kejurnas-aceh-2018-02-01

Hari Pertama Kejurnas Catur 2018

Gemuruh kipas angin disertai kicauan burung mewarnai suasana hari pertama Kejuaraan Nasional Catur di Hall Serbaguna, Kompleks Stadion Harapan Bangsa, Lhong Raya, Banda Aceh.

Menurut jadwal, pertandingan dimulai pukul 09.00 WIB.

Ketika daftar pairing belum juga keluar dan bisa dilihat sampai pukul 9.16, anak-anak mulai gelisah. Orangtua dan official pun banyak yang protes sehingga akhirnya membuat dewan wasit menjadi tegang dan agak galak.

“Bapak-bapak, ibu-ibu yang ribut terus nanti anaknya nggak boleh main ya!”

 

Sebetulnya, kerewelan orangtua dan pelatih ini sangat bisa dipahami. Jadwal pairing yang tak kunjung keluar membuat suasana agak kacau. Anak-anak digeser kesana-kemari, ada yang belum dapat kertas, ada yang mepet sekali antara papan caturnya sehingga tidak dapat tempat menulis yang leluasa. Sementara itu, para orangtua dan tim pelatih ingin memastikan anak-anak mereka bisa mulai bermain dengan baik.

Aku sendiri sempat panik karena Duta dapat kertas yang sudah tidak menyatu dengan 2 lembar kopiannya. Duta sepertinya tidak sadar kalau lembar ke-2 dan ke-3 itu akan langsung tertulis kalau dia menulis halaman satu. Padahal kopian itu jadi bukti pertandingannya.

Haduh, masa seperti itu tidak boleh protes. Tapi mau protes ya takut karena wasitnya sudah pusing sehingga ngomongnya agak tinggi suaranya.

Akhirnya aku hanya menitipkan kondisi Duta kepada pak Syaiful (pelatih DKI) dan memasrahkan pertandingan pertama ini sambil duduk di tribun dengan hati deg-degan.

Memulai kegiatan tepat waktu dan dengan persiapan matang memang menjadi tantangan dalam pengorganisasian kegiatan di Indonesia. Apakah tidak bisa diperbaiki? Aku sih yakin bisa.

Setelah terlambat 1 jam dari jadwal yang ditetapkan, babak pertama akhirnya dimulai. Babak pertama ini Duta melawan teman satu kontingennya sendiri, Chevenzo Mumtazilla dari DKI.

***

Makanan yang Kurang Ramah Anak Kecil

Semalam Duta tidur cukup nyenyak walaupun berselimut handuk. Mungkin dia capek karena kemarin bangun terlalu pagi untuk mengejar pesawat pukul 7 di Bandara Soekarno Hatta. Pagi ini Duta kelihatannya agak kelaparan karena ketika sarapan, dia langsung lari antri duluan sementara aku masih menyapa beberapa orangtua di meja.

“Duta, banyak banget ambilnya?” tanyaku melihat Duta mengambil nasi goreng dalam porsi yang banyak.

“Duta kan laper, Bu”

“Tapi jangan langsung banyak, mending nambah aja.”

“Duta lapar, Bu.”

Aku terkejut melihat porsi nasi goreng yang diambil Duta pagi

ini. Aku khawatir dia tidak habis. Begitu suapan pertama wajah Duta langsung berubah

“Peeeedesss!”
“Yaaah, pedas banget?” tanyaku panik

“Peedess!”
“Paling tidak Duta makan 5 sendok aja ya”

Setelah menyuap 3 sendok nasi goreng, wajah Duta terlihat seperti mau menangis karena tidak tahan kepedasan.

“Pedes, Buuu!”
“Ya sudah telurnya saja..” akhirnya aku memberkan kelonggaran pada Duta.

Keluarga kami punya aturan main, setiap ambil makanan harus dihabiskan. Kami keras dalam menegakkan aturan tidak boleh menyia-nyiakan makanan. Lebih baik ambil sedikit lalu nambah, daripada banyak tapi tidak habis.

Tapi pagi ini, aku gamang antara ingin memaksanya menghabiskan nasi gorengnya yang pedas dengan resiko menghancurkan mood Duta pagi ini. Belum lagi kalau dia jadi sakit perut karena perutnya tidak tahan.

“Kita berdua ya, ibu bantu. Tapi Duta habiskan telurnya”
“Oke…”

Sebenarnya aku sedang membangun kebiasaan tidak sarapan dan mengurangi makan nasi. Menghabiskan nasi goreng di piring Duta menjadi tantangan sekali buatku.

Untuk Duta, untungnya aku bisa mengisi termos yang kubawa dengan air panas sehingga aku bisa menyeduh susu sereal untuk sarapan Duta.

***

Gens Una Sumus, Kita Semua Satu Keluarga

Salah satu hal yang paling menyenangkan dalam Kejurnas ini adalah kesempatan untuk berinteraksi dengan banyak orang dari berbagai kota di Indonesia. Waktu berangkat aku satu penerbangan dengan kontingen dari Lampung, sampai di penginapan aku berkenalan dengan ibu-ibu kontingen Kepualauan Riau bahkan kami kini sudah bertukar nomor telpon, tadi pagi dalam perjalanan menuju stadion aku satu tempat duduk dengan seorang gadis manis berusia 15 tahun perwakilan Maluku yang terbang bersama adiknya yang juga atlit catur.

Ada kabar Kejurnas Catur tahun depan akan diselenggarakan di Ambon. Wow… seru juga kalau bisa keliling Indonesia melalui catur seperti ini.

Suasana dalam kejurnas ini juga sangat kekeluargaan. Rasanya seperti satu keluarga besar yang tumbuh bersama dan saling merindukan. Tak heran, rata-rata mereka sudah bertahun-tahun ikut kejurnas dan saling berjumpa dalam aneka kompetisi.

Kalau ada sebuah hal yang paling membuatku tidak nyaman dalam lingkungan catur ini adalah asap rokok. Hampir di setiap titik ruang tunggu ada saja yang merokok. Di asrama haji saja kalau keluar ruangan sering tercium bau rokok. Lama-lama pusing juga.

***

Belajar Menikmati Hari

Ok, selamat datang hari-hari menegangkan. Untung aku bawa laptop, jadi paling tidak lumayan bisa menulis sambil menunggu sambil mengerjakan pekerjaan-pekerjaan lainnya.

Semoga Duta juga menikmati hari-hari pertandingannya.

Share this post

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.