Petualangan Belajar #1: Kereta Gajah Wong menuju Yogyakarta

Begitu perjalanan telah dipastikan, persiapan kemudian dilakukan. Kami memesan tiket kereta api secara online untuk perjalanan tanggal 18 Oktober 2016. Kereta yang kami pilih adalah kereta api Gajah Wong yang murah. Kereta ekonomi tujuan Jakarta-Yogyakarta ini biayanya Rp 145 ribu.

(Sebelumnya: memulai Petualangan Belajar)

Layanan kereta api yang semakin bagus

h1-keretaapi

Dalam proses berangkat naik kereta api, kami sangat menikmati kualitas pelayanan PT KAI. Proses pemesanan tiket secara online sangat mudah. Selain pembelian melalui website PT KAI, tersedia pemesanan melalui aneka channel pembelian. Kali ini kami membeli tiket melalui Tokopedia.

Sistem kereta api yang sekarang tak lagi menggunakan mekanisme cetak tiket seperti dulu. Aku sempat kecele karena datang ke stasiun Jatinegara untuk mencetak tiket. Ternyata sekarang mekanismenya adalah mencetak semacam “boarding pass” dan prosesnya dilakukan di stasiun pemberangkatan, maksimal 12 jam sebelum berangkat hingga 10 menit sebelum keberangkatan.

Jadi, saat sampai di stasiun Senen sekitar pukul 06.00, kami langsung diarahkan menuju mesin CIM (check-in mandiri) yang mencetak boarding pass berisi nama, identitas, kereta dan nomor tempat duduk. Boarding pass ini berlaku sekaligus sebagai tiket kereta api. Syarat untuk mencetak boarding pass hanya menuliskan kode pemesanan yang kita peroleh saat membeli tiket secara online.

Proses mencetak boarding pass ini sangat sederhana. Yudhis, Tata, dan Duta sempat mempraktekkan bersama-sama pengalaman mencetak boarding pass ini di mesin CIM.

Kami juga terkesan dengan kualitas kereta yang kami miliki. Walaupun kelasnya ekonomi, kereta api ada AC-nya dan relatif nyaman. Apalagi banyak kursi kosong karena kami berangkat di hari kerja dan low season. Serasa naik kereta pribadi, hehehe…

Inilah asyiknya homeschooling 🙂

Tantangan Pertama di Kereta Api

01googlemaps-di-ka

Karena perjalanan ini diniatkan sebagai petualangan belajar, kami mengajak anak-anak untuk menikmati dan memanfaatkannya sebaik mungkin. Tak ada larangan penggunaan gadget, tapi kami minta mereka menguranginya.

Dalam proses ini, Yudhis dan Tata relatif sudah bisa mengendalikan diri. Hanya Duta yang masih berjuang agar bisa menikmati perjalanan ini tanpa merasa bosan.

Kebosanan itu memang muncul dan kami memang membiarkan anak-anak “dealing with boredom”, bagaimana mengatasi kebosanan karena fasilitas kegiatan yang minim. Jadilah sepanjang perjanalan kami bermain tebak-tebakan, mengingat nama-nama stasiun yang dilewati, menyebutkan jenis-jenis pohon yang terlihat di jendela kereta, melihat ekor kereta saat berada di tikungan menjadi kegiatan yang kami lakukan bersama Duta.

Sesekali kami melihat Google Map untuk melihat lokasi kereta dan mengetahui stasiun mana yang akan dilewati dan masih seberapa jauh perjalanan menuju Yogyakarta.

Petualangan yang Konyol

h1-jalankaki

Kereta api sampai di stasiun Yogyakara sekitar pukul 15.00, terlambat sekitar 15 menit dari yang seharusnya. Keluar dari stasiun Tugu, kami mencari makan dan pilihan jatuh di restoran Padang Murah yang terletak di dekat pintu luar stasiun.

Sambil duduk tenang di restoran Padang ala Jawa (soalnya menu yg ada hanya ayam & telor), kami melihat peta lokasi menuju Sanggar Anak Alam (SALAM) di daerah Nitiprayan menggunakan Google Map. Wah, ternyata dekat, hanya 5 km.

Langsung kami berdiskusi apakah mau naik taksi atau jalan kaki berpetualang. Jarak itu cukup familiar bagi kami karena tak jauh dari kebiasaan jalan pagi kami yang sekitar 5 km. Jadi, kami kemudian memutuskan jalan kaki!

Nah, di sinilah letak kekonyolannya. Tenyata jalan pagi berbeda dengan jalan sore dengan matahari yang menyengat di Yogyakarta. Apalagi ada beban ransel ditambah kelelahan usai perjalanan kereta 9 jam. Apalagi ditambah jalan-jalan yang ternyata tidak ramah untuk pejalan kaki.

Alhasil, baru berjalan 1 km Duta sudah teler, hehehe… Karena perjalanan 10 hari baru dimulai dan harus bisa dinikmati, kami mengubah keputusan. Duta, Tata & Lala naik becak menuju Nitiprayan. Sementara aku dan Yudhis tetap melanjutkan jalan kaki.

Ternyata jalan kaki Stasiun Tugu – Nitiprayan lumayan capek juga, hehehe…

Rapat Pertemuan Nasional Pendidikan Alternatif

h1-rapat-pernas

Sampai di kediaman bu Wahya yang berada di dekat SALAM, aku langsung bergabung untuk rapat persiapan Pertemuan Nasional Pendidikan Alternatif. Ini adalah rapat bersama antara tim Jakarta dan Yogya yang kedua.

Banyak hal yang perlu dikoordinasikan karena penyelenggaraan Pertemuan Nasional Pendidikan Alternatif ini melibatkan kepanitiaan lintas kota. Banyak sekali hal yang harus dikoordinasikan dan diselesaikan agar acara bisa berjalan lancar. Itu sebabnya pula tim Jakarta berangkat 3 hari sebelum acara untuk mempersiapkan semua hal sebaik mungkin dan semaksimalnya.

***

Pfuih… rapat berlangsung sampai malam, sementara kami belum tahu akan tidur dan menginap di mana. Dalam ketidakpastian, Lala mencari informasi penginapan dan akhirnya malam pertama di Yogya kami menginap di Nitiprayan Homestay.

#PetualanganBelajar #travelschooling

(Bersambung)

Tulisan menarik lainnya

About Aar

Aar senang membaca, suka menulis, berbahagia saat berbagi dan bermain bersama anak-anak. Minat utama tentang pendidikan, anak, teknologi, spiritualitas, bisnis, dan apa saja yang membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik. Buku yang telah diterbitkan "Homeschooling Lompatan Cara Belajar" (Elex Media, 2007), "Warna-warni Homeschooling" (Elex Media, 2008).

Tinggalkan komentar Anda

*

Close