Tumbangnya Sinar Harapan, Jakarta Globe, Koran Tempo & Harian Bola

Berita duka yang aku terima hari ini: Sinar Harapan, koran sore yang terbit  sejak 1962 berhenti diterbitkan. Kisah ini menambah deretan korban turbulensi media cetak yang sedang berlangsung pada saat ini. Sebelumnya, media yang menghentikan edisi cetaknya adalah Jakarta Globe, Koran Tempo edisi Minggu, dan Harian Bola.

**

Semua orang tahu, kehadiran Internet berdampak mematikan bagi sebagian besar industri media cetak. Secara substansi, Internet telah mengubah pola konsumsi informasi di masyarakat. Orang lebih banyak membaca informasi dari Internet (yang gratis dan uptodate). Sebagai akibatnya, basis pembaca dan tiras media cetak semakin turun. Konsekuensinya, jumlah dan nilai pengiklan pun turun drastis sementara biaya operasional cenderung stagnan bahkan meningkat.

Korban sudah berjatuhan. Tahun 2014, Kelompok Kompas Gramedia (KKG) menutup 9 media cetaknya. Berdasarkan data The Nielsen Company, sepanjang tahun 2015 ada 16 surat kabar dan 38 majalah gulung tikar.

Media

***

Berita duka media massa bukan hanya terjadi di dalam negeri. Di luar negeri pun koran dan majalah berguguran. Sebagian masih bertahan, seperti The New York Times, dengan oplagnya menurun drastis dan mencoba membuat inovasi media di online.

Sebagian lagi, seperti The Washington Post, beralih kepemilikan kepada Jeff Bezos (pendiri Amazon) yang memiliki kantong dalam untuk menunjang operasional dan sekaligus diharapkan memiliki visi yang bisa memandu di era turbulensi ini.

Media lain menutup edisi cetaknya dan beralih ke online murni seperti Newsweek dan Reader’s Digest.

***

Fundamental Bisnis Media yang Berubah

Problem media cetak memang berat karena perubahannya bersifat sangat fundamental.

Hilangnya Monopoli Informasi

Dari sisi produk yang dijual (informasi), media cetak kehilangan monopoli/eksklusivitas akses informasi yang selama ini dimilikinya. Dulu, media cetak dan jurnalis adalah penguasa informasi dan menjadi perantara dengan publik. Kini informasi bisa mengalir dengan mudah, bahkan uptodate, dengan pemain baru (disrupter) yaitu media online dan masyarakat umum.

Yang paling terkena dampak dari hilangnya monopoli informasi adalah koran umum yang menjual berita (news). Mereka tidak mampu menyaingi sisi aktualitas media online dan TV yang menyajikan update secara cepat atas peristiwa yang sedang berlangsung. Berita di koran terasa hambar karena sebagian besar informasi sudah diketahui sebelumnya.

Perubahan Perilaku Konsumen Informasi

Dari sisi konsumen informasi, terjadi perubahan perilaku sebagai akibat serbuan Internet dan gadget. Dengan gadget di tangan, masyarakat bisa memperoleh informasi yang diperlukan. Mereka tak perlu pergi ke sebuah tempat untuk mendapatkan informasi (karena informasi mendatangi gadget di tangan mereka) dan mereka tak perlu mengeluarkan uang. So, mengapa harus membeli koran dan majalah?

Pudarnya Justifikasi Beriklan di Media Cetak

Dari sisi bisnis, para pengiklan semakin kehilangan justifikasi untuk beriklan di media cetak. Pilihan media untuk advertising semakin banyak. Proses pengambilan keputusan pembelian ternyata tak banyak dipengaruhi oleh iklan di media cetak.

Bukan Sekedar Berubah ke Online

Tak ada solusi sederhana dan mudah untuk kondisi yang dialami media cetak. Bertransformasi ke media online saja tak mencukupi untuk menjadi solusi karena beberapa hal:

  • memiliki media online mengimplikasikan kebutuhan SDM dan sumber daya lain yang tidak murah. Biaya SDM dan sistem relatif konstan, bahkan meningkat dari tahun ke tahun. Untuk menekan biaya, ada yang media yang mencoba berinovasi dengan memanfaatkan kontributor dari publik sebagai pengisi konten seperti yang dilakukan oleh Huffington Post.
  • media online juga membutuhkan banyak keahlian berbeda, mulai yang berkaitan jenis konten yang diproduksi, teknologi, media sosial, hingga pemasaran online.
  • karakter konsumen berbeda memiliki kebutuhan dan cara mengkonsumsi informasi (reading habit) yang berbeda pula. Tentang jenis media, beberapa media seperti The New York Time bahkan bereksperimen dengan menggabungkan teks, grafik, video dan animasi dalam liputannya
  • selain menemukan basis pembaca baru, tantangan yang lebih serius adalah menemukan model bisnis baru untuk media cetak. Model bisnis berdasarkan iklan sebagaimana yang dijalani selama ini sudah tidak memadai lagi.

Mencari Model Bisnis Baru Media Massa

Membangun basis pembaca baru di Internet saja sudah pekerjaan berat bagi media cetak. Apalagi memikirkan aspek bisnis yang memiliki omzet kurang lebih serupa dengan media lama yang bersumber dari iklan dan langganan.

Iklan Online Semakin Murah

Media cetak mengandalkan pemasukan iklan sebagai sumber pendapatannya. Biaya iklan biasanya dihitung berdasarkan tiras yang mengindikasikan jangkauan jumlah pembaca. Media dengan tiras 50 ribu pembaca saja sudah bisa hidup dengan penghasilan ratusan juta per bulan.

Nah, di dunia iklan biaya iklan itu sangat murah. Selain biaya PPM (biaya per 1000 kemunculan), ada PPC (biaya per klik). Untuk sebuah website media dengan 1 juta pageview/bulan (setara dengan 500 ribu orang pembaca), pendapatan yang diperoleh hanya sekitar Rp 150 juta/bulan (asumsi PPM 1$/1000 view, 1jt=$1000, x 10 slot iklan = $10.000 = 150 juta/bulan). Pendapatan ini tentu saja sulit untuk menghidupi sebuah media cetak yang umumnya memiliki karyawan banyak.

Belum lagi, nilai PPM semakin murah karena pengiklan membutuhkan data yang lebih detil tentang profil konsumen yang melihat iklannya.

Konsumen (tidak) Mau Membayar

Karakter informasi online yang berlimpah membuat informasi menjadi komoditi. Selama informasi tersedia luas, maka tak ada yang mau membayar. Model konfirmasi media cetak ke dalam bentuk ebook (PDF) yang dijual tak berhasil menggaet pendapatan signifikan. Konsumen tak mau membayar harga yang sama dengan versi cetak, mereka mengharapkan nilai tambah yang lebih besar untuk uang yang mereka keluarkan. Aplikasi khusus majalah/berita pun belum menemukan momentumnya.

Salah satu eksperimen menarik biaya dari pembaca (paid membership) yang dianggap berhasil adalah yang dilakukan The New York Times. Yang menantang dari model bisnis ini adalah memastikan bahwa materi berbayar yang tersedia memiliki informasi yang jauh lebih bernilai daripada versi gratisnya.

Beyond Media

Sumber pendapatan lain yang bisa digali dan perlu dieksplorasi adalah yang di luar bisnis media konvensional. Setiap media perlu mengidentifikasi stakeholder-nya dan mengenali kekuatannya. Beberapa alternatif income yang sering dieksplorasi antara lain: seminar/konferensi, pelatihan, riset industri, public relation agency, marketing agency, event organizer, dll.

 

Referensi:
1) http://moneter.co.id/grup-kompas-gramedia-tutup-9-media-miliknya/
2) http://bicara.id/satu-persatu-koran-di-indonesia-tutup-usia/
3) http://www.nytimes.com/interactive/2015/10/05/business/the-new-york-times-reaches-1-million-digital-subscribers.html

About Aar

Aar senang membaca, suka menulis, berbahagia saat berbagi dan bermain bersama anak-anak. Minat utama tentang pendidikan, anak, teknologi, spiritualitas, bisnis, dan apa saja yang membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik. Buku yang telah diterbitkan "Homeschooling Lompatan Cara Belajar" (Elex Media, 2007), "Warna-warni Homeschooling" (Elex Media, 2008).

Tinggalkan komentar Anda

*