Mengapa anak-anak perlu belajar literasi keuangan?

Literasi keuangan sudah diajarkan di negara-negara maju untuk membantu anak-anak agar mereka siap menjalani kehidupan modern dan dapat mengambil keputusan-keputusan yang berhubungan dengan uang. Di Indonesia kesadaran itu masih belum berkembang. Tapi tak ada salahnya untuk dimulai.

Mengapa belajar literasi keuangan (financial literacy) penting bagi anak-anak?

Yang pertama, karena ada banyak sudut pandang mengenai uang yang tumbuh di masyarakat.

Uang dan Materialisme

Pada satu sisi, pandangan seseorang tentang uang sangat materialistis. Uang menjadi tujuan hidup. Segala persoalan diselesaikan dengan uang. Dinamika kehidupan direduksi dan dinilai hanya dari sudut pandang uang. Pandangan ini cukup banyak terlihat di masyarakat modern yang memiliki kecenderungan tinggi untuk konsumtif dan hedonis.

Padahal, kehidupan tak hanya tentang uang. Ada yang bisa dibeli oleh uang, tetapi banyak hal yang tak dapat dibeli dengan uang. Yang bisa dibeli biasanya adalah hal-hal fisik dan fasilitas. Sementara yang menjadi sumber kebahagiaan adalah esensi yang bersifat psikologis-spiritual dan biasanya tak terkait langsung dengan uang.

c) http://www.flickr.com/photos/baligraph/

Uang dan Sumber Kejahatan

Pada sisi yang lain, sebagian masyarakat menganggap uang sebagai sumber kejahatan yang dapat menjatuhkan manusia pada dosa dan sengsara. Uang dipandang dengan sudut pandang yang buruk. Orang kaya yang memiliki banyak uang dicurigai, dinilai sebagai orang egois, dan dianggap tak mulia.

Sebagai akibatnya, pengetahuan dan keterampilan mengenai uang tak dipentingkan, bahkan cenderung dihindari. Akibatnya, ketiadaan pengetahuan dan keterampilan tentang uang dapat membuatnya jatuh pada keputusan-keputusan yang salah tentang uang. Pada gilirannya, kesalahan sudut pandang ini dapat membuat orang hidup miskin dan tergantung secara keuangan pada orang lain.

Padahal, uang juga bisa bermakna sangat positif. Dengan uang seseorang bisa mandiri, menolong orang miskin, membangun sekolah, membangun rumah sakit, membuka lapangan pekerjaan, melakukan aneka inisiatif sosial yang sulit dilakukan oleh orang yang kekurangan uang.

Hipokrisi tentang Uang

Pandangan yang ekstrem tentang sikap negatif terhadap uang dapat menciptakan hipokrisi tentang uang. Orang bersikap seolah-olah tak butuh uang, tetapi seluruh hidupnya dicurahkan untuk mencari uang dengan cara halal maupun haram.

Hipokrisi dapat menciptakan rasa bersalah (guilty feeling), ketidaknyaman pada diri sendiri akibat ketidakselarasan antara sikap mental dan praktik kehidupan yang dijalani.

Sudut Pandang yang Sehat tentang Uang

Padahal sesungguhnya uang bersifat netral. Dia memiliki kekuatan dan sekaligus kelemahan yang perlu dikenali. Dia memiliki pesona yang dapat melipatgandakan niat baik. Sebaliknya, dia dapat menjadi seperti narkoba yang memabokkan dan mencipta kecanduan yang merusak.

Oleh karena itu, agar anak-anak memiliki sudut pandang yang sehat tentang uang, anak-anak perlu dididik dengan sadar tentang uang (pendidikan literasi keuangan). Langkah pertama dalam pendidikan literasi keuangan untuk anak-anak adalah mengajarkan cara pandang yang sehat tentang uang bahwa:

  • Uang adalah alat, bukan tujuan.
  • Uang adalah gagasan netral, tak sepenuhnya baik dan tak sepenuhnya buruk.
  • Uang terlibat dalam banyak aspek kehidupan. Uang dan pengelolaan uang adalah sebuah ilmu dan keterampilan yang bisa dipelajari.
  • Uang adalah sumber daya yang bisa dimanfaatkan untuk melakukan hal-hal baik.

Dengan sudut pandang yang sehat tentang uang, banyak manfaat yang akan diperoleh anak-anak dalam interaksinya dengan uang. Anak-anak tak menjadi “budak uang”, tetapi terampil mengambil keputusan yang berkaitan dengan uang dan mampu menjadikan uang alat untuk meningkatkan kualitas hidup pribadi dan orang lain.

Kredit foto: (c) http://www.flickr.com/photos/baligraph/

 

– WEBINAR –

Dalam proses pengasuhan, ada aspek-aspek keterampilan dasar yang krusial dan perlu dikembangkan pada anak. Jika anak memiliki keterampilan-keterampilan dasar ini, proses pengembangan mereka saat remaja akan menjadi lebih mudah dilakukan.

Webinar ini membahaskan 10 keterampilan dasar yang perlu dan bisa dikembangkan di rumah untuk anak-anaknya.

10 Keterampilan yang akan dibahaskan dalam webinar

MENJAGA KESEHATAN & KESELAMATAN

  • Pola makan
  • pola tidur
  • pola aktivitas sehat,
  • berenang
  • bela diri
  • pertolongan pertama (P3K)

LITERASI

  • Membaca dan mengerti
  • Membaca petunjuk
  • Membaca resep
  • Membaca rambu lalu lintas
  • Membaca tabel

MENGURUS DIRI SENDIRI​

  • Mengatur waktu
  • Membuat rencana
  • Menepati rencana
  • Mengetahui baik-buruk
  • Mengambil keputusan

BERKOMUNIKASI

  • Mengajukan pertanyaan
  • Mengobrol
  • Berkenalan dengan orang baru
  • Memberi & menerima feedback
  • Mengapresiasi
  • Bernegosiasi

MELAYANI

  • Mengerjakan pekerjaan rumah
  • Berkontribusi di keluarga
  • Berkontribusi di Lingkungan
  • Berkontribusi di sosial.

MENGHASILKAN MAKAN

  • Bercocok tanam
  • Berbelanja
  • Mengolah bahan pangan
  • Memasak
  • Menata masakan

PERJALANAN MANDIRI

  • Naik sepeda
  • Kendaraan umum
  • Membaca peta
  • Bisa pergi ke manapun dan kembali ke tempat asal

MEMAKAI TEKNOLOGI

  • Memakai gadget
  • Mengenal batas hukum & etik
  • Menghindari kecanduan
  • Menggunakan secara produktif

TRANSAKSI KEUANGAN

  • Belanja
  • Mendapat penghasilan
  • Menabung
  • Berinvestasi
  • Transaksi dalam sistem keuangan

BEKERJA

  • Menghasilkan karya
  • Membuat output (tulisan, lagu, musik, cerita/presentasi, video, animasi, dll) sesuai minat & kemampuan

Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on print
Share on email

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.