Streaming di Dunia Virtual

Lala Rembrandt

Aku memang baru 5 bulan mengeksplorasi dunia Secondlife, tapi rasanya sudah banyaaak sekali yang aku dapatkan dalam 5 bulan.

Awal masuk SL tentu saja karena tertarik dengan aneka SIM/education land yang ada di sana yg dapat menjadi media sangat menarik untuk mengajarkan materi pelajaran secara virtual (3D). Begitu akhirnya masuk, ternyata banyak hal yang sangat menarik yang bisa dipelajari. Tidak hanya merasakan punya rumah virtual, akupun serasa kembali ke bangku kuliah arsitektur dulu karena SL membawaku untuk menjadi builder dan membangun benda2 3D dari mulai bangunan, benda-benda, sampai baju. SL juga melancarkan kembali lidahku yang cukup lama istirahat dari bercakap-cakap dengan orang bule.

SL membuka cakrawala perspektif yang sangat berbeda tentang bagaimana cara belajar. Mimpiku untuk membuat sebuah sekolah virtual rasanya seperti mendapat pencerahan. Dan satu bulan terakhir ini Sl membukakanku sebuah ilmu baru, yaitu media streaming di dunia virtual.

Semua berawal dari acara pengumpulan dana yang diadakan oleh SLED Indonesia untuk bencana alam Merapi. Dari sana aku berkenalan dengan seorang artis SL yang membantu kami mengumpulkan donasi, Greenote Freenote. Dialah yang kemudian banyak mengajariku dasar-dasar streaming.

Untuk bisa melakukan streaming di SL, pertama kita membutuhkan software untuk mengirimkan musik kita. Ada banyak broadcasting software yang bisa kita pakai. Salah satu yang gratis adalah WINAMP. Tutorialnya untuk pakai Winamp ada di sini.

Tapi sejak awal Green menyarankan aku untuk pakai SAMBroadcaster yang katanya paling enak dan powerful. Ternyata, memang benar, setelah malang melintang mencoba aneka broadcasting software, pilihan pribadiku akhirnya jatuh ke SAM. Di komputer kita juga sebaiknya ada mic & mixer sederhana untuk memasukkan suara (mic) ke dalam komputer. Kebetulan pekerjaanku sehari-hari yang memang membuat musik membuatku tidak perlu investasi lagi untuk hal ini.

Kedua adalah tempat untuk kita menyalurkan lagu dari komputer kita ke komputer-komputer lain (untuk menyiarkan/broadcast). Awalnya aku pakai yang gratisan di Freecast dan listen2myradio, tapi ternyata keduanya tidak cukup bisa diandalkan, karena freecast sering down dan listen2myradio delaynya cukup lama. Green kemudian meminjamkan salah satu stream servernya yang ternyata berhasil cukup mulus yaitu Hotspot Stream. Dari hasil video yang diambil oleh mbak Ivo dengan software FRAPS, hasilnya lumayan jernih.

Ketiga, tentu saja latihan. Ini dia yang paling sulit. Karena sudah lama sekali rasanya tidak nyanyi live. Dan kebiasaan di Sl adalah menyanyi live selama 1 jam, lengkap dengan ngobrol chit-chat ke para pengunjung. Hohoho… serasa di panggung beneran deh, ya deg2annya, ya nyanyinya, ya semuanya kecuali di SL manggung pakai daster juga gak masalah, yang penting avatarnya sudah dandan… hihihi..

Pengalaman nyanyi live di SL. Seruuuuuu.. Pertama nyanyi adalah di pembukaan SIM Borobudur. Walau sebagian besar pengunjungnya orang Indonesia, tetep aja keder.. dan nggak ngomong sama sekali selama show… nyanyi aja blass, wong software SAMnya saja baru kenalan. Masih keder bin kusut.. tapi lumayan seneng begitu dikasih tips. Cengkling… lumayan.. berasa ngamen beneran.. hehehe.

Bernyanyi di Pembukaan SIM Borobudur, (c) Daiva Rana

Berikutnya adalah menyanyi untuk acara penggalangan dana bersama Green. Di sini juga pertama kali bernyanyi duet, yang berarti dobel streaming. Pertama aku stream musikku dulu yang kemudian di stream ulang oleh green dengan tambahan suaranya. Agak kurang mulus sih karena aku tidak bisa mendengar sama sekali apa yang terjadi di SL, hanya bermodalkan membaca local chat dan aba-aba Green di IM (internal message). Tapi lagi-lagi menurutku lumayan, karena dari situ aku jadi dapat tawaran untuk manggung secara regular setiap hari Selasa malam jam 20.00WIB di Ragged Edge.

Bila di penampilanku yg pertama di Borobudur avatarku tampil anggun dengan kebayanya, maka di penampilan kedua, avatarku kacau berat.. karena aku dateng mepet jadi nggak sempet ganti baju jadi masih pakai baju yang kacau. Ditambah, aku dapat kiriman mic tepat ketika aku mau mulai yang berisi 18 animasi. Bingung kan mau pakai yang mana.

Green (yang membelikanku mic tersebut) kemudian mengatakan “use number 3”. Ya sudah… jedeeet pakai nomer 3, tanpa melihat-lihat lagi karena aku lebih fokus pada bernyanyi dan melihat balance di software SAM. Begitu lihat hasil videonya mbak Ivo lagi, OMG… ternyata animasinya itu penyanyi rock, padahal lagu2nya kalem-kalem… hahaha, kacau euy.

Akhirnya, di penampilan ketiga (atau lebih tepatnya penampilan perdana yang ngamen beneran) baru deh agak lebih mendingan. Mbak Ivo wanti-wanti untuk ganti baju dan latihan streaming dulu jauh-jauh waktunya. Sayang disayang, waktu itu internetku tiba-tiba ngadat dan mulai on-off. Hal ini sempat membuatku ketendang dari SL dan susah untuk masuk lagi ketika acara menjelang dimulai. O ho ho ho, panik dong yang ada… sudah kumplit deh, deg2an karena ini debut pertama, panik karena internetnya kacau dan software yang tiba-tiba nggak bisa ngedetect mic.

Untung mas Aar itu tidak panik dan “tangan dingin”nya berhasil membuat semua alat itu berfungsi kembali dan penampilan ketigaku pun berjalan dengan baik.

Penampilan demi penampilan membawaku ke pengalaman & kenalan baru. Kini aku bernyanyi untuk 2 tempat tiap minggu. Aku beruntung ada Sabina yang selalu menemaniku dan memberiku semangat. Dia pula yang menyarankanku untuk membuat grup & subscriber sehingga memudahkan bagiku untuk memberitahu teman-teman waktu show Lala Rembrandt. Aku pun belajar menggunakan sosial media untuk membuat profilĀ  musisi. Teman-teman SL dari Indonesia lain juga bikin aku semangat, jadi nggak ngerasa ngamen sendirian.. hehehe…

Dengan semua kepanikan & kehebohan itu, jangan dikira aku dibayar banyak $$$, actually Im singing for tips! Jadi ternyata, karena aku penyanyi baru aku hanya “disediakan tempat” saja oleh pemilik club. Di situ aku bisa membuka tipjar dimana orang bisa memberiku tip berupa dollar linden yang kemudian bisa dikonversi jadi rupiah sih kalau mau. Bener-bener deh, not a good way to find money… lol.. tapi yang pasti cara yang sangat ampuh untuk memaksaku rutin latihan nyanyi setiap hari (lagi… setelah sekian lama malassss) dan belajar streaming.

Ternyata konsep streaming di SL itu ya sama saja (kurang lebihnya lah) dengan membuat radio streaming yang sekarang sedang marak di dunia internet. Aaaah, ternyata jaman sekarang membuat radio itu mudah dan murah sekali. Yang susah bukan bikinnya, tapi cari pendengarnya… hehehe…

Bila tertarik untuk belajar streaming di SL bisa juga melihat situs ini.

Tulisan menarik lainnya

About Lala

Lala suka main musik, main game, main sama anak-anak, bikin-bikin, baca buku, nonton film yang seru, jalan-jalan, internetan dan masak-masak. Salah satu mimpi besarnya adalah menjadikan virtual distance learning bisa dinikmati anak-anak Indonesia sampai ke seluruh plosok tanah air. Lebih lengkap tentang Lala bisa dilihat di sini :D

Trackbacks

  1. […] dari seluruh dunia, mengelola sebuah acara penggalangan dana, membuka butik baju, sampai pengalaman belajar streaming menjadi penyanyi. Jelita […]

Tinggalkan komentar Anda

*

Close