Kami sudah menjalankan homeschooling lebih dari 20 tahun. Anak kami lahir tahun 2000, 2004, dan 2008. Ketiganya sama sekali tidak pernah TK sampai SMA.
Dari perjalanan panjang itu, ada hal-hal yang kami lihat lebih jernih sekarang. Inilah yang akan kami lakukan berbeda jika memulai lagi di tahun 2026.
1. Belajar Cepat, Bukan Hanya Mengandalkan Intuisi
Dulu, kami mulai homeschooling dengan modal yang sangat terbatas. Internet belum seperti sekarang. Buku tentang homeschooling hampir tidak ada di Indonesia. Buku yang kami punya sangat terbatas, dan semuanya berbahasa Inggris.
Kami jalan dengan intuisi. Dengan keyakinan bahwa pendidikan anak tidak harus seperti pabrik. Bahwa anak-anak perlu lebih banyak bermain, eksplorasi, dan belajar di dunia nyata. Waktu itu rasanya cukup membuat kami merasa yakin menjalankan homeschooling.
Sekarang kondisinya sama sekali berbeda.Ada AI. Ada YouTube yang isinya luar biasa. Ada komunitas homeschooling yang aktif di media sosial. Ada PKBM yang sudah mulai ramah dengan homeschooling. Ada pelatihan yang bisa diakses dari mana saja.
Kalau memulai lagi sekarang, kami akan belajar cepat terlebih dahulu. Menyerap sebanyak mungkin dari sumber yang ada, menyaring esensinya, lalu mulai praktik bersama anak-anak.
Tantangan di era sekarang justru kebalikannya dari dulu. Bukan kekurangan informasi, tapi kelebihan. Banyak orang akhirnya freeze karena terlalu banyak pilihan. Kemampuan menyaring dan mengambil esensi itulah yang menjadi kunci.
2. Fokus pada Stimulasi Sensori di Usia Dini
Dulu, salah satu referensi kami di usia dini adalah buku Slow and Steady, Get Me Ready dan Brain Rules for Baby. Sudah lebih baik dari banyak orang karena kami tidak mengejar akademis sejak dini. Tapi kerangka pengetahuannya kurang lengkap.
Kalau memulai lagi sekarang, kami akan membangun fondasi dari stimulasi sensori. Sensori motor, sensori perseptual, dan semua yang terkait dengan kesiapan tubuh anak untuk belajar.
Kenapa ini penting? Karena tubuh yang siap membuat semua proses belajar berikutnya menjadi lebih mudah. Bukan akademis yang dikejar. Bukan kecerdasan yang diukur. Tapi fondasi yang dibangun dengan sabar sejak awal.
Ilmu tentang ini sekarang sudah banyak tersedia dan bisa dipelajari. Kami akan mulai dari sana.
3. Lebih Santai Soal Masa Depan
Ini yang paling berat di awal perjalanan kami. Tidak ada teman yang menjalankan hal yang sama. Referensi semua dari luar negeri. Dan ketika orang-orang di sekitar bertanya, “Nanti anak mau jadi apa?” kami selalu bisa menjawab dengan percaya diri di luar. Tapi di dalam, pertanyaan itu tetap ada.
Sekarang, setelah lebih dari 20 tahun, kami bisa melihat dengan lebih tenang. Anak-anak kami bisa masuk perguruan tinggi. Bisa menjalani ujian tanpa masalah. Salah satu anak kami bahkan menjadi atlet catur nasional, berangkat dari minat yang kami dampingi dan olah bersama.
Kalau memulai lagi sekarang, ada satu hal yang memudahkan: bukti nyatanya sudah ada di mana-mana. Banyak anak homeschooling yang sudah dewasa, sudah kuliah, sudah bekerja, sudah membangun sesuatu. Anda bisa melihatnya sendiri di media sosial.
Dunia juga sedang berubah dengan cepat. Pekerjaan berbasis keahlian semakin relevan. AI mengubah banyak hal. Dalam konteks ini, homeschooling justru memberi ruang yang lebih luas untuk mempersiapkan anak menghadapi dunia yang tidak linier.
4. Berjejaring Sejak Awal
Kami baru benar-benar berjejaring dengan sesama keluarga homeschooling setelah satu dekade berjalan. Waktu itu Mas Aar membuat mailing list (yahoogroups) untuk mencari teman diskusi. Bergabung dengan komunitas online dari luar negeri. Mencari siapa saja yang tertarik homeschooling di Indonesia. Baru setelah lebih dari satu dekade, aku bersama kedua sahabatku, Mella & Wiwiet membuat Klub Oase. Komunitas keluarga praktisi homeschooling yang tumbuh bersama.
Ketika kami mulai aktif berkegiatan bersama di Klub Oase & berjejaring dengan keluarga-keluarga homeschooling lain, lompatannya besar sekali. Ada orang tua yang jago bikin video, mengajak anak-anak belajar produksi video bersama. Ada yang senang menulis, membangun klub menulis. Masing-masing membawa keahliannya, dan anak-anak terpapar pada lebih banyak mentor dan pengalaman nyata di luar keluarganya sendiri.
Kalau memulai lagi sekarang, ini yang akan kami lakukan pertama setelah belajar dan merasa yakin adalah mencari teman seperjalanan, syukur-syukur ada komunitas yang bisa kami ikuti. Sekarang tidak ada alasan untuk tidak punya teman sesama praktisi homeschooling. Media sosial, grup online, komunitas di kota masing-masing sudah mulai banyak. Andai belum berjumpa secara fisik, tapi paling tidak secara online ada banyak sekali.
5. Berangkat dari Anak, Bukan dari Kurikulum
Dulu kami juga terjebak mencari kurikulum yang tepat. Kami pernah mempelajari kurikulum Cambridge dengan serius. Bagus dan terstruktur, tapi tidak cocok dengan karakter keluarga kami yang lebih seni, lebih praktikal, lebih ingin anak-anak mandiri dan berproses sendiri.
Pengalaman bersama anak ketiga kami mengajarkan banyak hal. Dia punya tantangan di aspek akademis. Tapi ketika minatnya pada catur ditemukan, didampingi, dan diasah, dia berkembang menjadi atlet catur nasional.
Dari situ kami belajar: potensi anak itu besar, dan peluang pertumbuhannya banyak. Kuncinya adalah pengamatan dan pendampingan, agar apapun yang menjadi ketertarikan anak bisa diolah menjadi pertumbuhan, keterampilan, dan keahlian.
Kalau memulai lagi sekarang, kami akan lebih lapang sejak awal. Lebih percaya pada proses. Gesekan dengan anak-anak berkurang ketika kita tidak memaksakan gambaran kita tentang mereka. Dan kualitas homeschooling biasanya terjaga ketika hubungan orang tua dan anak tetap hangat dan terbuka.
Pertanyaan yang Sering Ditanyakan
Apakah homeschooling di Indonesia legal?
Ya, homeschooling di Indonesia diakui secara legal. Anak-anak homeschooling bisa terdaftar melalui PKBM dan berhak mengikuti ujian kesetaraan untuk mendapatkan ijazah yang setara dengan sekolah formal. Kami pernah membahaskannya di sini.
Bagaimana anak homeschooling bisa masuk perguruan tinggi?
Anak homeschooling bisa masuk perguruan tinggi melalui ijazah kesetaraan (Paket A, B, atau C) yang diperoleh dari PKBM. Banyak anak homeschooling yang sudah berhasil masuk perguruan tinggi negeri maupun swasta di Indonesia. Kami berbagi pengalaman bagaimana anak kami bisa masuk Universitas Indonesia & Universita Gadjah Mada di sini.
Apakah anak homeschooling bisa punya teman dan kehidupan sosial yang baik?
Bisa. Sosialisasi tidak hanya terjadi di sekolah. Komunitas homeschooling, kegiatan ekstrakurikuler, olahraga, dan berbagai aktivitas di luar rumah semuanya memberi ruang sosialisasi yang nyata bagi anak. Kami bercerita terkait pengalaman sosialisasi anak-anak kami di sini.
Kurikulum apa yang sebaiknya dipakai untuk homeschooling?
Tidak ada satu kurikulum yang cocok untuk semua keluarga. Yang lebih penting adalah memahami karakter anak dan keluarga Anda terlebih dahulu, baru memilih pendekatan yang sesuai.
Apakah orang tua harus punya latar belakang pendidikan tertentu untuk menjalankan homeschooling?
Tidak. Yang lebih penting adalah kemauan untuk terus belajar bersama anak. Di era sekarang, sumber belajar tersedia sangat luas. Orang tua tidak perlu menjadi ahli di semua bidang, tapi perlu menjadi fasilitator yang aktif.
Berapa biaya yang dibutuhkan untuk homeschooling?
Sangat bervariasi tergantung pendekatan yang dipilih. Bisa sangat hemat jika memanfaatkan sumber gratis seperti YouTube, komunitas, dan perpustakaan. Homeschooling tidak harus mahal. Kami membahas tentang biaya homeschooling di sini
Penutup
Kondisi hari ini jauh lebih mendukung dibanding 20 tahun lalu. Pengetahuan tersedia. Komunitas ada. Bukti nyata sudah banyak. Kalau Anda sedang mempertimbangkan homeschooling atau baru memulai, Anda punya modal yang jauh lebih besar dari yang kami miliki waktu itu. Gunakan sebaik-baiknya.
Ingin membaca lebih jauh tentang perjalanan homeschooling keluarga kami? Unduh ebook gratis “Homeschooling ala Rumah Inspirasi” di sini. Dan kalau Anda ingin bertumbuh sebagai orang tua dengan pendampingan yang nyata, Parent Growth Program hadir untuk itu. Satu tahun perjalanan bersama, langkah demi langkah. Selengkapnya di sini.