Pendidikan & Pendanaan, sebuah Pencarian

Salah satu passion besar dalam hidupku adalah tentang pendidikan. Entah mengapa, aku menyukai dunia ini sejak kecil. Mungkin terpengaruh dengan profesi guru yang disandang ibuku, aku suka mengajar sejak kecil.

Saat SMP, aku mengajar melalui Pramuka. Saat SMA, selain aktif di Pramuka dan OSIS, aku juga mengajar komputer usai pulang sekolah. Saat kuliah, aku part time kerja mengajar anak SMA dan juga menjadi mentor di kampus.

Kecintaan pada dunia pendidikan itu pula mungkin yang menjadi salah satu faktor yang membuatku memilih homeschooling untuk anak-anakku dan menjalaninya dengan perasaan nyaman hingga kini. Belajar dan mengajar adalah sebuah kesenangan. Rasanya asyik dan membahagiakan.

Itu pula yang menyebabkan aku dan Lala membuat milis sekolahrumah untuk berbagi, menulis di blog, membuat tutorial, serta mengisi berbagai seminar dan pelatihan.

***

Dari Keluarga Menuju Masyarakat

Walaupun sudah merasa nyaman dengan homeschooling yang kami jalani, masih ada satu kegelisahan pada diriku, yaitu keinginan untuk menjangkau model pendidikan untuk masyarakat yang lebih luas.

Aku tahu, saat ini kiprah luas untuk pendidikan masyarakat masih belum bisa kujalani karena aku sedang berfokus untuk menjalani homeschooling untuk anak-anak. Juga, kami merasa kapasitas ekonomi kami masih kecil. Untuk saat ini, setidaknya aku bisa berkontribusi melalui homeschooling bagi keluarga-keluarga yang membutuhkan melalui media online.

Aku merasa, homeschooling bisa memberikan kontribusi besar untuk membuat keluarga lebih terlibat dalam pendidikan anak-anak. Mungkin tidak akan banyak yang melakukan homeschooling, tapi keluarga yang terekspos dengan gagasan homeschooling dengan mendalam biasanya cenderung menjadi lebih terlibat dalam proses pendidikan anak-anaknya.

Tetapi untuk skala masif, homeschooling menurutku susah untuk diterapkan. Ada semacam “pra-kualifikasi” untuk melakukan homeschooling yaitu komitmen orangtua dan kesiapan orangtua untuk melakukannya. Homeschooling sulit dilaksanakan pada keluarga yang waktunya habis untuk mencari penghidupan; homeschooling juga berat dilaksanakan untuk orangtua yang belum mengenyam pendidikan dengan baik. Padahal, kelompok ini adalah bagaian besar dari masyarakat Indonesia.

Menurutku, kita membutuhkan inovasi bentuk lain pendidikan alternatif yang efektif untuk mengeluarkan potensi anak, membuat mereka terintegrasi dengan masyarakat dan sekaligus memiliki kemampuan beradaptasi dengan zaman.

Aku belum tahu bentuknya seperti apa. Mungkin bentuknya seperti sekolah komunitas, yang berada diantara model sekolah yang rigid (kaku) dan homeschooling (sangat customized).

Ini adalah bagian pertama dari proses pencarian yang masih berjalan sampai saat ini, yang kujalani dengan membaca, menyimak bentuk-bentuk inovasi lembaga pendidikan yang ada di masyarakat.

***

Pendanaan Kegiatan Pendidikan

Selain model pendidikan untuk masyarakat, hal lain yang menjadi kegelisahanku adalah mengenai pendanaan pendidikan. Bagaimana membuat pendanaan kegiatan pendidikan yang sustainable? Bagaimana membuat kegiatan pendidikan yang harganya terjangkau dan pada saat bersamaan memiliki kelayakan ekonomis bagi guru/pengelola dan pengembangannya?

Setahuku, ada 3 sumber pendanaan kegiatan pendidikan, yaitu pemerintah, customer (keluarga), donasi/sponsor?

Idealnya pendanaan pendidikan itu dari pemerintah, dana pajak. Tapi dengan model pemerintah yang ada saat ini, aku tak tertarik dengan model pendanaan pemerintah, yg penuh birokrasi dan potongan/korupsi.

Pendanaan dari siswa/keluarga? Ini salah satu model yang paling banyak dilakukan oleh lembaga pendidikan swasta. Problemnya, kalau seluruh biaya penyelenggaraan pendidikan (infrastruktur, guru, pengembangan) ditanggung oleh siswa, itu akan membuat biaya pendidikan menjadi sangat mahal. Belum lagi kalau pembiayaan ini dianggap sebagai investasi bisnis yang menuntutkan sejumlah tingkat keuntungan tertentu.

Bagaimana modelnya supaya tidak terlalu mahal, tetapi tetap membuat lembaga itu tumbuh berkesinambungan?

Kalau mau dibuat lebih murah, biasanya yang menanggung adalah para guru dan pengelola yang dibayar lebih murah. Menurutku ini tidak fair karena berarti lembaga itu disubsidi oleh guru. Gaji kecil juga akan membuat organisasi sulit untuk merekrut tim yang berkualitas tinggi. Sementara kalau infrastruktur disederhanakan dan tidak ada investasi untuk pengembangan, maka yang akan terjadi adalah spiral negatif, kualitas pendidikan yang semakin menurun.

Alternatif ketiga adalah keberadaan donasi/sponsor, baik dari lembaga atau individu. Isunya, siapa yang mau menjadi sponsor yang sustainable untuk kegiatan pendidikan di Indonesia ini?

Bisakah kita menciptakan kondisi win-win, tanpa harus mengorbankan satu pihak tertentu, di dalam pendanaan pendidikan ini?

***

Pendanaan, sebuah Pengalaman Pribadi

Ketika memulai berbagai insiatif pendidikan seperti membuat blog dan website, pelatihan, klub kegiatan, dll kami memulai semuanya dari kantong kami sendiri. Kami mencurahkan waktu, keahlian, dan dana untuk membeli/membayar berbagai hal yang dibutuhkan. Beberapa model pendanaan seperti membership site (sekolahrumah.com), pembuatan buku, seminar/pelatihan berbayar, dll sudah kami lakukan.

Tapi kami merasa gagal. Dana yang diperoleh tidak cukup besar. Sekedar berjalan bisa. Tapi tidak mencukupi untuk berkembang dan mengganti waktu/keahlian yang telah dicurahkan.

Dalam proses itu, memang ada sebagian dana yang kami terima untuk keperluan pribadi (misalnya pembicara seminar). Menurut kami jumlahnya masih dalam batas yang wajar. Ternyata yang seperti itu pun ada yang menganggapnya tak wajar, menuduh kami mengambil keuntungan dari homeschooling dan melakukan komersialisasi. Mungkin harapannya, semua yang kami lakukan seharusnya gratis dan kami tak boleh mendapatkan uang sepeserpun.

Lupakan dengan segala prasangka dan tuduhan, aku masih jalan terus mencari model pendanaan kegiatan-kegiatan pendidikan yang kami inisiatifkan. Selain hingga kini terus mengeksplorasi gagasan & praktek socialpreneurship baik dari sisi konsep maupun praktek, aku juga mencoba ke lapangan dengan melakukan perjalanan ke Salatiga.

Di Salatiga, aku menemui 2 model pendanaan pendidikan yang sangat berbeda, yaitu model mbak Septi (Jarimatika, Ibu Profesional, Lebah Putih, Komunitas Cantrik) dan mas Bahrudin (Qaryah Thayibah). Mbak Septi menggunakan model socialpreneurship, menggabungkan bisnis dan inisiatif sosial. Mbak Septi memperoleh keuntungan finansial dari “bisnis” Jarimatika dan kemudian menggunakannya sebagian untuk pengembangan inisiatif sosial lainnya. Sementara mas Bahrudin murni menggunakan model sosial yang berdasarkan kontribusi kesukarelaan.

Menurut mas Dodik (suami mbak Septi), biaya kegiatan yang selalu gratis itu tidak mendidik. Harus ada mekanisme untuk membuat kegiatan menjadi mandiri dan seluruh yang terlibat mendapatkan keuntungan (benefit). Prinsipnya: kegiatan tidak gratis, biaya harus ditanggung oleh orang yang mendapatkan manfaat, biaya tidak terlalu mahal (ini relatif), tetapi cukup “terasa” sehingga peserta mau bekerja keras dan menghargai hal-hal diterimanya. Istilah dalam bahasa Jawanya “gayuk-gayuk tuno”.

Sementara itu, mas Bahrudin lebih memilih jalur bebas. Beliau menjadi “bapak ideologis” untuk sekolahnya. Adapun proses dan pendanaan kegiatannya bersifat sukarela dan dibiarkan mengalir saja (self-organized). Tak ada rencana pengembangan secara kelembagaan, semuanya murni inisiatif bottom-up dan kontribusi insidental.

***

Melangkah Sembari Belajar

Kami masih terus belajar, sembari berjalan. Sampai saat ini, kecenderungan pribadi kami dalam pendanaan pendidikan adalah melakukan subsidi silang. Mencari uang di satu bagian dan mengembangkan bagian lain yang lebih bersifat sosial.

Untuk inisiatif ini, kami membayangkan dua koridor untuk diri kami:

Yang pertama, inisiatif apapun adalah untuk mendorong kemandirian, bukan menciptakan ketergantungan pada apapun dan siapapun.

Yang kedua, penilaiannya adalah price/benefit. Jadi fokus perhatiannya bukan tentang gratis vs. berbayar,  tetapi kegiatan yang memberikan nilai besar dibandingkan uang yang dikeluarkan peserta.

Koridor kedua itu bukan berarti membuat kami akan berorientasi pada komersial. Kegiatan dan materi gratis tentu saja akan tetap banyak dan berlimpah. Standar kualitas pelayanan kami tak akan turun. Ini lebih pada cara untuk menjadikan kami sendiri semakin mandiri dan memperbesar kapasitas untuk lebih banyak berbagi.

***

Pilihan ini adalah bagian dari proses belajar kami dari kehidupan. Apakah ini akan berjalan atau tidak, kami hanya bisa mengusahakannya semaksimal mungkin. It’s a muddling through, terus berjalan walaupun dalam ketidaksempurnaan. Apakah ini akan mengakibatkan kami menjadi lebih banyak memberi dan memberikan manfaat dibandingkan saat ini, itu harapan kami. Apakah inisiatif ini membuat kami menjadi kurang berbagi (negatif) dan justru lebih banyak keburukannya untuk masyarakat, kami siap untuk melakukan reorientasi.

Untuk saat ini, kami memilih menjalaninya dengan sungguh-sungguh sekaligus dengan pikiran terbuka untuk proses refleksi dan evaluasi. Semoga Tuhan memberikati inisiatif ini. Semoga Tuhan meneguhkan sekaligus melenturkan kami saat menjalani semua proses yang akan terjadi. Amin.

About Aar

Aar senang membaca, suka menulis, berbahagia saat berbagi dan bermain bersama anak-anak. Minat utama tentang pendidikan, anak, teknologi, spiritualitas, bisnis, dan apa saja yang membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik. Buku yang telah diterbitkan "Homeschooling Lompatan Cara Belajar" (Elex Media, 2007), "Warna-warni Homeschooling" (Elex Media, 2008).

Komentar

  1. SriMurdiningsih says:

    Aamiin ……. mengalir terus di dalam proses ……. pada Jadwal Nya semua ini akan menjadi kenyataan demi pendidikan anak bangsa di Negeri ini ……

Tinggalkan komentar Anda

*