Proses Belajar Tata

Tata itu baru mau berumur 6 tahun. Tapi dari sisi akademis kemajuannya sudah melampaui rata-rata umurnya. Padahal, kami tak memiliki target apapun untuk proses yang dijalaninya.

Kelihatannya, proses belajar Tata sangat didominasi oleh keinginannya melakukan kegiatan seperti yang dilakukan kakaknya. Kakaknya membaca, dia ingin membaca; kakaknya belajar matematika, dia ingin belajar matematika; kakaknya belajar bahasa Inggris, dia ingin belajar bahasa Inggris; kakaknya punya jadwal 7 kegiatan sehari, dia juga ingin 7 kegiatan sehari.

Kami sendiri meladeni saja apa yang dimaui Tata. Tetapi, kami tak memasang target apapun kepadanya. Adakalanya kami mengingatkan dia mengenai tujuh kegiatan per hari. Tetapi lebih sering kami biarkan saja. Yang ada, justru Tata yang mengejar kami untuk minta tanda tangan setelah melakukan satu kegiatan. Dia lebih heboh daripada kakaknya kalau belum melakukan 7 kegiatan dalam satu hari.

Ketika Yudhis mulai menggunakan worksheet, Tata juga ingin memakai worksheet. Jadilah Tata kemudian belajar juga menggunakan worksheet. Tulisannya sih terkadang masih terbolak-balik antara L dan J, menulis angka 3, 6, dan 9 masih suka terbalik arahnya. Tetapi, gagasannya sendiri (mis: penjumlahan) dia mengerti.

Dalam hal belajar bahasa Inggris juga begitu. Karena Yudhis belajar satu buku Reading AtoZ setiap hari, Tata juga tak mau ketinggalan. Dia mau juga membaca materi Reading A to Z seperti kakaknya. Satu buku setiap hari, tanpa terasa hari ini Tata sudah masuk level D; sementara Yudhis ada di level J. Dalam hal kemampuan bahasa Inggris, menurutku pengucapan Tata malah lebih baik daripada Yudhis. Tata itu “tongue”-nya bahasa seperti Lala, sementara Yudhis berlidah Jawa dan kalau membaca bahasa Inggris sangat “medok” seperti aku.

**

Jadi, homeschooling beberapa anak ternyata tak terlalu “mengerikan” seperti yang dibayangkan banyak orang. Kecenderungan adik untuk mengikuti apa saja yang dilakukan kakaknya ternyata bisa dimanfaatkan untuk proses belajar. Apalagi kalau anaknya berkemauan keras (ngototan) seperti Tata.

Dan hasilnya menurutku cukup mengejutkan; apalagi kami tak memasang target akademis apapun untuk Tata yang baru mau berumur 6 tahun bulan September ini.

Tulisan menarik lainnya

About Aar

Aar senang membaca, suka menulis, berbahagia saat berbagi dan bermain bersama anak-anak. Minat utama tentang pendidikan, anak, teknologi, spiritualitas, bisnis, dan apa saja yang membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik. Buku yang telah diterbitkan "Homeschooling Lompatan Cara Belajar" (Elex Media, 2007), "Warna-warni Homeschooling" (Elex Media, 2008).

Komentar

  1. Kalau tata minimal sudah punya “model” buat dicontoh dan diikuti. Bagaimana buat yg ga punya, misalnya buat anak tunggal atau anak sulung?
    Rasanya, seorang adik memang biasanya cenderung ingin mengikuti kakaknya. Itu yang saya alami dengan kedua anak saya.
    Minta tips nya ya mba!
    Thx.

  2. Iya Mas Aar..aku juga sempet kepikir, takut adik ketinggalan atau kurang diperhatiin. Tapi ternyata ikut-ikut Kakak itu banyak manfaatnya ya..^_^

    Mba Ani : Kalau anak tunggal atau anak sulung kan perhatian orangua masih utuh buat dia, jadi lebih mudah (teorinya).

  3. Kalau yg saya rasakan (dgn dua anak saya) sepertinya lebih sulit mengkondisikan si sulung. kalau dgn adiknya, memang terasa lebih mudah apalagi ketika sang kakak memang melakukannya.
    Mas Aar, minta tips nya ya, bagaimana agar adik kakak itu bisa kompak :)!
    Walau saya tidak melakukan HS buat anak-anak saya, tapi saya sangat tertarik dengan pola pendidikan keluarga Mas Aar di dalam rumah, dan berusaha untuk bisa mempraktekkannya. Karena bagaimanapun, waktu terbanyak yg dihabiskan anak2 sy adalah di dalam rumah.
    Trims.

  4. Pak Aar…
    untuk leveled reader dan bahan-bahan bacaan lainnya dari internet, apakah Pak Aar dan Bu Lala mencetaknya untuk dibaca oleh Yudhis dan Tata? Atau mereka membaca versi digitalnya?
    Trims

  5. Mbak Ani,
    Yudhis pun terkadang tidak mau “dibuntuti” terus oleh adiknya. Tapi selama ini, batasnya masih bisa kami tolerir walaupun kami juga sering mengingatkan dia untuk sayang kepada adiknya. Menurut pengalaman kami, kalau kakaknya nyaman dengan prestasinya, biasanya dia tidak terlalu masalah terganggu oleh adiknya. Tapi kalau dia sendiri sedang merasa “gagal”, biasanya dia lebih sensitif. Jadi, salah satu pengalaman kami adalah membuat sang kakak merasa nyaman dengan dirinya sendiri dan “berprestasi” dengan pekerjaan yang sedang ditekuninya.

    Mbak Cheeqa,
    Tergantung materinya mbak, Kalau untuk materi yang by designed adalah untuk dicetak (seperti Reading A to Z), kami memilih utk dicetak dan dijadikan buku. Sekalian praktek anak2 terbiasa menyiapkan bahan pelajaran dan membuat buku.. Lagi pula, biasanya ada worksheet yang juga perlu mereka selesaikan.. ^_^

Tinggalkan komentar Anda

*