Andai aku jadi Gayus

Gayus Holomoan Tambunan saat ini adalah ikon dan news maker. Walaupun sudah divonis 7 tahun penjara, dampak gempa yang berpusat pada kedalaman Gayus masih terasa di berbagai penjuru negeri ini.

Dampak sosial dari kasus Gayus ini terasa sangat memiriskan bagi  anak-anak dan masyarakat.

Hari ini Lala bercerita tentang pembicaraan orang-orang yang dia temui di jalan tentang Gayus. Dia bukan hanya mendengar nyanyian lagu “Andai aku jadi Gayus” yang diputar terus di mana-mana. Yang merisihkan, orang-orang mulai memandang perilaku Gayus sebagai hal yang biasa (bukan kejahatan), bahkan cenderung mengidolakannya.

Beberapa waktu yang lalu, aku sudah mendengar cerita dari bu Yayah tentang seorang anak yang cita-citanya menjadi seperti Gayus. “Dapat duit banyak dari korupsi. Kalaupun dipenjara, toch hanya sebentar saja. Tapi duitnya sudah banyak dan bisa untuk hidup enak sesudah dipenjara.” Begitulah logika mereka.

Wow..?!

**

Fenomena Gayus menjadi pukulan mematikan kedua dalam dunia pendidikan/anak-anak setelah fenomena Ariel Peterpan. Keduanya menghancurkan tata nilai tentang apa yang dinilai baik dan mulia, hal-hal yang patut dicita-citakan oleh anak-anak kita. Pada saat ekspose tentang fenomena ini sangat gencar, pada waktu bersamaan kita tak memiliki ekspose lain yang positif yang bisa menjadi penyeimbang dan memberikan tawaran nilai untuk anak-anak kita.

Gayus dan Ariel adalah bagaikan pembuka kotak pandora, yang menyingkap kotak neraka sehingga setan-setan berlarian ke seluruh penjuru negeri ini.  Sebuah kejahatan dan tabu sosial yang sama-sama diketahui, tapi selama ini disimpan rapat-rapat; kini menjadi sebuah hal yang dibicarakan biasa-biasa saja secara terbuka tanpa perasaan bersalah/berdosa; bahkan kemudian menjadi nilai yang dicita-citakan dan diidolakan.

Ini adalah sebuah hal yang besar.

**

Terus bagaimana?

Sisi positifnya, kita sekarang semakin mengakui bahwa negeri kita ini bukan hanya banyak dihuni orang-orang munafik (yang secara sosial kelihatan baik, tetapi sebenarnya berperilaku jahanam). Tetapi, mata kita semakin terbuka bahwa di negeri ini memang banyak jahanam yang menjadi musuh bersama kita.

Dalam realitas pendidikan dan keluarga, fenomena Gayus ini menambah pekerjaan rumah yang besar bagi kita. Kita dituntut untuk menunjukkan secara nyata bahwa kepada anak-anak kita bahwa cara hidup yang benar masih layak dijalani dengan sepenuh hati. Walaupun hal ini sebenarnya sudah merupakan tanggung jawab yang melekat sehari-hari, kini tanggung jawab itu harus diekspresikan lebih nyata melalui pemihakan nilai yang jelas, yang ditunjukkan dalam kehidupan sehari-hari.

Tentu saja ini bukan hal yang mudah. Anak-anak kita bukan hanya dipengaruhi oleh kita, tetapi juga oleh masyarakat tempat kita hidup bersama.

Problemnya adalah kita hanya memiliki dua pilihan, larut dan membiarkan semua nilai itu menerpa keluarga dan anak-anak kita begitu saja. Atau bertarung, menyalakan cahaya dan berusaha menembus gulita di sekitar kita.

**

Jika kita percaya bahwa terang lebih kuat dari gelap, maka sudah jelas bahwa pilihan kita adalah memilih terang untuk diri kita. Semoga terang dalam diri kita bisa menerangi keluarga kita. Syukur-syukur, terang itu bisa memicu terang-terang lain di sekitar kita, yang akan membukakan jalan bagi siapapun yang berjalan melakukan tugasnya.

– WEBINAR –

Dalam proses pengasuhan, ada aspek-aspek keterampilan dasar yang krusial dan perlu dikembangkan pada anak. Jika anak memiliki keterampilan-keterampilan dasar ini, proses pengembangan mereka saat remaja akan menjadi lebih mudah dilakukan.

Webinar ini membahaskan 10 keterampilan dasar yang perlu dan bisa dikembangkan di rumah untuk anak-anaknya.

10 Keterampilan yang akan dibahaskan dalam webinar

MENJAGA KESEHATAN & KESELAMATAN

  • Pola makan
  • pola tidur
  • pola aktivitas sehat,
  • berenang
  • bela diri
  • pertolongan pertama (P3K)

LITERASI

  • Membaca dan mengerti
  • Membaca petunjuk
  • Membaca resep
  • Membaca rambu lalu lintas
  • Membaca tabel

MENGURUS DIRI SENDIRI​

  • Mengatur waktu
  • Membuat rencana
  • Menepati rencana
  • Mengetahui baik-buruk
  • Mengambil keputusan

BERKOMUNIKASI

  • Mengajukan pertanyaan
  • Mengobrol
  • Berkenalan dengan orang baru
  • Memberi & menerima feedback
  • Mengapresiasi
  • Bernegosiasi

MELAYANI

  • Mengerjakan pekerjaan rumah
  • Berkontribusi di keluarga
  • Berkontribusi di Lingkungan
  • Berkontribusi di sosial.

MENGHASILKAN MAKAN

  • Bercocok tanam
  • Berbelanja
  • Mengolah bahan pangan
  • Memasak
  • Menata masakan

PERJALANAN MANDIRI

  • Naik sepeda
  • Kendaraan umum
  • Membaca peta
  • Bisa pergi ke manapun dan kembali ke tempat asal

MEMAKAI TEKNOLOGI

  • Memakai gadget
  • Mengenal batas hukum & etik
  • Menghindari kecanduan
  • Menggunakan secara produktif

TRANSAKSI KEUANGAN

  • Belanja
  • Mendapat penghasilan
  • Menabung
  • Berinvestasi
  • Transaksi dalam sistem keuangan

BEKERJA

  • Menghasilkan karya
  • Membuat output (tulisan, lagu, musik, cerita/presentasi, video, animasi, dll) sesuai minat & kemampuan

Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on print
Share on email

3 thoughts on “Andai aku jadi Gayus”

  1. Saya selaku ibu dari 3 orang putra putri, turut berduka cita atas lahirnya 2 selebriti paling top sekarang itu. Yang terus-menerus makin diekspos saja oleh media-media pembodohan nilai dan karakter unggulan bangsa Indonesia. Kiranya kita sudah sangat membutuhkan sekali lahir pribadi-pribadi yang berani menunjukkan ini lho, saya kebanggaan orang Indonesia…..!!!!
    Saat ini saya sangat ingin sekali untuk segera melihat mereka dipampangkan dengan muka-muka malu penuh penyesalan. Tidak dengan wajah dan profil ketenaran yang memuakkan. 👿

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.