Proyek 2015: menjaga dan menaikkan kualitas energi

Banyak teori tentang cara memandang manusia. Salah satunya, manusia adalah energi. Interaksi antar-manusia adalah interaksi antar-energi. Jenis dan kualitas energi bisa naik dan turun. Pola interaksi manusia adalah pergesekan dan pertukaran energi. Ada orang yang mengambil energi, ada orang yang menghancurkan energi, ada yang berbagi energi, dan sebagainya.

Itulah sebabnya, kita terkadang merasa lelah dan kehabisan energi setelah berinteraksi dengan orang yang berkeluh kesah. Hati kita merasa tidak nyaman setelah berinteraksi dengan orang yang marah-marah atau nyinyir. Kita merasa gembira setelah bertemu orang yang berbahagia. Kita merasa bahagia saat bertemu dengan orang ikhlas. Semua itu terjadi karena energi kita berinteraksi dengan energi sekitar kita.

Aku mengenal konsepsi ini beberapa tahun yang lalu saat membaca novel seri “Celestine Prophecy” karya James Redfield.

Teori Power and Force oleh David R. Hawkins

Tahun 2014 yang lalu, aku berkenalan dengan teori “Power & Force” berdasarkan karya buku David R. Hawkins. Yang membawa perkenalan itu adalah mas Aji (Setiaji Wijaya), sesama praktisi homeschooling dari obrolan kesana-kemari selama interaksi kami.

Walaupun belum membaca bukunya, aku tertarik dengan klasifikasi energi/kesadaran yang dibuat oleh Hawkins. Menurut Hawkins, ada 2 kategori dasar kesadaran manusia, yaitu Force yang berada di level bawah dan Power yang berada di level atas. Di level Force, kesadaran itu bersifat destruktif, baik bagi diri sendiri maupun sekitar. Di level Power, kesadaran itu bersifat positif untuk diri sendiri dan sekitar. Semakin tinggi level energi/kesadaran, semakin besar daya ubahnya pada semesta di sekitarnya.

Power vs Force Hawkins

Bagaimana mengenali kesadaran kita berada di level apa?

Caranya adalah melakukan refleksi, sikap apa yang dominan dalam keseharian kita. Bagaimana kita secara reflek merespon hal buruk atau tidak nyaman pada diri kita? Apa yang ada di dalam hati kita saat berinteraksi dengan orang lain? Emosi apa yang dominan dalam keseharian kita? Apa pandangan dasar dan nilai-nilai dasar kita pada kehidupan?

Apa yang terjadi (bukan hal yang kita inginkan), itulah level kesadaran dan energi kita.

Tentu saja, kesadaran dan energi itu bisa naik dan turun. Tapi intinya, kesadaran adalah sikap dominan atau yang biasanya kita lakukan sehari-hari. Tantangan bagi kita adalah mempertahankan kesadaran (jika kita sudah berada di level power) dan terus meningkatkan ke kualitas yang lebih baik.

Komitmen untuk menjaga dan meningkatkan kualitas

Tahun 2015 ini, komitmen dasarku adalah memperbaiki kesadaran dan energiku. Yang aku rasakan, kesadaranku masih beramplitudo sangat lebar. Kadang berada di level power (kalau sedang baik), tapi cukup sering berada di tingkat force (negatif).

Aku berharap sepanjang tahun ini bisa memperbaiki diri agar lebih konsisten di tingkat power. Syukur-syukur bisa menapaki tingkat-tingkat yang jenjangnya lebih tinggi.

Apa yang aku harapkan dari proses ini?

Aku tak berharap apa-apa. Tapi dari pengalaman-pengalaman selintas yang aku alami saat merasakan kesadaran di tingkat power, aku merasakan kondisi yang lebih berkualitas pada diri maupun sekitar. Hati dan pikiran lebih jernih, fisik lebih sehat dan bugar. Produktivitas meningkat. Hubungan dengan pasangan, anak-anak, dan sekitar lebih lapang dan ceria.

Tapi semua hal-hal yang kusebutkan itu adalah dampak, bukan tujuan. Tujuan proses ini adalah meningkatkan kualitas kesadaran dan energi diri. Dampaknya apa, aku percaya terhadap hukum semesta Tuhan bahwa kebaikan akan berbuah kebaikan pula.

Yang penting adalah komitmen memperbaiki kualitas diri. Dengan tekad diri dan karunia-Nya.

Semoga Tuhan berkenan. Amin.

Tulisan menarik lainnya

About Aar

Aar senang membaca, suka menulis, berbahagia saat berbagi dan bermain bersama anak-anak. Minat utama tentang pendidikan, anak, teknologi, spiritualitas, bisnis, dan apa saja yang membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik. Buku yang telah diterbitkan "Homeschooling Lompatan Cara Belajar" (Elex Media, 2007), "Warna-warni Homeschooling" (Elex Media, 2008).

Tinggalkan komentar Anda

*

Close