Belajar Empati melalui kegiatan Wisata Rumah Ibadah

Kamis (15/6), Yudhis mendapatkan kesempatan mengikuti kegiatan “Wisata Rumah Ibadah” yang diselenggarakan oleh Komunitas Bhinneka. Kegiatan ini dilakukan dengan mengunjungi beberapa rumah ibadah, antara lain: Gereja GPIB Immanuel, Katedral Jakarta, Masjid Istiqlal, Kuil Hoseiji, dan Pura Aditya Jaya Rawamangun.

(C) Komunitas Bhinneka

 

Ada 120 remaja usia SMA dari berbagai latar belakang yang mengikuti kegiatan ini. Mereka berkegiatan bersama seharian, mulai pukul 08.00 hingga 18.00.

Di setiap rumah ibadah, para remaja ini mendapatkan penjelasan dari pemuka agama setempat mengenai sejarah tempat ibadah tersebut serta beberapa pokok ajaran di agama tersebut. Penjelasan itu disampaikan oleh Pendeta Michiko Pinarea Saren S. TH (Gereja GPIB Immanuel), Romo Hani Rudi Hartoko SJ & Romo Antonius (Katedral Jakarta), dan Imam Besar Nasaruddin Umar (Masjid Istiqlal).

***

Perjumpaan Menyambung Hati

Bagi keluarga kami, kegiatan semacam ini memiliki nilai yang sangat penting. Anak-anak di rumah kami didik untuk merasa nyaman dengan iman dan spiritualitas yang kami jalani. Tetapi, pada saat bersamaan anak-anak kami didik dengan sikap pandang “non-judgmental view”.

(C) Komunitas Bhinneka

Artinya, anak-anak belajar tentang teman-temannya yang memiliki agama dan keyakinan yang berbeda-beda. Pengetahuan tentang perbedaan itu hanya sebatas wawasan, tidak dalam rangka menilai siapa yang lebih baik atau menghakimi benar/salah.

(C) Komunitas Bhinneka

Oleh karena itu, kami menyukai kegiatan semacam “Wisata Rumah Ibadah” yang diselenggarakan Komunitas Bhinneka ini. Kegiatan ini menjadi pengalaman personal yang meneguhkan nilai-nilai yang sudah tertanam pada anak-anak. Mereka semakin nyaman karena merasa memiliki teman-teman sejenis, peduli pada spiritualitas dan pada saat bersamaan memiliki nilai kebhinnekaan yang tinggi.

(C) Komunitas Bhinneka

Empati, Toleransi dan Apresiasi

Salah satu nilai penting kegiatan “Wisata Rumah Ibadah” ini menurutku adalah membicarakan agama tidak dalam sudut pandang doktrin dan politik (yang sering berujung konflik dan pertentangan), tetapi dari sudut pandang kemanusiaan dan pengetahuan yang lebih sejuk.

Anak-anak belajar mendengarkan kisah dan cerita dari pihak pertama (pelaku sendiri), bukan yang diceritakan ulang/ditafsirkan oleh pihak ketiga. Anak-anak belajar memperbesar titik-titik perjumpaan & kegairahan kemanusiaan, bukan memperbesar perbedaan yang sudah pasti ada dan banyak sekali.

Ibaratnya, tak kenal maka tak sayang. Perkenalan secara personal dengan yang berbeda akan membuat kita lebih bisa berempati dan bertoleransi dengan liyan. Syukur-syukur, perbedaan itu bisa memunculkan apresiasi tentang hal-hal baik yang dilakukan liyan.

Cerita Yudhis: http://duniayudhis.com/post/wisata-rumah-ibadat-bersama-komunitas-bhinneka/

Tulisan menarik lainnya

– WEBINAR –

Dalam proses pengasuhan, ada aspek-aspek keterampilan dasar yang krusial dan perlu dikembangkan pada anak. Jika anak memiliki keterampilan-keterampilan dasar ini, proses pengembangan mereka saat remaja akan menjadi lebih mudah dilakukan.

Webinar ini membahaskan 10 keterampilan dasar yang perlu dan bisa dikembangkan di rumah untuk anak-anaknya.

10 Keterampilan yang akan dibahaskan dalam webinar

MENJAGA KESEHATAN & KESELAMATAN

  • Pola makan
  • pola tidur
  • pola aktivitas sehat,
  • berenang
  • bela diri
  • pertolongan pertama (P3K)

LITERASI

  • Membaca dan mengerti
  • Membaca petunjuk
  • Membaca resep
  • Membaca rambu lalu lintas
  • Membaca tabel

MENGURUS DIRI SENDIRI​

  • Mengatur waktu
  • Membuat rencana
  • Menepati rencana
  • Mengetahui baik-buruk
  • Mengambil keputusan

BERKOMUNIKASI

  • Mengajukan pertanyaan
  • Mengobrol
  • Berkenalan dengan orang baru
  • Memberi & menerima feedback
  • Mengapresiasi
  • Bernegosiasi

MELAYANI

  • Mengerjakan pekerjaan rumah
  • Berkontribusi di keluarga
  • Berkontribusi di Lingkungan
  • Berkontribusi di sosial.

MENGHASILKAN MAKAN

  • Bercocok tanam
  • Berbelanja
  • Mengolah bahan pangan
  • Memasak
  • Menata masakan

PERJALANAN MANDIRI

  • Naik sepeda
  • Kendaraan umum
  • Membaca peta
  • Bisa pergi ke manapun dan kembali ke tempat asal

MEMAKAI TEKNOLOGI

  • Memakai gadget
  • Mengenal batas hukum & etik
  • Menghindari kecanduan
  • Menggunakan secara produktif

TRANSAKSI KEUANGAN

  • Belanja
  • Mendapat penghasilan
  • Menabung
  • Berinvestasi
  • Transaksi dalam sistem keuangan

BEKERJA

  • Menghasilkan karya
  • Membuat output (tulisan, lagu, musik, cerita/presentasi, video, animasi, dll) sesuai minat & kemampuan

Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on print
Share on email

2 thoughts on “Belajar Empati melalui kegiatan Wisata Rumah Ibadah”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.