Video “Ariel-Luna”, anak-anak dan keluarga

dokumentasi-keseharian-30-menit

Tanpa sengaja, kemarin aku membaca di news feed Facebook tentang keluhan seorang ibu terhadap fenomena Luna Maya dan Ariel Peterpan yang sedang dihebohkan saat ini. Saya kutip komentar beliau:

“Tadi  siang anak lelaki saya yang berumur 7 tahun kelas 1 SD, pulang sekolah nanya,”Mah, ngapain sih si Ariel? Ada temen di sekolah yang bilang kalo di hp-nya ada si Ariel dan Luna. Isinya dahsyat banget kata temannya..”

Saya sampai terbengong, bingung mau jawab apa. Apa mesti kita bilang yang sebenarnya pada anak usia 7 tahun? Atau kita pura-pura bego dan cepat-cepat mengalihkan pembicaraan? Sampai sore ini si Ariel masih saja menghiasi televisi. Terpaksa cepat-cepet disetel Upin dan Ipin biar gak nanya lagi.”

**

Wah…!! Terus terang aku terkejut dan sekaligus ngeri membayangkan cerita Ibu tersebut. Terkejut atas dahsyatnya efek dari kasus ini ke masyarakat dan ngeri membayangkan anak-anak kecil (bayangkan kelas 1 SD!!!!) menonton video porno melalui handphone bersama teman-temannya. Mau jadi apa negeri ini???

Tapi di dalam rasa syukur yang masih mengandung keegoisan, aku bersyukur karena keluarga kami sama sekali tak terjamah oleh semua kehebohan video mesum mirip “Ariel-Luna” ataupun mirip “Ariel-Cut Tari” itu . Aku dan Lala hampir tak menonton TV karena penuh dengan kesibukan sejak pagi hingga larut malam. Sementara itu, anak-anak di rumah hanya menonton Playhouse Disney & Baby TV dari TV kabel.

Kalau sudah begini, aku betul-betul bersyukur atas perlindungan Tuhan dan karunia-Nya. Walaupun kami bukan keluarga yang berkelebihan materi, tetapi kami selalu berusaha memaksa diri untuk menyediakan dua hal di rumah, yaitu: internet dan TV berlangganan (paid TV). Kami menganggap dua hal itu bukan sebagai biaya (expense), tetapi sebagai investasi.

**

Internet adalah salah satu prioritas utama keluarga kami karena itulah alat kerja kami; sekaligus yang membuat proses homeschooling anak-anak dapat kami jalani dengan lebih mudah. Keberadaan Internet sangat membantu kami untuk mendapatkan berbagai inspirasi mendidikan anak dan materi pendidikan berkualitas internasional dengan biaya yang jauh lebih murah daripada kalau anak-anak bersekolah di sekolah internasional.

Yang kedua, TV berbayar menjadi prioritas pengeluaran keluarga kami dan kami anggap sebagai investasi karena melalui TV ini kami bisa mengelola kualitas tontonan anak-anak. Buat kami, biayanya jauh lebih murah daripada biaya mengkursuskan bahasa Inggris untuk 3 anak. Lagipula, anak-anak senang dan menikmati kegiatan mereka menonton TV tanpa merasa mereka sedang belajar.

Buat kami sendiri, tontonan TV berbayar itu juga memberikan banyak hal yang menyenangkan . Bukan hanya memberikan hiburan, TV berbayar itu memberikan tontonan berkelas dunia yang menginspirasikan berbagai standar kualitas pekerjaan untuk kamil. Manfaat yang lain yang kami rasakan adalah bisa memandang kehidupan dengan lebih sehat dan optimis daripada usai menonton tayangan gosip, debat politik, dan aneka berita skandal yang seolah tak ada hentinya disiarkan TV-TV kita.

**

Ah, tapi rasa hatiku tak bisa bisa berpaling dari keprihatinanku. Ketika memandangi anak-anakku bergembira dan tertawa-tawa menonton Mickey Mouse di layar TV, hatiku dipenuhi dengan rasa syukur karena Tuhan masih mengaruniai kami dengan rezeki dari-Nya untuk memfasilitasi pendidikan mereka.

Tapi ketika membayangkan posting sang Ibu di Facebook di atas, aku kembali merasa gelisah. Tuhan, aku tak bisa menghalau keprihatinan dan kerisauan hatiku. Bagaimana masa depan bangsaku dan nasib anak-anak negeri ini, Tuhan?

Tulisan menarik lainnya

About Aar

Aar senang membaca, suka menulis, berbahagia saat berbagi dan bermain bersama anak-anak. Minat utama tentang pendidikan, anak, teknologi, spiritualitas, bisnis, dan apa saja yang membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik. Buku yang telah diterbitkan "Homeschooling Lompatan Cara Belajar" (Elex Media, 2007), "Warna-warni Homeschooling" (Elex Media, 2008).

Komentar

  1. Saya dan suami juga prihatin banget dengan siaran TV lokal sehingga kami sekeluarga juga tidak pernah menonton TV lokal (dengan sengaja kita tidak punya antena TV).

    Kita juga tidak langganan Cable TV, hanya internet saja.

    Jadi si kecil hanya nonton DVD saja, yang hanya boleh ditonton dengan supervisi mama dan/atau papanya. Itupun rata-rata seminggu kalau dihitung-hitung kurang dari 3 jam! hehehe… anak kami mungkin salah satu anak balita yang duduk paling sebentar di depan TV dibanding anak2x kota besar di Indonesia :p.

  2. setujua banget Mas…
    tontonan TV lokal kita overload dengan tayangan yang sama sekali tidak bermutu dan tidak mendidik..
    kami di rumah juga hanya menyediakan internet dan TV Kabel. anak-anak kami juga nontonnya ya Playhouse Disney…trims ya sharingnya..saya sungguh-sungguh diteguhkan..ternyata kami tidak sendirian 😀

Tinggalkan komentar Anda

*