Pendidikan semakin horizontal

Sadarkah kita bahwa kita sebenarnya memiliki banyak cara pandang terhadap pendidikan? Sadarkah kita bahwa kita dapat melihat pendidikan dengan cara yang berbeda dari sistem sekolah (yang kita terima taken for granted)?

Mari kita ambil contohnya.

Di dalam model pendidikan yang kita jalani saat ini (baca: sekolah), sistem pendidikan adalah berjenjang dan hirarkis. Ada SD, SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi. Materi-materi yang dipelajari dibuat dalam satu paket per-jenjang. Seluruh materi dalam satu jenjang harus dikuasai (lulus) sebelum seseorang melanjutkan ke jenjang berikutnya. Kalau ada satu materi yang gagal, siswa tak dapat naik ke jenjang berikutnya dan harus mengulang seluruh materi, termasuk materi-materi yang sudah dikuasainya.

Siswa tidak lulus mata pelajaran fisika harus mengulang seluruh paket pelajaran di tingkatnya. Walaupun dia jago sastra dan pelajaran lainnya, dia tetap harus mengulang pelajaran yang sama dan tak bisa melanjutkan belajar materi sastra di jenjang yang lebih tinggi.

Sistem sekolah adalah sistem yang hirarkis, materi-materi yang dipelajari diatur dengan ketat urutan dan kapan waktu mempelajarinya. Materi genetika tidak perlu (baca: tidak boleh) dipelajari anak SD karena materi itu baru ada di tingkat SMP. Ketrampilan komputer harus mengikuti urutan-urutan yang telah ditentukan.

**

Pertanyaannya adalah: apakah model pendidikan yang seperti itu adalah satu-satu bentuk yang valid? Apakah model pendidikan  hirarkis itu satu-satunya realita yang ada dalam pendidikan (sehingga harus diikuti oleh semua anak)?

Jawabannya tidak.

Jika kita melepaskan “institusi” dan hanya berbicara tentang pendidikan, maka sesungguhnya kita bisa melihat model-model pendidikan lain selain yang berjenjang dan hirarkis itu. Kalau kita mengamati bagaimana anak-anak kita belajar, maka sesungguhnya model hirarkis itu justru bukan hal yang natural.
**

Dalam dunia yang semakin horizontal sebagaimana yang disebutkan Friedman (“The World is Flat”), kita melihat bahwa bukan hanya sekat fisik yang memudar akibat globalisasi dan teknologi informasi. Tetapi, hirarki dalam proses pendidikan pun semakin kehilangan kekukuhan pijakannya.

Berkat perkembangan teknologi, kita dan terutama anak-anak kita mengalami perubahan di dalam cara belajar (mendapatkan informasi, pengetahuan, dan ketrampilan baru). Ada mesin pencari (search engine) yang membuat kita bisa mencari dan mempelajari apapun yang kita butuhkan/inginkan. Ada materi multimedia (podcast dan video) berisi berbagai tutorial dan kuliah yang tinggal dilihat kapan pun diinginkan. Ada DVD pelajaran, Wikipedia dan ensiklopedia digital, serta forum-forum yang membuat kita bisa mempelajari ‘virtually’ apapun.

Semua itu bisa diakses kapan pun. Tak ada jenjang tertentu yang dipersyaratkan untuk mempelajarinya. Seandainya pun ada prasyarat, itu hanya yang benar-benar relevan untuk membuat proses belajar lebih mudah.

Tak ada jenjang dan batasan umur untuk mempelajari sesuatu. Mau belajar mengetik sepuluh jari? Mau belajar bisnis dan manajemen? Mau belajar tentang asteroids  dan Mars? Mau belajar tentang rekayasa genetika? Mau belajar pemrograman? Mau belajar membuat desain? Semuanya bisa dilakukan. Dan kuncinya adalah kesiapan sang pembelajar itu sendiri.

**

Jadi, mengapa harus bersikukuh dengan model pendidikan yang berwujud paket yang hirarkis dan berjenjang; apalagi menganggapnya  sebagai satu-satunya model belajar yang valid dan harus diikuti semua orang?

Mengapa kita tak membuat model belajar yang modular? Anak yang suka matematika terus menaiki jenjang pelajaran matematika yang  disukainya tanpa harus terhambat pelajaran sastra yang menjadi kelemahannya? Apa yang salah jika ada anak yang matematikanya kelas 8, IPA-nya kelas 7, Bahasa Indonesianya kelas 5?

Atau, mengapa tak kita biarkan saja anak-anak kita mempelajari tema-tema yang menjadi minatnya? Jika para ahli ingin membantu, mereka dapat membuat jenjang-jenjang taksonomi pengetahuan berisi cakupan dan urutan (scope and sequence) untuk berbagai pelajaran/tema. Lalu, biarkan anak memilih tema-tema yang diminatinya dan kemudian mempelajarinya, dan kemudian mengikuti ujiannya untuk mengetahui tingkat kecakapannya dalam tema yang dipilihnya itu?

**

So, ternyata pendidikan berjenjang dan hirarkis itu bukan satu-satunya realita pendidikan. Ternyata kita memiliki banyak pilihan cara memandang pendidikan.

Lalu, model pendidikan seperti apa yang menurut Anda paling  natural untuk anak-anak kita? Model pendidkan seperti apa yang Anda inginkan?

Tulisan menarik lainnya

About Aar

Aar senang membaca, suka menulis, berbahagia saat berbagi dan bermain bersama anak-anak. Minat utama tentang pendidikan, anak, teknologi, spiritualitas, bisnis, dan apa saja yang membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik. Buku yang telah diterbitkan "Homeschooling Lompatan Cara Belajar" (Elex Media, 2007), "Warna-warni Homeschooling" (Elex Media, 2008).

Komentar

  1. setuju banget dengan konsep seperti ini. Negara kita memang kurang ramah dengan anak-anak, buktinya, pemerintah dengan arogannya memaksakan setiap anak menguasai semua ilmu pengetahuan, yang katanya menjadi pra sayarat wajib kelulusan. Tapi apakah pemerintah peduli kalau si anak hanya menggemari kimia misalnya, atau biologi atau bahkan sastra, bukan dosa kan kalau si anak mnyukai matematika sekaligus satra? ngga perlu dipisah-pisahkan menjadi IPA dan IPS..well, mungkin homeschool memang tepat dijalankan dinegeri ini. 😥

Tinggalkan komentar Anda

*

Close