Working at Home Moms (WAHM)

WAHMSalah satu pertanyaan populer yang sering diajukan kepada kami adalah: bisakah Ibu bekerja melakukan homeschooling? Pertanyaan seperti itu bukan satu kali atau dua kali kami peroleh, tapi lumayan sering.

Ibu-ibu bekerja dan mencari uang untuk memenuhi kebutuhan keluarga karena kondisi eknomi menuntutkan demikian. Mereka bekerja sejak pagi hingga sore, bahkan malam. Sementara anak-anak tinggal di rumah bersama pembantu.

Dengan keadaan yang seperti itu, memang tak mudah untuk memilih homeschooling/home education sebagai sebuah pilihan. Walaupun mereka menyukai gagasan HS/HE dan menginginkannya. Kecuali anak-anak sudah besar dan bisa mandiri.

Lalu, jika ada alternatif lain sumber penghasilan bagi para ibu (yang tak mengharuskan mereka untuk pergi keluar rumah seharian), mungkinkah HS/HE itu bisa dipandang sebagai gagasan yang bagus sekaligus realistis untuk keluarga?

**

“Salah satu hambatan besar dari HS/HE adalah kapasitas ekonomi keluarga. Kalau Ibu-ibu itu bisa mendapatkan penghasilan dari rumah yang setara dengan penghasilannya kalau bekerja di kantor, mereka mungkin akan mempertimbangkan HS/HE dengan serius.” kata Lala.

Obrolan itu memicu diskusi kami mengenai Working at Home Moms (WAHM), ibu-ibu yang bekerja di rumah.

Ah, aku jadi pengin mengeksplorasi gagasan WAHM dan membuat posting-posting tentang WAHM, terutama yang berhubungan dan memanfaatkan teknologi Internet. Jadi pengin bikin posting tentang online business, internet marketing, facebook marketing, dan seputar itu. Mudah-mudahan bisa menjadi inspirasi bagi para ibu atau bapak2 yang ingin merintis penghasilan dari rumah.

**

Semoga Tuhan memudahkan proses ini. Amin.

Tulisan menarik lainnya

About Aar

Aar senang membaca, suka menulis, berbahagia saat berbagi dan bermain bersama anak-anak. Minat utama tentang pendidikan, anak, teknologi, spiritualitas, bisnis, dan apa saja yang membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik. Buku yang telah diterbitkan "Homeschooling Lompatan Cara Belajar" (Elex Media, 2007), "Warna-warni Homeschooling" (Elex Media, 2008).

Komentar

  1. menjadi WAHM tidak harus berkaitan dengan internet marketing atau marketing di internet. Pekerjaan tukang kue lokalan atau penjahit juga menjadikan seorang ibu disebut WAHM.

    • Betul sekali mbak… Karena saya tahunya sedikit tentang Internet, jadi mikirnya “bagaimana memberdayakan potensi Internet utk Ibu2”, termasuk membuat bisnis kue dan penjahit lokalan bisa lebih besar… ^_^

  2. saya banting setir dari dunia IT ke dunia pengajaran (guru private), karena saya suka mengajar, tidak perlu punya boss, bisa senang2 dengan anak2 dsb.

    Ok, emang bisa mengatur waktu tapi tetap suatu profesi kalau ditekuni dengan sepenuh hati, tetap memerlukan waktu yang padat, no problem karena tanpa anak. Cuman kebayang, kalau suatu waktu ada anak, pasti waktu kerja terpotong habis. Saat ini, saya bebaskan anak2 les untuk tinggal belajar di tempat saya sampai jam 11 malem, dan saya tidak mengambil hari libur sama sekali (sabtu minggu tetap ngajar), kecuali libur semesteran.

    Untuk profesi sejenis ini pun, tetap kurang cocok jika saya harus HS anak.

    Ada ide kerjaan yang bisa cepat kelar, datang uang banyak gitu? mimpi kali yaa :)))

  3. WAHM memang dipopulerkan oleh para pebisnis online yang sebagian besar adalah ibu-ibu. Mrk dahulunya adalah oekerja kantoran, kemudian seiring dengan maraknya perkembangan bisnis online, para ibu pun berpotensi menghasilkan uang melalui internet. Tidak semua bisnis online itu cocok untuk ibu2, ada tips dna triknya dalam memilih bisnis online yang tepat dan cocok dengan minat ibu2. Toh tiap ibu juga memiliki minat dan kepribadian yang berbeda.

    Masalah apakah ada bisnis online yang benar2 bisa menghasilkan banyak uang? Jawabannya ada, banyak tapi sekali lagi semuanya disesuaikan dengan minat, kebutuhan, dan kesanggupan tiap individu menjalaninya 🙂

  4. WAHM, saya setuju dengan gagasan ini. Tapi dimana dan bagaimana cara belajarnya?

Tinggalkan komentar Anda

*