Ujian Nasional Sekolah Rumah 2010

ujianBeberapa hari yang lalu, pak Budi Trikorayanto, ketua Komunitas HS Pelangi menulis di wall Facebook Lala, mengundang kami untuk hadir pada tryout Ujian Nasional SekolahRumah (UNSR) 2010.

Sebelumnya kami sudah pernah mendengar tentang UNSR ini, tapi tidak pernah mendapatkan detil informasi apa sebenarnya UNSR 2010. Jadi, kami memutuskan untuk datang pada acara seminar dan tryout yang berlangsung hari ini, Rabu 14/4/2010, di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ). Here we come. Kami -lengkap sekeluarga- datang bersama memenuhi undangan pak Budi.

Sesampai di lokasi, saya bertemu bu Yayah Komariah (ketua Komunitas Berkemas) yang sudah lama sekali tak bertemu. Beliau adalah salah seorang panitia UNSR 2010. Dari bu Yayah, saya mendapatkan gambaran mengenai kegiatan ini.

**

Jadi, menurut ceritabu Yayah, di daerah Tangerang ada seorang pejabat Diknas, Kepala PNFI (pendidikan non formal dan informal) kota Tangerang Selatan, bernama pak Didi. Beliau sangat membuka diri terhadap homeschooling dan bersedia memfasilitas kegiatan-kegiatan homeschooling. Berkat usaha pak Budi yang membawa bendera Asah Pena Tangerang, Diknas Tangerang Selatan setuju dan mengizinkan Ujian Kesetaraan khusus untuk anak-anak homeschooling. Itulah yang disebut UNSR 2010.

Inisiatif ini adalah sebuah kemajuan. Sebab, biasanya ujian kesetaraan itu digabung antara anak-anak homeschooling dengan peserta PKBM yang usianya sudah relatif banyak (rata-rata sudah bekerja). Dan proses ujiannya seringkali “tahu-sama-tahu” karena peserta ujian kesetaraan dari PKBM yang sudah bekerja itu biasanya mengejar ijazah (kelulusan) untuk meningkatkan jenjang karirnya. Sementara itu, anak-anak HS mengikuti ujian sebagai alat evaluasi proses belajar (selain tentu saja untuk mendapatkan ijazah kelulusan buat melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi).

Yang menarik juga dari UNSR 2010, ujian kali ini membuka peluang untuk dilakukan secara online. Ada siswa yang ujian di Batam, Yogya, Malang, Jember. Ini tentu saja adalah sebuah terobosan dari Diknas Tangerang Selatan, yang berani menginisiatifkan hal ini. Dalam penjelasan pak Didi, proses UNSR dan ujian online ini sudah dikonsultasikan dan mendapat restu dari Instansi Diknas yang lebih tinggi (provinsi & pusat).

Total peserta UNSR 2010 ini adalah 327.

**

Ketika masih di rumah, ada beberapa pertanyaan yang ada di benak saya mengenai UNSR ini, terutama pada aspek legalitasnya. Ujian ini mengacu ke mana karena di dalam UU Sisdiknas, hanya dikenal dua jenis ujian, yaitu untuk jalur pendidikan formal (sekolah) dan ujian kesetaraan. Tak ada ujian informal atau ujian khusus untuk anak-anak homeschooling.

Apa hubungannya UNSR ini dengan Ujian Nasional yang diselenggarakan oleh sekolah karena sama-sama menggunakan istilah ujian nasional? Apakah UNSR ini berskala nasional? Apakah ujian ini akan diwajibkan untuk anak-anak HS sebagaimana UN diwajibkan untuk anak-anak sekolah?

Dari penjelasan bu Yayah bahwa UNSR ini adalah Ujian Kesetaraan, pertanyaan saya mengenai legalitas terjawab. Terobosan utamanya terletak pada ujian yang dipisahkan antara anak-anak HS. Tetapi struktur legalitasnya tetap mengacu pada ujian persamaan.

Dari perbincangan dengan pak Budi, saya mendapat penjelasan bahwa kewenangan penyelenggaraan Ujian Kesetaraan berada di tingkat Diknas Kota. Dan UNSR ini semuanya menginduk pada Diknas kota Tangerang Selatan. Jadi, saya mengambil kesimpulan bahwa sebenarnya skala ujian ini adalah lokal, bukan nasional.

**

Untuk terselenggaranya ujian khusus anak-anak homeschooling ini, saya menyampaikan apresiasi kepada pak Didi sebagai pejabat Diknas yang bersedia memfasilitas proses ujian ini dan juga pak Budi yang menginisiatifkan, serta teman-teman Komunitas HS yang menjadi panitia ujian ini. Secara pribadi, saya masih berharap mudah-mudahan keterbukaan dari Diknas itu tak hanya terjadi di Tangerang Selatan, tetapi juga di kota-kota lain; demikian juga kemudahan menjalani ujian-ujian bagi HS.

Sebagai catatan kecil atas ujian ini dan berdasarkan substansi kegiatan yang dilaksanakan, menurut saya mungkin nama yang lebih tepat untuk ujian ini adalah Ujian Kesetaraan Sekolah Rumah (UKSR). Saya kira secara legal dan bahasa, istilah UKSR lebih sesuai dan tidak menimbulkan kerancuan.

Tak perlu ada kata-kata nasional karena ujian ini bersifat lokal (walaupun pesertanya bisa dari berbagai kota). Pemakaian istilah ujian kesetaraan juga menegaskan posisi legalitasnya, disamping menghindari adanya kekhawatiran bahwa posisi ujian ini akan diberlakukan seperti ujian nasional yang ada di sekolah formal.

**

Pada saat yang sama, hari ini saya mendapat kejutan karena saya ditarik mas Abi (Komunitas Semut) bersama pak Budi dan kemudian didudukkan di kursi pembicara yang ada di depan bersama pak Didi (Diknas Tangerang Selatan) dan pak Jimmy Paat (Sekolah Tanpa Batas).

Dari posisi sebagai tamu, tiba-tiba saya berubah menjadi salah seorang narasumber yang berbicara di depan. Jadilah saya kemudian ikut sharing bersama orangtua HS dan pengelola Komunitas HS yang sedang menunggu anak-anak yang menjalani ujian tryout.

Salah satu poin dari pak Jimmy Paat yang menarik buat saya adalah pernyataan beliau bahwa pendidikan alternatif harus membuat ciri khusus, yang membedakan dengan sekolah. Kalau ternyata sama saja dengan sekolah, itu namanya bukan pendidikan alternatif, hanya berubah bentuk/institusi saja.

Saya setuju. Kekhususan, keberbedaan bukanlah cela, tetapi justru menjadi penanda dari sebuah alternatif. Perbedaan materi yang dipelajari, perbedaan kurikulum, perbedaan cara belajar adalah sebagian dari ciri alternatif itu. Dan saya melihat, secara filosofi HS/HE memang memiliki peluang untuk menjadi alternatif.

Tetapi semuanya tentu kembali pada praktisi HS/HE. Apakah mereka akan meniru sekolah formal dengan sedikit modifikasi, atau mereka berani mengambil bentuk-bentuk lain yang lebih radikal dan tidak konvensional. Mungkinkah akan ada HS ala pebisnis, HS ala penulis, HS ala pemusik, HS ala fotografer, HS ala programmer, HS ala crafter, HS ala traveller, atau model-model HS yang berciri khusus lainnya?

Apakah HS akan menjadi model pendidikan alternatif? Atau HS menjadi sekedar bentuk lain dari sekolah?

Itulah pertanyaan buat kita semua, para praktisi HS/HE.

Tulisan menarik lainnya

About Aar

Aar senang membaca, suka menulis, berbahagia saat berbagi dan bermain bersama anak-anak. Minat utama tentang pendidikan, anak, teknologi, spiritualitas, bisnis, dan apa saja yang membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik. Buku yang telah diterbitkan "Homeschooling Lompatan Cara Belajar" (Elex Media, 2007), "Warna-warni Homeschooling" (Elex Media, 2008).

Komentar

  1. Terima kasih sharingnya Pak Aar. Memperjelas tentang UNSR yang juga sempat menimbulkan banyak pertanyaan di benak saya. Sementara ini kami sendiri masih nyaman dengan model HE informal yang beda dengan cara2 sekolah 🙂

  2. Terima kasih informasinya.

  3. terima kasih atas infonya kami sangat mendukung dan kami mengundang bapak2 ibu2 sekalian untuk silaturahim tasyakuran kamyabi homeschool pada 25 april 2010 di bsd city sektor 1.2 ext blok uk 38 dekat masjid dimic kami tunggu ya wslm

  4. saya tertarik untuk mendidik anak saya dengan metode homeschool. saya sekarang tinggal di ambon, maluku. adakah komunitas homescholl di sekitar ambon? atau semarang-jateng (tempat asal saya?)

  5. Ide yang bagus! Kalo saya harus memilih, mungkin HS anak-anak akan lebih mirip ala pebisnis yang spirituil. g3

  6. Alhamdulillah, ada juga pejabat diknas yang seperti itu. Saya juga setuju dengan peningkatan ke-alternatif-an sekolah alternatif. Selain edukasi terhadap masyarakat, tentu penyediaan sekolah tsb juga harus ditingkatkan.

    Hmm, semoga saya bisa membuatnya suatu saat nanti.

  7. Jago Kandank says:

    Ujian On line seperti apa yach ? sepengetahuan jago kandank di dalam aturan belum diatur tentang ujian online dalam ujian nasional baik formal maupun non formal, kalo terjadi ujian online sungguh ini telah melanggar prosedur … tapiiii…. kalo kebijakan bisa aja.. tinggal kita berpikir kebijakan keliru atau benar sesuai aturan… tapi boleh aja kalo kita sepakat aturan kita langgar bareng-bareng… he…he.. he.. jadi jurig kolektif yooo.. 😆 … hancur dech pendidikan kalo keluar dari aturan yang telah di tetapkan

  8. Kemungkinan anak saya akan ujian kesetaraan pada tahun 2015. Namun kendalanya usianya yg belum genap 12 tahun atau pastinya berumur 11,5th nantinya. Yang saya tahu jika belum genap 12th maka tidak dapat melakukan ujian kesetaraan ini.

    Maka bagaimana agar anak saya dapat melakukan ujian tsb ? Karena secara kemampuan Insya Allah dia mampu. Dan jika ingin melanjutkan kesekolah formal, apakah dengan hanya menggunakan nilai dari ujian ini maka akan dapat diterima karena biasanya sekolah umum juga menyaratkan ada penyertaan nilai raport sedangkan bagi homeschooling tidak ada raport untuk itu karena HS yang kami lakukan hanya dari kami selaku orang tua.

    Lalu kemanakah saya harus mengikuti ujian keseteraan ini ? Saya tidak tau tempat yang tepat untuk melakukan ini.

    Mohon penjelasannya lebih jauh, karena saya sangat membutuhkan informasi ini. Sebelumnya saya ucapkan terima kasih

    • – Utk peserta yg berusia di bawah usia 12 tahun dipersyaratkan tes IQ di lembaga resmi yg ditunjuk dg IQ>130
      – Jika ingin pindah ke sekolah umum, scr formal bisa; tetapi sekolah kadang tidak mau menerima krn belum ada aturan teknis tentang perpindahan jalur dari Diknas.
      – Ujian kesetaraan bisa diikuti melalui lembaga PKBM setempat atau lembaga yg melayani siswa homeschooling. Btw, ibu tinggal di mana?

Tinggalkan komentar Anda

*

Close