Saat anak berusia 13 tahun…

Bulan lalu Yudhis memasuki usia 13 tahun. Ini adalah sebuah milestone baginya. Sejak memasuki usia 13 tahun, banyak hal-hal yang berkaitan dengan legalitas sudah bisa dilakukannya.

Sebagai contoh, syarat untuk membuat akun Facebook adalah 13 tahun. Dan itu berarti, sekarang saatnya Yudhis bisa memiliki akun Facebook untuk dirinya sendiri. Juga, Yudhis sekarang sudah bisa mendaftar di berbagai situs dan komunitas lain yang diinginkannya.

Tentang batasan usia 13 tahun ini kami memang agak “strict”. Kami tak mengizinkan anak-anak mempunyai akun Facebook sebelum mereka berusia 13 tahun karena Facebook memang memberi batasan usia 13 tahun.

 

(c) themasterkeyjourney.com/

(c) themasterkeyjourney.com/

Menurut kami batasan usia ini menjadi proses pembelajaran bagi Yudhis & Tata. Ada beberapa tata nilai yang kami ajarkan kepada mereka:

a. Legal membuat hidup tenang

Sebagai warga negara dan warga dunia, kami berusaha untuk menjalankan aturan hukum yang ada. Walaupun hukum hanya karya manusia dan bukan berasal dari Tuhan, tapi hukum adalah aturan main dalam perilaku dan tata hubungan sosial di masyarakat.

Jadi, kami mengajarkan kepada mereka basic untuk berusaha taat. Membekali diri dengan legal, menggunakan sarana yang legal, dan melakukan aktivitas yang legal membuat hidup menjadi tenang.

Dan, kalau sudah terbiasa taat hukum, anak-anak akan menjadi mudah untuk hidup di manapun. Di negara mana saja mereka tinggal, mereka tak khawatir karena selalu terbiasa taat hukum.

b. Pendidikan kesadaran hukum adalah proses yang panjang

Untuk mendidik kepatuhan pada hukum, aturan, dan kesepakatan, dibutuhkan proses pembelajaran. Proses itu berlangsung jangka panjang. Anak-anak belajar dari yang mereka saksikan (sikap dan perilaku kita dan orang-orang di sekelilingnya). Anak juga belajar dari aturan yang dibuat orangtuanya.

Jika sejak kecil anak terbiasa melihat dan mempraktekkan aturan hukum, saat dewasa dia akan melakukannya juga. Mengemudi dengan SIM, berhenti saat lampu merah, tidak memanipulasi usia hanyalah contoh kecil yang dilihat anak-anak.

c. Belajar menahan diri

Ketaatan hukum juga berkaitan dengan kebiasaan menahan diri dan menjauhkan dari perbuatan sesuka hati. Karena belum usia 13, anak menahan diri untuk tidak Facebook-an. Karena tidak ada film original, anak-anak memilih untuk tidak menonton film bajakan. Karena software original mahal, anak-anak memilih open source atau menabung untuk membeli software asli.

Menunda kesenangan dan menahan diri adalah salah satu prinsip penting untuk membangun karakter yang kuat pada anak. Jika terpelihara sampai dewasa, mudah-mudahan ini bisa menjadi benteng kebiasaan mereka terhadap godaan dan tawaran-tawaran instan seperti korupsi, mencuri, berlaku curang, dan tindak-tindak pidana lain. Mudah-mudahan kebiasaan baik ini bisa menjadi penguat mereka untuk membuat pilihan-pilihan yang benar dalam hidup mereka.

d. Taat hukum adalah pondasi etika

Ingin masyarakat tertib? Ingin kehidupan bermasyarakat seperti di Singapura, Jepang, Eropa, dan negara-negara maju yang lain?

Mari kita mulai dari mendidik diri dan anak-anak kita taat hukum. Selain hukum yang basic ditaati, tentu saja aturan yang bersifat etika seperti antri, membuang sampah di tempat, mendahulukan orangtua, dan sebagainya.

Bukannya pesimistis, tapi kalau aturan hukum yang bersifat mengikat saja tidak dijalankan, rasanya sulit untuk mengharapkan etika yang tanpa sanksi dijalankan.

***

Eh, kok jadi penuh nasihat begini ya postingnya? Maaf…

Kami juga sedang belajar. Belajar menjadi warga negara yang baik, juga orangtua yang baik dan mempersiapkan anak-anak menjadi manusia yang baik.

Tulisan menarik lainnya

About Aar

Aar senang membaca, suka menulis, berbahagia saat berbagi dan bermain bersama anak-anak. Minat utama tentang pendidikan, anak, teknologi, spiritualitas, bisnis, dan apa saja yang membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik. Buku yang telah diterbitkan "Homeschooling Lompatan Cara Belajar" (Elex Media, 2007), "Warna-warni Homeschooling" (Elex Media, 2008).

Komentar

  1. Mudah-mudahan saya bisa jadi orang tua yang baik bagi anak-anak saia. Amin..

  2. Saya sangat setuju sekali…. seringkali orang tua menyuruh anak2 untuk disiplin dan patuh dengan peraturan, tetapi pada prakteknya orang tua sering memberikan contoh langsung atas perlakuan tidak disiplin dan yang melanggar aturan. Contoh…. pada saat berkendara, orang tua tdk mengindahkan lampu merah; karena kesibukan orang tua, si anak disuruh ke sekolah berkendara sendiri walaupun belum memiliki SIM; Justru anak lebih meniru apa yg dia lihat langsung.

Tinggalkan komentar Anda

*