Kartu CritaCrita: Proyek Belajar Bisnis untuk Tata

Proyek kartu CritaCrita adalah proses belajar berbasis proyek (project-based learning) yang menjadi proses pembelajaran panjang Tata tentang bisnis.

Diawali dengan keinginan Tata untuk mencari dana sendiri untuk membiayai kegiatan OASE Eksplorasi alias fundraising, kami berdiskusi bersama Tata tentang produk apa yang akan dibuat dan dijual.

Dari hasil diskusi muncul ide untuk membuat kartu alat bantu belajar anak-anak kecil. Rencananya produk akan dijual di toko online seperti Tokopedia dan Shopee.

belajar bisnis untuk anak-anak

Ideation: Belajar Bisnis Dimulai dengan Gagasan

Dalam proses awal, Tata berdiskusi dengan kami dan Yudhis, kakaknya. Diskusi berlangsung berhari-hari untuk menentukan bentuk produk yang akan dibuat.

Ide yang disepakati adalah membuat kartu cerita yang isinya berbagai gambar. Untuk memainkannya, gambar dari tumpukan kartu diambil secara acak dan disusun berjajar. Nah, anak diminta untuk membuat cerita berdasarkan urutan gambar tersebut.

Setelah detilnya disepakati, Tata kemudian mulai mengeksekusi satu persatu. Prosesnya dimulai dengan menggambar kartu satu-persatu. Biasanya Tata memulai dengan sketch menggunakan pensil, kemudian diwarnai menggunakan cat air dan terakhir melakukan finalisasi dengan spidol kecil

Eksekusi Tak Semudah Gagasan

Di mana-mana, proses eksekusi tidaklah mudah. Bisnis itu bukanlah tentang ide, tetapi tentang kemampuan mengeksekusi ide dengan baik. Kemampuan eksekusi menjadi hal yang sangat krusial, apalagi di era sekarang saat ide-ide begitu banyak berserakan di Internet yang bisa diambil dan diadaptasi.

Dalam pengalaman belajar bisnis yang sedang sedang dilakukan Tata ini, tantangannya juga terletak di titik eksekusi.

Proses menggambar kartu ternyata membutuhkan waktu yang lebih lama daripada yang diperkirakan. Apalagi Tata punya kesibukan dan tugas-tugas lain selain menyiapkan kartunya.

Padahal, gambar di kartu itu baru awal dan bagian kecil dari proses membuat produk. Prosesnya masih berlangsung panjang hingga akhir.

Alhasil, momentum untuk fundraising pun hilang karena produk ternyata belum selesai. Tata mengikuti akhirnya kegiatan OASE Eksplorasi dengan mengambil tabungan ditambah uang dari kami.

Apakah proses belajar bisnis ini gagal? Iya, saat ini.

Tapi berusaha untuk membuat proses belajar bisnis ini tidak gagal.

Membuat prototipe produk

Usai kegiatan OASE Eksplorasi rampung hingga akhir, kami berdiskusi dengan Tata mengenai kelanjutan proyek belajar bisnisnya. Tata masih berminat menyelesaikannya.

Maka, kami pun berproses kembali bersama Tata.

Tata kembali mematangkan konsepnya, menggambar & melukis, melakukan digitalisasi gambarnya, mengolah hasilnya di komputer, serta membuat prototipe produk.

Sebelum dicetak, Tata juga harus membuat deskripsi panduan bermain serta merancang box untuk wadah kartu.

Setelah semua selesai, Tata pergi ke percetakan digital ditemani ibu Lala untuk membuat mockup produk. Dari hasil cetakan, produk itu kami evaluasi bersama dan kemudian Tata melakukan revisi dan mencetak lagi. Untuk kepergian kedua dan selanjutnya, Tata melakukannya sendiri tanpa ditemani Ibu.

Proses revisi itu terjadi beberapa kali dan merupakan pembelajaran yang cukup berat bagi Tata. Proses ini mengasah stamina bekerja Tata dan kepeduliannya terhadap standar kualitas produksi.

Menyiapkan Marketing Kit

Setelah produk berhasil difinalisasi, Tata kemudian belajar ke tahapan berikutnya yaitu mempersiapkan proses marketing. Prosesnya dimulai dengan menyiapkan poster promosi. Tata belajar untuk membuat poster sendiri.

Selain itu, Tata juga belajar membuat landing page website berisi jualannya. Dalam landing page itu ada proses belajar membuat website sekaligus copywriting materi landing page-nya.

Fase terakhir dalam persiapan marketing, Tata belajar membuat toko online. Tata belajar membuat toko di Tokopedia dan Shopee serta mengisi informasi yang dibutuhkan untuk menjual produk CritaCrita karya Tata.

Melakukan Proses Produksi

Setelah produk mulai dipasarkan, Tata juga belajar menerima pesanan di toko online serta mengurusi pemesanan, mulai mencetak label, membungkus hingga mengirim pesanan.

Selain dijual secara online, Tata juga menjual kartunya dalam acara-acara yang diikutinya seperti OFest, Jangkar, dan lain-lain.

Dalam tahapan proses bisnis ini, Tata juga belajar memastikan produk kartu CritaCrita selalu tersedia. Itu artinya, dia perlu menghitung jumlah kartu yang akan dibuat, pergi ke percetakan untuk mencetak, memotong kartu, melipat kotak kartu, dan proses-proses lain yang dibutuhkan hingga produk siap dijual.

Refleksi

Proses Tata belajar bisnis dengan membuat produk CritaCrita ini menjadi pembelajaran yang banyak sekali, baik untuk Tata maupun untuk kami, orangtuanya, yang mendampingi Tata. Proyek ini dilakukan pada pertengahan 2018, saat Tata berusia 14 tahun.

Proses belajar bisnis ini berlangsung kurang lebih selama 3 bulan.

Berikut ini link terkait proses ini:

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.