Rumah Inspirasi |

Keluarga – Homeschooling – Pendidikan – Parenting

19th

Pengalaman yang melumpuhkan

19/03/2010

marahSelain pengalaman mengkristalkan yang berusaha kita temukan pada anak, ada sisi lain pengalaman yang perlu kita perhatikan.

Pernahkah Anda mengalami sebuah peristiwa di masa kecil ketika Anda sibuk membuat sebuah karya (lukisan, prakarya, tulisan, dsb), Anda kemudian datang dengan penuh kepercayaan diri dan rasa bangga karena telah menyelesaikan karya tersebut dengan susah payah, dan Anda menganggap karya itu adalah sebuah mahakarya (masterpiece)? Lalu, ketika Anda menunjukkan kepada orangtua/dewasa/guru, kemudian Anda mendapatkan umpan balik yang menyesakkan hati?

“Apa ini!? Jangan membuat sampah dan mengotori rumah yang baru saja dirapikan..!”

“Ngapain membuat yang kayak gini. Ini tidak penting, tahu..!”

Atau umpan balik ketidakpedulian,

“Ayah/Ibu sedang sibuk. Jangan hanya menganggu Ayah dan Ibu. Nanti saja kalau Ayah/Ibu sedang tidak sibuk…” tapi sayangnya Ayah/Ibu tak pernah menyempatkan diri melihat mahakarya Anda.

Atau, karya Anda diperolok-olok,

“Anak-anak semua,” kata guru di depan kelas sambil menunjukkan pekerjaan Anda kepada teman-teman semua. “Ini adalah contoh hasil karya paling buruk yang pernah ada…” Dan semua teman-teman Anda riuh-rendah menertawakan Anda.

Sejak itu, Anda malas dan tak ingin membuat karya yang serupa itu lagi. Anda dipenuhi perasaan malu, rasa bersalah, takut, marah, dan emosi negatif lainnya. Dalam istilah Thomas Armstrong, pengalaman seperti ini disebut dengan pengalaman yang melumpuhkan (paralyzing experiences), sebuah pengalaman yang “mematikan” kecerdasan.

**

Terkadang respon yang kita berikan sebagai orangtua terhadap anak bersikap refleks, tanpa sebuah niat buruk. Walaupun begitu, kita harus waspada bahwa sikap yang buruk dapat mengakibatkan dampak yang serius untuk perkembangan psikologi dan kecerdasan anak-anak kita.

Tentu, kita tak menginginkan anak-anak kita “lumpuh” pada sebuah aspek kecerdasannya hanya karena kesalahan yang tak sengaja kita lakukan.

Isi form di bawah. Periksa email Anda setelah mendaftar dan klik link konfirmasi yang kami kirimkan.
* = required field
:)
Posted under Artikel

Tags: ,

About the author :

Lala suka main musik, main game, main sama anak-anak, bikin-bikin, baca buku, nonton film yang seru, jalan-jalan, internetan dan masak-masak. Salah satu mimpi besarnya adalah menjadikan virtual distance learning bisa dinikmati anak-anak Indonesia sampai ke seluruh plosok tanah air melalui SecondLife ^_^

Share the article...

Jangan lupa berlangganan RSS kami untuk mendapatkan informasi terbaru dari RumahInspirasi

One Response to “Pengalaman yang melumpuhkan”

  1. Andini Rizky says:

    Jadi ingat ada pengusaha cilik yang cerita di blognya. Waktu itu dia masih TK, dia ditanya sama gurunya ingin jadi apa, dia bilang,”Aku mau jadi semuanya.” Guru TK-nya bilang,”Kamu harus pilih satu cita-cita saja, nggak mungkin pilih semuanya.” Akhirnya anak itu dihukum dan orang tuanya dipanggil ke sekolah. Untung deh, ortunya ngebelain dia. Sedangkan kalau orang tua biasa, cenderung akan bilang, ikuti saja apa kata gurumu.

    Dia tulis di blognya:
    Note to teachers, parents, and other adults: Don’t tell a kid they are limited in what they can do or what they can be.
    Note to self: Keep believing that I can do anything as long as I keep trying and remember to ignore the negative comments of others. Dari http://tinyurl.com/yfbvowp

Leave a Reply

icon_wink.gif icon_neutral.gif icon_mad.gif icon_twisted.gif icon_smile.gif icon_eek.gif icon_sad.gif icon_rolleyes.gif icon_razz.gif icon_redface.gif icon_surprised.gif icon_mrgreen.gif icon_lol.gif icon_idea.gif icon_biggrin.gif icon_evil.gif icon_cry.gif icon_cool.gif icon_arrow.gif icon_confused.gif icon_question.gif icon_exclaim.gif 

CommentLuv badge
  • About
  • Arsip
  • Kumpulan Artikel Parenting
  • Lagu
  • Lala Digi Scrap
  • Link