Wisata Belajar (6): Taman Tani, Qaryah Thayyibah & Jarimatika

Wisata belajar ke Taman Tani

Senin (20/2), acara wisata belajar di Salatiga masih berlanjut. Ini adalah hari ke-4 perjalanan wisata belajar. Usai melepas lelah dan menginap di rumah Wieda, pagi-pagi kami berjalan kaki menuju rumah Eyang Salim untuk sarapan pagi sekaligus bersiap untuk melakukan kegiatan.

Acara hari ini padat. Yang utama adalah kunjungan ke Taman Tani dan Qaryah Thayibah. Setelah itu dijadwalkan kunjungan ke rumah mbak Septi di Margosari untuk sharing tentang Internet Marketing dan melakukan pembicaraan lanjutan tentang kolaborasi Salatiga-Jakarta.

***

Setelah menjemput kak Fena di Padepokan Lebah Putih, rombongan langsung menuju Taman Tani atau tepatnya sebutannya adalah “Kursus Pertanian Taman Tani” (KPTT) yang berlokasi di Jl. Mayangsari 2, Karangduwet, Salatiga.

Di sini, anak-anak belajar tentang beraneka tanaman dan binatang ternak. Awalnya, rombongan dipisah menjadi dua kelompok. Satu kelompok memulai proses belajar tanaman, sementara kelompok yang lain memulai proses belajar dari binatang ternak.

Kegiatan yang kelihatannya sederhana ini ternyata menarik buat anak-anak. Mereka belajar tentang aneka nama tumbuhan serta cara pembibitannya. Mereka belajar perbedaan benih dengan bibit, bahwa benih adalah biji yang menjadi sumber, sementara bibit adalah benih yang sudah tumbuh menjadi tanaman.

Sementara rombongan yang satu lagi menikmati sapi dan binatang ternak lainnya.

***

Saat acara di Taman Tani belum usai, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 11.00, saat waktu janji kami dengan pak Bahruddin di Qaryah Thayibah. Akhirnya beberapa orang diantara kami berangkat lebih dulu ke Qaryah Thayyibah (QT), sementara anak-anak dan beberapa orang pendamping tetap meneruskan kegiatan di Taman Tani.

Qaryah Thayyibah (QT) adalah satu model pendidikan alternatif yang “memberontak” terhadap kungkungan model sekolah formal yang biasa kita kenal. QT yang berlokasi di desa Kalibening Salatiga memiliki semangat pembebasan yang meniru spirit pendirinya yaitu mas Bahrudin atau biasa dipanggil pak/mas Din.

Berbeda dengan kecenderungan kelembagaan pendidikan yang biasanya mengarah dari formal menuju non-formal dan bermuara di pendidikan formal, Qaryah Thayyibah menempuh jalan sebaliknya, yaitu berawal dari SMP Terbuka, kemudian menjadi non formal, dan bermuara di informal.

“Esensi pendidikan itu ya di informal, pendidikan yang dilaksanakan oleh keluarga dan masyarakat,” kata mas Din dalam perbincangan dengan kami. “Jadi intinya adalah membuat masyarakat yang mandiri, masyarakat yang senang belajar dan produktif menyelesaikan masalah-masalah nyata dalam kehidupan yang ada di sekitar mereka.”

Di Qaryah Thayyibah, selain bertemu dengan mas Bahrudin, kami juga ditemani pak Ridwan (orangtua siswa) dan mbak Lea. Sementara dengan mas Bahrudin kami berbincang tentang spirit dan gagasan filosofis yang terkandung dalam Qaryah Thayyibah, pak dan mbak Lea memberikan informasi sisi praktis Qaryah Thayyibah.

Sekolah ini memang unik. Bagaimana tidak, semua proses belajar itu diorganisir dan ditentukan oleh anak-anak sendiri. Kegiatan apa yang akan dilakukan ditentukan oleh mereka sendiri dalam upacara (sebutan untuk acara rapat besar setiap senin pagi). Tak ada ada guru yang mengajar dalam pengertian seperti sekolah. Anak-anak belajar melalui Internet dan dari siapapun. Satu-satunya mata pelajaran wajib adalah tentang pelajaran tentang kesehatan yang dilakukan setiap hari Jumat.

Mengenali Qaryah Thayyibah serasa membaca buku “Summerhill School” karya AS Neil.

***

Acara ketiga hari ini adalah kunjungan ke rumah mbak Septi yang sekaligus juga merupakan kantor pusat Jarimatika. Dalam hujan deras yang tiba-tiba turun mengguyur, kami meluncur dari Qaryah Thayyibah menuju Margosari.

Di Margosari, acara utama adalah belajar Internet Marketing untuk para karyawan Jarimatika. Yang menjadi narasumbernya adalah mas Faizal Kamal, salah seorang koordinator Bisma Center yang memang ahlinya Internet Marketing.

Sementara pelatihan Internet Marketing berlangsung, yang lain ngobrol dan melakukan kegiatan lain. Yudhis belajar membuat robot bersama Elan dan mas Ipin. Usai pelatihan, acara masih dilanjutkan dengan rapat tentang kolaborasi pengembangan kegiatan Ibu Profesional, mempertajam diskusi awal yang sudah terjadi di Moo’s Camp.

***

Rasanya fisik lelah usai melakukan kegiatan penuh seharian, tapi di hati penuh kebahagiaan. Larut malam, kami pulang dan menginap di rumah bu Iping, salah seorang kerabat yang terus menemani perjalanan kami. Beliau seorang pengusaha konvensi dan jilbab yang tinggal di Sruwen, sebelah selatan Salatiga. Dalam kelelahan perjalanan dan aktivitas sepanjang hari, ternyata ibu2 masih semangat untuk melihat jilbab dan baju2 produksi bu Iping serta mendiskusikan peluang bisnis bersama.

Semangat!

Bersambung keWisata Belajar (7): Atlantic Dreamland

About Aar

Aar senang membaca, suka menulis, berbahagia saat berbagi dan bermain bersama anak-anak. Minat utama tentang pendidikan, anak, teknologi, spiritualitas, bisnis, dan apa saja yang membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik. Buku yang telah diterbitkan "Homeschooling Lompatan Cara Belajar" (Elex Media, 2007), "Warna-warni Homeschooling" (Elex Media, 2008).

Komentar

  1. Mas Aar, jadinya gimana ceritanya dengan SALAM Jogja? Bertemukah dengan contact person yang diberikan mas Yanuar ?

    • Mohon maaf mbak, ternyata kondisinya kemarin tidak memungkinkan. Kami menginap di Kaliurang dan pagi2 sekali sudah harus ke Jakarta. Mudah2an bisa dalam kesempatan yg lain. :)

Trackbacks

  1. [...] (20/02/2012), bertempat di kediaman mbak Septi di Margosari, kami mendetilkan konsep kerjasama dan pembagian tugas. Berbagai hal pokok didiskusikan dan [...]

  2. [...] ke: Wisata Belajar (6): Taman Tani, Qaryah Thayyibah & Jarimatika [...]

Tinggalkan komentar Anda

*