attention

Menumbuhkan Kemampuan Fokus pada Anak

Salah satu pertanyaan dari peserta webinar homeschooling adalah tentang kemampuan anak untuk fokus:

“Kemampuan fokus untuk usia balita dan usia yang lebih tua itu apakah kemampuan bawaan atau harus dilatih? Kalau memang bawaan, bagaimana cara memunculkannya hingga optimal? Jika harus dilatih, bagaimana seharusnya melatihnya?”

***

Kemampuan fokus, biasa juga disebut kebiasaan memperhatikan (habit of attention) adalah paduan antara bawaan dan stimulasi. Secara umum, anak memiliki potensi untuk memberi perhatian, terutama pada hal-hal yang menjadi minatnya. Tetapi lingkungan sekitar akan memberikan pengaruh pada perkembangan selanjutnya. Jika lingkungan tidak kondusif, tak ada stimulasi, anak tak akan berkembang kapasitas fokusnya atau kebiasaannya untuk perhatian pada sebuah hal.

Karena anak-anak masih berkembang, orangtua perlu menyadari bahwa dibutuhkan proses untuk membangun kemampuan anak untuk berfokus dan memberikan perhatian. Apalagi, setiap anak berbeda-beda kemampuannya. Secara umum, anak-anak balita memiliki fokus yang masih sangat rendah dan mudah terdistraksi dengan berbagai hal yang terjad di sekelilingnya.

Bagaimana memberikan stimulasi untuk mengembangkan kemampuan fokus?

1. Orangtua sebagai pembimbing (coach)

Peran aktif orangtua sangat krusial sebagai coach, yang mengembangkan setahap demi setahap. Orangtua tak bisa hanya menyuruh, membelikan alat, atau memarahi anak agar fokus. Tapi orangtua perlu TERLIBAT bersama anak saat proses stimulasi.

2. Interaksi tatap mata

Ajarkan pada anak untuk bertatap mata saat berkomunikasi. Pada saat sedang memberikan stimulasi, turunkan badan Anda sehingga sejajar dengan mata anak(eye-level).

3. Mengulangi perintah

Jika Anda memberikan perintah dan anak menyatakan faham, minta anak untuk mengulangi perintah tersebut dengan kata-katanya sendiri.

4. Menyelesaikan hingga tuntas

Jika anak melakukan sesuatu, biasakan selesai sampai sebuah titik tertentu. Jika kapasitas anak belum memadai, orangtua membantu prosesnya hingga selesai. Yang penting anak belajar bahwa sebuah hal perlu dilakukan sampai tuntas.

5. Proses bertahap

Untuk mendorong anak2 berkonsentrasi, lakukan kegiatan bersama dan secara bertahap tambahkan waktunya sesuai kapasitas Anak. Pada anak-anak kinestetis, mereka mungkin lebih susah untuk duduk diam tetapi bisa tenang saat melakukan proyek yang melibatkan kegiatan fisik (hands-on activity).

Sekali lagi perlu diingat, karena setiap anak berbeda-beda, kenali perbedaan diantara anak dan sesuai proses dengan keunikan anak-anak kita.

Tulisan menarik lainnya

Share this post

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Bagaimana Cara Belajar Anak Homeschooling?

Jangan membayangkan homeschooling hanya dengan mengundang guru privat. Proses belajar dalam homeschooling bisa sangat beragam dan kaya, tergantung pada kreativitas orangtua.

Jika orangtua ingin meningkatkan kualitas homeschooling yang dijalaninya, orangtua perlu meningkatkan kapasitas diri agar anak-anak tidak hanya belajar untuk lulus ujian, tidak hanya belajar berbasis mata pelajaran, tidak hanya belajar dengan mendengarkan ceramah dan latihan soal.

Serial webinar ini akan membahaskan tentang strategi pembelajaran berbasis dunia nyata dan keseharian. Strategi pembelajaran ini bukan hanya penting untuk meningkatkan kualitas pendidikan anak-anak, tetapi juga meningkatkan kepercayaan diri orangtua dan kapasitas keterampilan orangtua sebagai fasilitator dalam proses belajar anak.

Materi yang dibahaskan dalam webinar ini untuk anak beragam usia dari anak usia pra-sekolah hingga SMA.