“Sido Kemah” ajang pertemuan keluarga homeschooling

“Ibu, aku suka campingnya. Terima kasih ya…”

Kamis (5/10) pagi tiba-tiba kami mendengar ucapan Duta yang baru saja bangun tidur. Sebuah ungkapan yang indah, sebagaimana yang juga kami rasakan saat mengikuti acara kemah keluarga yang diberi nama “Sido Kemah“.

Sebelumnya kami sempat khawatir apakah Duta bisa menikmati acara camping ini. Sebab, beberapa teman yang dikenalnya membatalkan kesertaan karena urusan keluarga. Tapi ternyata kekhawatiran itu tak perlu. Duta sangat menikmati kegiatan-kegiatan yang dilakukannya sepanjang acara Sido Kemah.

Jauh-jauh berangkat dari Jakarta, kami bersyukur bisa mengikuti kegiatan yang diikuti oleh keluarga dari berbagai kota, sebagian besar adalah praktisi homeschooling.

Temu Keluarga Pesekolahrumah

Kemah keluarga bertajuk “Sido Kemah” ini diselenggarakan oleh para praktisi homeschooling di Yogyakarta, tepatnya di Girikaton Camping Ground, Jl Kaliurang km 20. Acaranya diselenggarakan pada 2-4 Oktober 2017.

Acara Sido Kemah sebenarnya tak ditujukan hanya untuk keluarga homeschooling. Tapi karena penyelenggaraannya hari Selasa-Kamis, mayoritas pesertanya adalah keluarga homeschooling. Beberapa keluarga yang sedang menjajagi homeschooling juga hadir dalam acara camping ini.

Banyak acara menarik yang disajikan dalam Sido Kemah. Aspek lokalitas sangat mewarnai acara-acara dalam Sido Kemah ini, yang menjadi penanda khusus dibandingkan acara-acara lain yang sejenis.

Ada orkestra bunyi memanfaatkan benda-benda di sekitar untuk menjadi sebuah orkestrasi aneka suara unik yang enak didengarkan. Berbagai “alat musik” seperti jirigen air, piring, gelas, genteng, dll yang nadanya berbeda-beda ternyata bisa dikelola menjadi sebuah permainan bunyi bersama dan menjadi pengalaman bermusik bermakna.

Juga ada acara jemparingan, sebuah seni panahan lokal gaya Mataram yang dilakukan dengan duduk bersila. Para peserta minimal menggunakan ikat kelapa tradisional, sementara para instruktur mengenakan pakaian tradisional lengkap. Kegiatan ini bekerjasama dengan Paguyuban Jemparingan Langenastro.


Ada juga acara “Jelajah Pangan Liar” bersama pak Lim, mas Agung Satriya, mas Ves. Ternyata, di sekitar kita banyak sekali tanaman yang bisa menjadi makanan (sayur), bahkan obat. Ada tempuyung, remah, suket langit, dandang gendis, putri malu, pegagan, gandaria, dan sebagainya. Setelah menjelajahi sekitar areal perkemahan, kegiatan dilanjutkan dengan demo memasak tanaman liar yang dikumpulkan.

Ada juga acara “Permainan Peradaban“. Setiap kelompok mempersiapkan permainan ini sejak sebelum mengikuti Sido Kemah. Di acara Sido Kemah, setiap kelompok mengubur artefak yang dibawa dari rumah, kemudian kelompok lain yang menggalinya seperti seorang arkeolog yang berusaha menafsirkan karakter/jenis peradaban yang ditemukannya. Seru & heboh!

Selain itu, ada acara membuat wayang dari rumput (wayang suket). Para remaja juga memiliki acara tersendiri dalam bentuk diskusi dengan para penggerak sosial (mas Elanto & Satrio), workshop fotografi & videografi yang dilanjutkan dengan hunting foto & video.

Tak lupa, ada pentas api unggun di malam terakhir. Acara pentas dilaksanakan di tenda utama karena cuaca agak gerimis. Aneka alat musik dimainkan anak-anak, mulai gamelan, flute, biola dan gitar dengan indah, menunjukkan apresiasi terhadap musik yang besar dalam keluarga-keluarga homeschooling ini.

Dalam acara pentas api unggun, Lala bersama mas Setiaji Wijaya juga ikut meramaikan dengan lagu “Belajar di Mana Saja” & “Belajar dengan Bahagia“.

 

Mencari Akar, Menemukan Diri

Tema acara Sido Kemah ini adalah “Mencari Akar, Menemukan Diri“. Menurut penjelasan mas Anto yang menjadi pengantar dalam salah satu diskusi, “Di tengah perkembangan Internet yang membuat aneka budaya global bisa diakses dengan mudah oleh anak-anak kita, identitas menjadi salah hal penting untuk dibicarakan.”

Mungkin kesadaran akan kebutuhan identitas ini yang memicu acara-acara dalam Sido Kemah dirancang dengan menekankan aspek lokalitasnya. Buatku, acara-acaranya memang berhasil memicu refleksi tentang cara memandang kehidupan ini.

Dalam konteks mencari akar & menemukan diri, menarik menyimak perbincangan sepanjang sesi diskusi di tenda utama mengenai sejarah. Dipandu oleh narasumber mas Wildan Sena Utama (sejarawan UGM), Ellen Kristi (Komunitas Charlotte Mason Indonesia), Erwin Djunaedi (Co-founder Yogyakarta Night at the Museum Community), kami belajar melihat sejarah sebagai sebuah hal hidup, bukan sekedar hafalan tentang fakta sebuah peristiwa. Sejarah yang dituliskan adalah sebuah konstruk sudut pandang, bisa menjadi alat refleksi dan pemaknaan realita, tetapi juga bisa menjadi alat legitimasi dalam sebuah rezim kekuasaan.

Pada malam sebelumnya, ada sharing tentang homeschooling. Bersama mas Setiaji Wijaya & mbak Maria Lia, keluarga mas Andreas Bimo, ikut berbagi tentang pengalaman homeschooling yang dijalani di keluarga masing-masing. Sharing dan diskusi ini dipandu mbak Ikke Pratiwi Fanani yang bertindak sebagai moderator.

 

Peziarahan Spirit & Intelektual

Hadir bersama satu keluarga dalam acara Sido Kemah merupakan perjalanan yang membahagiakan dan mengenyangkan, baik secara spirit maupun intelektual. Belum lagi kebahagiaan yang kami dapatkan dari silaturahmi dan mengobrol bersama para peserta yang hadir dari berbagai kota. Mengobrol serius santai tentang homeschooling di tenda utama hingga pukul 01.30 pagi itu seru, hehehe.

Beberapa catatan personal kami tentang Sidokemah adalah:

  • Lokasi acara Sidokemah di Girikaton Camping Ground sangat nyaman. Tempatnya bisa diakses langsung dari stasiun dengan mudah. Dari Jakarta, kami naik kereta api dan turun di stasiun Lempuyangan, kemudian naik Gocar dengan biaya Rp 69 ribu. Pulangnya, dari areal perkemahan kami memesan Gocar dari areal perkemahan menuju stasiun kereta.
  • Kegiatan yang menonjolkan aspek lokal dan lingkungan mewarnai penyelenggaraan Sido Kemah. Secara personal, saya suka pendekatan seperti ini. Saya memiliki harapn, acara yang diselenggarakan oleh para praktisi homeschooling dapat membangun keunikan dan ciri khas masing-masing. Mudah-mudahan kami bisa hadir & bersilaturahmi dalam acara-acara homeschooling yang mulai diinisiasi di berbagai kota.
  • Sebagai bagian dari kesadaran lingkungan, acara Sido Kemah diselenggarakan dengan prinsip minim sampah (zero waste). Para peserta membawa piring dan botol minum sendiri, tidak membawa makanan kemasan, sampah non-organik dibawa pulang masing-masing. Prinsip kegiatan zero waste yang mulai banyak dipraktekkan dalam acara homeschooling & parenting ini mudah-mudahan semakin menular sehingga bisa memperlambat laju sampah non-organik yang sudah sangat meracuni bumi kita.

***

(c) imaga by Maya Tauri

Terima kasih teman-teman panitia Sido Kemah yang sudah bersusah payah menyelenggarakan acara ini, memfasilitasi para peserta untuk berkegiatan bersama. Terima kasih teman-teman peserta yang sudah bersilturahmi, berbagi cerita, dan bertukar energi kebaikan selama acara. Terima kasih teman-teman dukuh Pleret yang sudah berbagi kebahagiaan bersama.

Mudah-mudahan panitia tidak kapok untuk mengadakan lagi sehingga Sido Kemah bisa menjadi salah satu ajang silaturahmi dan kumpul-kumpul keluarga homeschooling dari berbagai kota.

Tulisan menarik lainnya

About Aar

Aar senang membaca, suka menulis, berbahagia saat berbagi dan bermain bersama anak-anak. Minat utama tentang pendidikan, anak, teknologi, spiritualitas, bisnis, dan apa saja yang membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik. Buku yang telah diterbitkan "Homeschooling Lompatan Cara Belajar" (Elex Media, 2007), "Warna-warni Homeschooling" (Elex Media, 2008).

Komentar

  1. Semoga kapan2 Komunitas Bestari Cirebon dapat mengadakan kemping semacam ini ya mas Aar..dan mas Aar sekeluarga berkenan ikut serta..
    Kemarin kami skeluargapun dipuaskan dgn kegiatan Sido Kemah yang jujur bikin susah move on🙈
    .

Tinggalkan komentar Anda

*

Close