyaman bagi anak-anak untuk bertumbuh dan berkembang.

Tapi kami tahu bahwa kami tak selalu berhasil. Tapi setidaknya kami berusaha terus karena kesungguhan berusaha itulah yang bermakna dalam kehidupan kita sebagai manusia.

Ada beberapa pelajaran yang dapat kami peroleh dari proses homeschooling yang kami jalani hingga saat ini:

a.  Kami puas, tapi perjalanan masih panjang
Kami puas dengan memilih homeschooling dan tidak memilih sekolah untuk anak-anak. Kami merasa anak-anak tumbuh dengan modal psikologis kuat yang kami harapkan dapat memberikan pondasi untuk kehidupan dewasanya. Pada saat bersamaan, secara akademis kami melihat bahwa mereka tidak ketinggalan dibandingkan teman-teman sebaya.

b. Gambar Besar Memberi Arah
Perjalanan homeschooling pasti melalui pasang dan surut, dengan berbagai godaan yang ada di dalamnya. Kadang godaan pendapat orang lain, kadang harapan untuk melihat hasil pada anak, kadang keinginan untuk mencoba hal yang “keren”, dan sebagainya.  Berdasarkan pengalaman kami, semua gonjang-ganjing itu tak terlalu berpengaruh besar sepanjang kita tahu arah yang hendak kita tuju dan benang merah apa yang menjadi pegangan dalam homeschooling kita.

Bagi kami, benang merah itu adalah menempatkan anak sebagai subyek pendidikan. Dan visi pendidikan kami adalah memberikan pondasi moralitas yang kuat, kemandirian belajar, dan penguasaan wawasan/ketrampilan profesional.

d. Structured vs. Unstructured
Dalam proses yang kami alami, kami terus mengalami proses pencarian keseimbangan antara unstructured dan structured learning. Kami suka gagasan-gagasan dasar unschooling (yang tidak terstruktur) karena prosesnya menghasilkan passion dan di ujungnya ada kualitas belajar yang di luar kebiasaan. Tetapi, kami juga ingin agar anak-anak belajar tentang disiplin dan komitmen melalui kegiatan yang lebih terstruktur, terutama untuk keperluan menapaki jenjang-jenjang pengetahuan.

e. Mata pelajaran dan Minat
Dalam HS Yudhis, tahun ini kami sepakat untuk lebih memfokuskan pada penguasaan mata pelajaran. Sebab, hasil evaluasi kami menunjukkan bahwa secara akademis Yudhis sudah kelas 6. Kami ingin mengetahui, apakah pengamatan dan penilaian kami itu sejalan dengan penilaian obyektif terhadapnya melalui ujian. Menurut rencana, proses ini akan diuji tahun depan. Setelah proses ini selesai, kami memiliki kesepakatan dengan Yudhis bahwa dia akan mempunyai kesempatan yang lebih leluasa untuk mengekplorasi minatnya yang berkaitan dengan Internet, grafis, dan animasi; serta yang lainnya.

Sementara untuk Tata, kami bersikap sangat longgar dan tak memberikan target apapun; walaupun setiap hari dengan sukacita dia belajar bahasa Inggris dan mengerjakan berbagai lembar kerja sesukanya. Kadang dia mengerjakan lembar kerja kelas 1, 2, atau kelas 3. Walaupun tanpa target, kami membantu Tata dengan sepenuh hati dan mengapresiasi semua prestasi yang berhasil dilakukannya.

(ini adalah artikel yang pernah kubuat dan lupa aku posting di Rumah Inspirasi)

Tulisan menarik lainnya

Share this post

5 thoughts on “Merefleksikan Perjalanan Homeschooling”

  1. Terima kasih mbak Ratna atas apresiasinya. Kami masih belajar dan terus belajar, dari dan bersama teman-teman seperjalanan seperti mbak Ratna.. 😮

  2. Selamat ya mas Aar n mbak Lala…

    Jadi terharu bacanya…

    Semoga inspirasi yang kami dapatkan dari kel mas Aar menjadikan ladang amal buat mas Aar dan kel…

    “””Oleh karena itu, tantangan terbesar bagi kami adalah terus menjaga agar hidup kami berkualitas. Yang kami maksudkan hidup berkualitas adalah hidup yang dijalani dengan kelapangan (ikhlas) dan sukacita (syukur), dalam keadaan apapun.”””

    semoga kita semua terus mau berusaha meraihnya…

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Bagaimana Cara Belajar Anak Homeschooling?

Jangan membayangkan homeschooling hanya dengan mengundang guru privat. Proses belajar dalam homeschooling bisa sangat beragam dan kaya, tergantung pada kreativitas orangtua.

Jika orangtua ingin meningkatkan kualitas homeschooling yang dijalaninya, orangtua perlu meningkatkan kapasitas diri agar anak-anak tidak hanya belajar untuk lulus ujian, tidak hanya belajar berbasis mata pelajaran, tidak hanya belajar dengan mendengarkan ceramah dan latihan soal.

Serial webinar ini akan membahaskan tentang strategi pembelajaran berbasis dunia nyata dan keseharian. Strategi pembelajaran ini bukan hanya penting untuk meningkatkan kualitas pendidikan anak-anak, tetapi juga meningkatkan kepercayaan diri orangtua dan kapasitas keterampilan orangtua sebagai fasilitator dalam proses belajar anak.

Materi yang dibahaskan dalam webinar ini untuk anak beragam usia dari anak usia pra-sekolah hingga SMA.