Selamat Datang Tahun 2016

tahun-2016

Harus aku akui tahun 2015 adalah tahun terburukku dalam dunia perblogingan. Nyaris tidak pernah blogging. Lebih tepatnya mungkin aku bingung mau blogging apa. Banyak cerita, banyak hal baru yang terjadi yang berseliweran di kepala belum sempat diendapkan sudah berganti dengan cerita baru serta kejadian baru.

Sekitar 1.5 tahun yang lalu aku mulai berkomitmen menemani ibu yang kembali memimpin Majalah Griya Asri, sebuah majalah yang membahas tentang arsitektur, interior, taman & lingkungan. 32 tahun yang lalu, di sebuah kota kecil di Malang, sambil menemani ayahku yang sedang kuliah di Universitas Brawijaya, ibuku membuat mock-up sebuah majalah. Mana sangka ketika kembali ke Jakarta mock-up sederhana itu mendapat kesempatan untuk diterbitkan menjadi majalah yang puji Tuhan masih terbit hingga hari ini.

Sekitar 15 tahun yang lalu, ibuku memutuskan untuk menyerahkan Majalah Asri kepada teman-temannya dan hidup keluar dari hiruk-pikuk dunia pers. Banyak hal yang terjadi dalam 15 tahun. Singkat cerita 2 tahun lalu beberapa staf ahli & teman-teman dari Majalah Asri meminta ibu untuk kembali memimpin majalah itu. Intinya, Asri membutuhkan sosok seorang “ibu”. Sebagai seorang ibu yang dipanggil pulang oleh “anaknya” tentu saja ibuku tak kuasa menolak. Hanya saja, usianya yang sudah tidak muda lagi membuat kami anak-anaknya sempat cemas membayangkan ibu harus kembali pergi ke kantor dan berkegiatan seperti dulu.

Kembali singkat cerita (soalnya nanti kepanjangan kalau didetilkan, hehehehe), aku menjadi perwakilan dari anak-anak ibu yang menemani ibu di Majalah Asri. Tugas dalam kontrak kerjaku adalah menjadi ketua Divisi Online Majalah Asri. Tugas tak tertulisnya adalah memback-up APA SAJA yang dibutuhkan ibu di kantor.

Naah, di sinilah awal dari semua kekacauan keriwehan kesulitan kekusutan eh apa ya kalimat yang tepat untuk mendeskripsikan hari-hariku. Bayangkan, selama 15 tahun terakhir ini aku adalah seorang ibu rumah tangga. Walau pun banyak berkarya, tapi semua dikerjakan di rumah, sentral hidupku adalah rumah. Menjadi seorang ibu yang bekerja di luar rumah sama sekali tidak ada dalam bayanganku. Sekarang aku harus belajar membagi waktuku, perhatianku, energiku, bahkan diriku dengan tugas baru itu.

Beruntungnya adalah pada saat kejadian itu terjadi, aku punya suami yang sangat mendukung dan bekerja penuh dari rumah. Aku beruntung anak-anak sudah masuk masa mandiri. Yudhis & Tata nyaris sudah tidak tergantung padaku. Tinggal Duta yang kerap membuatku merasa bersalah karena merasa tidak bisa memberikan perhatian maksimal kepadanya sebagaimana ke kakak-kakaknya. Tambah beruntung keluarga Andit bergabung untuk tinggal bersama kami di Cipinang plus ada bibi Imah yang dititipkan Iqbal di rumah yang membuat urusan rumah tangga berjalan lancar walau tanpa kehadiranku.

Di tempat kerjapun karena aku memegang online yang sesungguhnya bisa dikerjakan dari mana saja selama ada internet, aku pun mendapatkan keleluasaan waktu sehingga tidak perlu “ngetap absen” seperti teman-teman lain. Intinya: sebenarnya banyak kemudahan yang diberikan Tuhan dalam proses ini.

Tapi ternyata tetap saja, semudah-mudahnya proses & fasilitas yang seakan diberikan Tuhan untukku agar aku bisa menemani ibuku dengan sepenuh hati, ternyata proses internal yang terjadi dalam hatiku tak kunjung reda. Aku senantiasa dilanda bersalah dengan anak-anak di rumah, sementara di kantor pun aku mengalami banyak tubrukan nilai yang jauh berbeda dengan nilai-nilai yang selama ini aku hidupi & jalani. Kalau dipikir2 lucu juga, tahun 2013 aku sempat curhat tentang “ibu bekerja” padahal maaaah, waktu itu paling keluar rumahnya cuma berapa kali dalam sebulan rasanya udah kusuuuut banget. Kalau baca itu lumayan terasa sih kalau sebagai manusia kita memang tumbuh, dan masalah yang dulu itu terasa jadi bukan masalah lagi. Mungkin memang seperti itu…

Untuk melerai rasa gundah & mencari penguatan diri, karena aku percaya bahwa semua hal yang terjadi pada diri kita itu adalah bagian dari kehendak Tuhan, aku pun akhirnya menjadikan hari-hari kerjaku ini sebagai masa “kuliah”. Seperti aku sedang mendapat beasiswa & setiap hal baru yang kudapati itulah mata kuliahnya.

Ternyata memandang seperti itu meringankan langkah & hatiku. Perlahan aku mulai berproses dan menerima kenyataan bahwa sekarang aku bukan lagi seorang ibu rumah tangga yang bekerja dari rumah, tapi SAAT INI aku (harus mengakui kalau aku) adalah seorang ibu bekerja yang berusaha keras menyeimbangkan antara kehidupan rumah tangga dan tugas kantor. Sampai kapan? Harapanku sih tidak lama, harapanku sih aku bisa menyelesaikan kuliah ini sesuai waktunya dengan nilai yang baik dan semoga ilmunya bermanfaat untuk kehidupanku pasca kuliah kelak…

Yang terpenting sebenarnya adalah titik ini, hari ini, kalau aku sudah mulai bisa menulis lagi. Menuliskan dengan tenang hari-hariku, apa yang ada dalam pikiranku, berarti keriuhan itu sudah mulai berhasil aku endapkan, kekusutan itu sudah mulai terurai & semoga di tahun 2016 ini nilai kuliahku makin bagus. Mohon doanya ya temans 😀

Aku pun berdoa, semoga teman-teman pembaca RumahInspirasi yang tercinta mendapatkan limpahan keberkahan & kebahagiaan di tahun 2016 ini. Aamiin.

Tulisan menarik lainnya

About Lala

Lala suka main musik, main game, main sama anak-anak, bikin-bikin, baca buku, nonton film yang seru, jalan-jalan, internetan dan masak-masak. Salah satu mimpi besarnya adalah menjadikan virtual distance learning bisa dinikmati anak-anak Indonesia sampai ke seluruh plosok tanah air. Lebih lengkap tentang Lala bisa dilihat di sini :D

Komentar

  1. ikutan doain: you can do it mbak lala! *pasang gambar bicep segede poster*

Tinggalkan komentar Anda

*