(c) robertabaird.com

Belajar Bersyukur

Kemarin Yudhis mendekati Lala yang sedang menggoreng kentang di dapur. Aku kebetulan sedang berada di dekatnya.

“Bu, boleh bagi kentangnya?” tanya Yudhis melihat kentang goreng hasil kupasan dan potongan sendiri yang baru selesai digoreng. Kebetulan Lala sedang ingin makan kentang goreng. Tadi Yudhis ke toko dekat rumah untuk mencari kentang beku siap goreng, tapi sedang kosong.

“Boleh..,” kata Lala sambil meneruskan membuat masakan untuk makan siang.

Yudhis mengambil beberapa potong, memakannya, dan kemudian berkomentar,”Wah… kentangnya enak, Bu.”

“Bagus, Dhis,” kata Lala mengapresiasi Yudhis. “Itu namanya bersyukur.”

“Memang enak, kok..,” kata Yudhis. Padahal, kentang itu adalah kentang biasa. Dan rasanya pasti lebih enak kentang beku yang mirip di restoran cepat saji. Tapi Yudhis tak membandingkan kentang sederhana itu dengan kentang lain yang lebih enak. Dia tak berkomentar negatif. Bahkan, dia memujinya. Buat kami itu adalah sebuah nilai lebih yang sangat pantas diapresiasi.

“Iya… itulah yang dinamakan bersyukur. Selalu berterima kasih atas apapun yang ada di hadapan kita,” imbuh Lala.

Aku yang mendengar percakapan antara Yudhis dan Lala menambahkan dengan pujian, “Bagus, Dhis!”

“Kalau kamu melihat segala sesuatu yang ada di hadapanmu dengan penuh syukur, kamu akan selalu bahagia,” aku mendekat sambil mengusap kepalanya dan berjalan melewatinya. “Percayalah! Kalau kamu selalu melihat hal positif pada semua yang diberikan Tuhan kepadamu, kamu tak akan pernah susah seumur hidupmu. Itulah hal sederhana yang menjadi kunci kebahagiaan dan sering dilupakan orang.”

***

Percakapan itu hanya berjalan sebentar, tak sampai 5 menit. Kami melihat momentumnya, kami memanfaatkannya untuk meneguhkan nilai-nilai moral yang ingin kami ajarkan kepada anak-anak. Peneguhan itu berupa pujian, apresiasi, dan bahasa non-verbal lainnya untuk menunjukkan bahwa kami menyukai sikapnya.

Inilah diantara proses belajar dalam pendidikan karakter di rumah yang berjalan sepanjang waktu, selama bertahun-tahun, selama anak berada didikan kita.

Tulisan menarik lainnya

Share this post

4 thoughts on “Belajar Bersyukur”

  1. Assalamu’alaikum, Terimakasih untuk semua konten rumah inspirasi, semuanya bermanfaat dan menjadi bahan masukan buat blog baru saya. Mohon supportnya.

  2. suka..bgt baca postingan mas Aar dan Mb lala, selalu menginspirasi dan mengingatkan saya untuk selalu berinteropeksi. interaksi dgn anak2 memang membutuhkan kesabaran yg luar biasa dan sebagai orang tua justeru kita harus terus belajar dan belajar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Bagaimana Cara Belajar Anak Homeschooling?

Jangan membayangkan homeschooling hanya dengan mengundang guru privat. Proses belajar dalam homeschooling bisa sangat beragam dan kaya, tergantung pada kreativitas orangtua.

Jika orangtua ingin meningkatkan kualitas homeschooling yang dijalaninya, orangtua perlu meningkatkan kapasitas diri agar anak-anak tidak hanya belajar untuk lulus ujian, tidak hanya belajar berbasis mata pelajaran, tidak hanya belajar dengan mendengarkan ceramah dan latihan soal.

Serial webinar ini akan membahaskan tentang strategi pembelajaran berbasis dunia nyata dan keseharian. Strategi pembelajaran ini bukan hanya penting untuk meningkatkan kualitas pendidikan anak-anak, tetapi juga meningkatkan kepercayaan diri orangtua dan kapasitas keterampilan orangtua sebagai fasilitator dalam proses belajar anak.

Materi yang dibahaskan dalam webinar ini untuk anak beragam usia dari anak usia pra-sekolah hingga SMA.