memilah

Decluttering – Menjaga Konsistensi

memilahSalah satu alasan mengapa rumahku sulit rapi adalah karena ada banyak sekali barang di rumah. Beberapa tahun terakhir aku selalu mencoba untuk melakukan decluttering atau memilah dan mengeluarkan barang dari rumah entah dalam bentuk donasi, dijual di Bank Sampah atau dibuang ke tempat pembuangan sampah.

Biasanya aku melakukan decluttering menjelang hari Bank Sampah (sekitar 2 minggu sekali). Tapi tahun ini aku mau kembali membangun konsistensi untuk melakukan 15 menit decluttering per hari di luar pengurangan besar-besaran menjelang waktu untuk setor ke Bank Sampah.

Terinspirasi dari adikku Andit yang mampu melakukan komposting setiap hari dan mendokumentasikannya dengan baik selama hampir 4 bulan terakhir. Akupun ingin mampu melakukan hal yang sama di titik decluttering.

Dari hasil banyak membaca di internet dipadu dengan pengalaman decluttering selama ini, aku sadar bahwa kegagalanku menjaga konsistensi biasanya karena:

1. Ingin melakukan terlalu banyak.
Maklum namanya juga gatel ya, merasa banyak bener yang perlu dipilah. Hal ini membuatku sulit berhenti ketika mulai bebenah. Puas sih dengan hasilnya, tapi kalau mau mulai lagi yang kebayang pertama kali adalah rasa capeknya dan itu ternyata cukup efektif untuk membuatku menunda melakukan decluttering yang berikutnya.

Tahun 2015 ini aku memutuskan untuk kembali ke 15 menit/hari. Maksudnya, aku betul-betul hanya akan memilah barang selama 15 menit. Seberapapun yang kudapat, segitu aku berhenti.

2. Jadwal orang lain
Beberapa kali aku merasa sulit untuk melakukan decluttering sendirian, jadi aku mengikuti tantangan yang ditawarkan beberapa situs luar negeri yang mengkhususkan di titik home organizing atau home cleaning seperti Fly lady atau Home Storage Solution, dll.

Dari pengalamanku situs-situs ini saaaangat bagus untuk memberikan inspirasi, tapi perbedaan budaya dan kebiasaan yang terjadi di tiap rumah ternyata membuatku malah jadi merasa terintimidasi oleh “tantangan2” yang dibuat.

Tahun 2015 ini aku memutuskan untuk memulai dari titikku sendiri yaitu kamar tidurku, lalu bergeser ke kamar kerja di sebelah kamar tidur, baru bergeser ke kamar mandi, kamar anak, dan setelahnya baru keluar. Kecuali kalau waktunya memilah besar yang memang sudah menjadikan kebiasaan seluruh keluarga setiap menjelang waktu setor ke Bank Sampah. Tentu saja aku tetap mencari inspirasi penyemangat di media sosial seperti di sini, tapi aku akan berusaha menjaga untuk tidak sampai terintimidasi oleh kekerenan mereka. Hehehe..

3. Kemelekatan
Aku masih terlalu banyak berfikir dan masih banyak memiliki kemelekatan terhadap suatu benda. Aku besar dengan orangtua yang suka mengoleksi banyak hal. Eyangku juga suka mengoleksi banyak hal. Tantanganku saat ini adalah untuk bisa fokus pada masa kini. Dan mampu meluruhkan kemelekatanku pada benda-benda yang ada di sekitarku

Tahun 2015 ini setiap decluttering aku akan bertanya pada diriku sendiri, “kapan terakhir kali memakai benda ini?” Kalau waktunya cukup lama itu berarti sebenarnya aku tidak butuh. Dan aku harus bisa menguatkan diriku untuk menyingkirkannya dari hidupku atau paling tidak meyakini bahwa benda ini kemungkinan besar akan menjadi sangat berguna bagi orang lain.

Yah sudah, tiga itu saja.. Hehehe. Masih seperti posting yang pernah aku buat di awal tahun baru, tidak banyak rencana tapi lebih berfokus pada menjaga konsistensi. Makanya bikin ceklist yang cakep biar tambah semangaaaaaaaaaat!

Tulisan menarik lainnya

Share this post

5 thoughts on “Decluttering – Menjaga Konsistensi”

  1. Mbak Lala, aku setuju banget tuh yg no 1
    Saking semangat beberes sampai kinclong, malah bikin trauma
    Akhirnya setiap mau mulai beberes (lagi), langsung ilfeel ingat boyok bakal encok hahaha
    Ya ya ya bener banget, beberes gak boleh berlebihan ya yg penting disiplin
    Thanks infonya Mbak Lala

  2. Lagi dapat serangan ‘frozen legs’ alias gak bisa ngapa2in liat tumpukan barang. Dan kyknya rumus 15 menitnya boleh di coba ni. Semangaaat! Thank you yaa Buu

  3. Wah ini bisa kucoba utk diriku sendiri dan keluarga kecilku. Tapi bagaiimana ya caranya menganjurkan ke orangtua? Orangtuaku adlh produk masa lalu yg serba prihatin. Beliau juga memiliki romantisme terhadap barang yg diperoleh dgn susah payah. Alhasil, skrg rmh ortuku kacau balau penuh barang. Aku dan suami berulang2 mencoba memberi pandangan dan meluangkan tenaga utk beberes, tapi tak pernah berhasil. Yg sering malah membuat beliau marah atau menangis. Akhirnya kami mengalah , walau prihatin dgn persoalan kesehatan dlm rmh ortu. Sudah nyaris 5 thn persoalan menumpuk barang ini merisaukan. Bagaimana ya

    1. Waaaa kalau itu memang susah mbak, saya sendiri belum berhasil ke orangtua sendiri. Hehehehe….
      Jadi lakukan yang terbaik semampu kita mbak, pelan-pelan. Jangan sampai membuat mereka stress juga. Mari sama2 berjuaaang ^_^

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Bagaimana Cara Belajar Anak Homeschooling?

Jangan membayangkan homeschooling hanya dengan mengundang guru privat. Proses belajar dalam homeschooling bisa sangat beragam dan kaya, tergantung pada kreativitas orangtua.

Jika orangtua ingin meningkatkan kualitas homeschooling yang dijalaninya, orangtua perlu meningkatkan kapasitas diri agar anak-anak tidak hanya belajar untuk lulus ujian, tidak hanya belajar berbasis mata pelajaran, tidak hanya belajar dengan mendengarkan ceramah dan latihan soal.

Serial webinar ini akan membahaskan tentang strategi pembelajaran berbasis dunia nyata dan keseharian. Strategi pembelajaran ini bukan hanya penting untuk meningkatkan kualitas pendidikan anak-anak, tetapi juga meningkatkan kepercayaan diri orangtua dan kapasitas keterampilan orangtua sebagai fasilitator dalam proses belajar anak.

Materi yang dibahaskan dalam webinar ini untuk anak beragam usia dari anak usia pra-sekolah hingga SMA.