Belajar Bisnis

Belajar melalui Tycoon (1): Bisnis

Semalam, ketika Yudhis bermain game Tycoons di Facebook, kami terlibat percakapan yang cukup menarik.

“Bu, aku jual emas ya, soalnya harganya lagi naik nih jauh di atas $200. Aku jual $207 ya?” tanya Yudhis kepadaku.
“Ok”

Belajar Bisnis

“Bu, orangnya makin banyak. Jadi pajaknya makin tinggi lho, sudah hampir di atas harga mobil.”

“Coba kamu lihat keuntungan produksinya berapa sekarang”
“Sekitar $530 per menit” kata Yudhis lagi sambil melihat grafik komoditi yang kami miliki dalam game Tycoons.

“Berarti keuntungan total kita berapa?” tanyaku.
Yudhis kemudian terdiam, menghitung.
“$2650/5 menit”

Surprise, ternyata Yudhis sudah mengetahui konsep dasar bisnis. Dia pun mampu menghitung untung-rugi yang cukup kompleks dengan melihat grafik. Untuk mendapatkan hitungan tadi, dia harus membaca grafik, mencari hasil dari jumlah pajak ditambah keuntungan produksi dikurangi harga bahan-bahan untuk keperluan produksi. Semuanya real time, karena grafiknya selalu berubah tergantung perubahan harga barang yang terjadi dalam dunia Tycoons.

Kami memang biasa mengkombinasikan bermain dengan belajar, menggunakan game menjadi salah satu alat bantu untuk mengajarkan aneka pelajaran kepada anak. Tapi tetap saja, aku terpukau melihat bagaimana game Tycoons menanamkan mental pebisnis pada anak usia 9 tahun.

Semenjak Yudhis dan aku mulai bermain Tycoons bulan April lalu, Yudhis menjadi sangat nyambung jika aku dan mas Aar sedang berdiskusi masalah bisnis. Nyambung dalam artian sesungguhnya, mampu berkomentar dan memberikan pendapatnya dengan baik.

Bahkan ketika aku dan mas Aar asyik nonton Dragon’s Den, Yudhis ikut nonton dan mampu mengikuti acara itu dengan penuh antusiasme.

Dragon’s Den adalah acara baru kesukaan kami yang diputar di BBC Knowledge. Acara itu reality show tentang bisnis dan investasi. BBC mengumpulkan beberapa orang pebisnis sukses (the dragon) yang memiliki dana yang dikucurkan untuk investasi bisnis baru. Mereka duduk bersama di meja. Lalu, ada pebisnis baru yang mempresentasikan gagasan bisnisnya dan menawarkan investasi kepada mereka.

Saat menonton Dragon’s Den, Yudhis sesekali berkomentar dan meminta konfirmasi apakah pemahamannya benar. Dia mengomentari pertanyaan dan proses negosiasi antara para dragon dan orang yang presentasi. Dia juga bisa ikut gembira ketika ada dragon yang bersedia menginvestasikan dana (bisa sekitar $100 ribu) untuk sebuah bisnis baru. Terkadang Yudhis bahkan membayangkan dirinya maju untuk mempresentasikan bisnis kepada para konglomerat tersebut untuk meminta mereka menginvestasikan dana untuk bisnisnya.

Inilah pelajaran entrepreneurship ala keluarga kami.

Untuk menjadi partner bisnis Yudhis di Tycoons klik di sini

Tulisan menarik lainnya

Share this post

2 thoughts on “Belajar melalui Tycoon (1): Bisnis”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Bagaimana Cara Belajar Anak Homeschooling?

Jangan membayangkan homeschooling hanya dengan mengundang guru privat. Proses belajar dalam homeschooling bisa sangat beragam dan kaya, tergantung pada kreativitas orangtua.

Jika orangtua ingin meningkatkan kualitas homeschooling yang dijalaninya, orangtua perlu meningkatkan kapasitas diri agar anak-anak tidak hanya belajar untuk lulus ujian, tidak hanya belajar berbasis mata pelajaran, tidak hanya belajar dengan mendengarkan ceramah dan latihan soal.

Serial webinar ini akan membahaskan tentang strategi pembelajaran berbasis dunia nyata dan keseharian. Strategi pembelajaran ini bukan hanya penting untuk meningkatkan kualitas pendidikan anak-anak, tetapi juga meningkatkan kepercayaan diri orangtua dan kapasitas keterampilan orangtua sebagai fasilitator dalam proses belajar anak.

Materi yang dibahaskan dalam webinar ini untuk anak beragam usia dari anak usia pra-sekolah hingga SMA.