Sir Ken Robinson

Mengubah paradigma pendidikan

Sir Ken Robinson

Tak dapat dipungkiri, pendidikan telah berkontribusi pada kemajuan peradaban manusia. Tetapi, ada problem besar di dalam sistem pendidikan kita. Itulah sebabnya, sebagian besar pemerintah melakukan reformasi pendidikan umum (public education).

Alasan untuk reformasi pendidikan itu yang pertama karena alasan ekonomi, untuk mengantarkan anak-anak agar dapat selaras dengan perekonomian abad 21, yang terus berevolusi dengan cepat dan semakin sulit diprediksi. Alasan kedua adalah karena faktor budaya, bagaimana tetap mempertahankan identitas budaya lokal di tengah terpaan globalisasi yang sangat dahsyat.

Di dalam model yang selama ini berjalan, dengan pendidikan anak-anak bekerja keras, lulus & mendapatkan ijazah, kemudian bekerja. Problemnya, anak-anak sekarang tidak terlalu percaya dengan rumus itu. Kelulusan dan ijazah tak menjamin pekerjaan.

Sir Ken Robinson, salah satu tokoh pendidikan dan penulis buku “The Element”, menyatakan bahwa salah satu sebab yang paling mendasar adalah karena sistem pendidikan yang berjalan saat ini dirancang dengan asumsi-asumsi pada masa lalu, yang tak lagi sesuai dengan kondisi saat ini.

Sistem pendidikan saat ini dirancang dalam kultur intelektual abad pencerahan dan sistem ekonomi yang dihasilkan oleh revolusi industri (sekitar abad 18). Pada saat itu, sistem pendidikan umum menjadi hal yang revolusioner karena sebelumnya belum pernah ada sistem pendidikan yang massal untuk masyarakat. Sistem baru ini dibayar dengan uang pajak, wajib bagi semua orang, dan disampaikan dengan gratis sehingga bisa menjangkau banyak orang.

**

Sistem pendidikan umum sangat menekankan pada kemampuan akademis, sehingga secara natural kemudian membagi manusia menjadi dua kategori: akademis dan non-akademis, orang cerdas dan kurang cerdas. Dan semuanya diukur dengan ukuran akademis. Akibatnya, banyak orang2 yang sebenarnya hebat, tetapi mereka merasa gagal karena mereka berbeda dari standar “kehebatan” yang ditentukan sistem pendidikan.

Sistem pendidikan ini dijalankan dengan model pabrik seperti pada revolusi industri. Proses dibagi dalam bagian yg terpisah (mata pelajaran), pendidikan dijalankan dalam sistem urutan/batch (kelas), dan outputnya adalah produk yang seragam, yang ditandai dengan waktu produksi (tahun kelulusan).

Nilai-nilai utama dari model ini adalah kesamaan (conformity) dan standardisasi. Itulah model seperti pabrik di abad pertengahan.

**

Menurut Sir Ken Robinson, model pendidikan yang sekarang ada tak mencukupi kebutuhan zaman. Kita membutuhkan transformasi paradigma tentang pendidikan untuk masa kini, sebab zaman kita berbeda dari zaman pertengahan.

Anak-anak yang besar masa kini adalah anak-anak digital. Mereka lahir dan tumbuh dengan barang digital dan multimedia yang ada di sekitar mereka, TV, papan reklame, VCD/DVD, Internet, gadget, yang membuat mereka sangat terekpos dengan multi-stimulan (otak, mata, telinga, animasi, fisik). Itu membuat sulit fokus dengan model pendidikan yang dijalankan dengan sistem tradisional di kelas yang cenderung membosankan bagi mereka. Jadi, sangat dimungkinkan anak2 digital ini akan dinilai sebagai penyandang ADHD (Attention Defisit Hyperactivity Disorder) karena mereka sulit untuk memfokuskan diri pada model pengajaran yang membosankan di kelas.

Paradigma pendidikan baru harus menekankan pada “divergent thinking”, kapasitas untuk melakukan hal-hal kreatif. Divergent thinking meliputi kemampuan untuk melihat banyak kemungkinan jawaban untuk sebuah masalah tertentu, melihat banyak tafsir dan pemahaman atas sebuah pertanyaan, untuk berfikir literal (tak hanya liner dan konvergen), melihat banyak solusi tak hanya satu solusi.

Dalam sistem yang ada saat ini, kemampuan berfikir divergen itu tak berkembang pada anak. Bahkan, kemampuan divergen itu semakin turun seiring peningkatan usia dan tingkat pendidikan seseorang. Ketika anak semakin terdidik, jawaban itu semakin mengerucut pada hanya ada satu jawaban yang benar.

**

Tulisan di atas adalah ringkasan dan pemaknaan bebas dari presentasi Sir Ken Robinson tentang perubahan paradigma pendidikan. Selengkapnya, silakan simak presentasi Sir Ken Robinson dalam bentuk animasi yang menarik ini:

Tulisan menarik lainnya

Share this post

4 thoughts on “Mengubah paradigma pendidikan”

  1. novianti (umminya syamil & nisrina)

    Izin share ya mas! anak saya juga sempat suspect ADHD karena tidak bisa duduk diam di kelas dan kurang memperhatikan pelajaran. tpi bila didepan komputer fokusnya bukan main, hingga kuat berjam-jam.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Bagaimana Cara Belajar Anak Homeschooling?

Jangan membayangkan homeschooling hanya dengan mengundang guru privat. Proses belajar dalam homeschooling bisa sangat beragam dan kaya, tergantung pada kreativitas orangtua.

Jika orangtua ingin meningkatkan kualitas homeschooling yang dijalaninya, orangtua perlu meningkatkan kapasitas diri agar anak-anak tidak hanya belajar untuk lulus ujian, tidak hanya belajar berbasis mata pelajaran, tidak hanya belajar dengan mendengarkan ceramah dan latihan soal.

Serial webinar ini akan membahaskan tentang strategi pembelajaran berbasis dunia nyata dan keseharian. Strategi pembelajaran ini bukan hanya penting untuk meningkatkan kualitas pendidikan anak-anak, tetapi juga meningkatkan kepercayaan diri orangtua dan kapasitas keterampilan orangtua sebagai fasilitator dalam proses belajar anak.

Materi yang dibahaskan dalam webinar ini untuk anak beragam usia dari anak usia pra-sekolah hingga SMA.