Pendapatan pertama Tata
Kemarin adalah hari besar untuk Tata. Untuk pertama kalinya dia mendapatkan uang “hasil keringat” sendiri.
Ceritanya, hari Selasa lalu ada telpon masuk dari Studio 25 mengabarkan bahwa ada tawaran rekaman iklan untuk Yudhis dan Tata. Studio 25 adalah studio rekaman iklan yang pernah kami kunjungi sewaktu fieldtrip bersama teman-teman homeschooling. Yudhis pun sempat mendapat kesempatan untuk mengisi suara iklan radio beberapa bulan setelahnya. Kali ini kesempatan yang datang ternyata tak hanya untuk Yudhis, tapi juga untuk Tata. Tata gembira sekali mendengar berita ini.
Jadwal rekaman itu hari Jumat, pukul 14.00. Awalnya hanya Yudhis & Tata ditemani bapak Aar yang akan pergi. Tapi kami kemudian memperhitungkan Duta yang akan rewel karena ditinggal kedua kakaknya, jadilah akhirnya kami semua berangkat ke Studio 25.
Rekaman di Studio 25
Suasana di Studio 25 lumayan ramai. Rupanya ada beberapa kegiatan sehingga 2 studio rekaman berada dalam kondisi aktif. Setelah menunggu lumayan lama, akhirnya tiba juga giliran Yudhis & Tata untuk rekaman. Dengan semangat mereka masuk studio rekaman dan mulai merekam suara mereka.
Senang melihat prosesnya. Anak-anak terlihat santai dan tanpa tekanan. Walau harus take beberapa kali, tapi mereka tetap ketawa-ketawa. Mungkin juga karena pengarah suaranya sangat ramah dan sabar.
Pulang dari Studio 25 kami tidak langsung pulang. Kami sengaja mampir ke Kalibata Mall untuk membeli mouse untuk Tata. Kebetulan Tata baru saja mendapatkan lungsuran laptop dari Eyang Putri, tapi tanpa mouse.
Kesempatan ini pun kami jadikan sebagai sarana belajar untuk anak-anak. Di jalan, kami menjelaskan kepada Yudhis & Tata bahwa mereka mendapatkan sejumlah uang dari hasil rekaman tadi. Jika sebelumnya Yudhis mendapatkan uangnya “utuh”, maka kali ini kami akan “potong” uang tersebut dengan biaya transport. Kami pun menyatakan bahwa kami akan jalan-jalan, tapi setiap pengeluaran yang mereka pakai, mereka harus menggunakan uang mereka sendiri. Mereka boleh membeli apa saja, tapi dengan uang mereka sendiri. Sisanya baru ditabung.
Beli mouse dengan uang sendiri
Terus terang ini pertama kali kami mencoba mengetes anak-anak, bagaimana sikap mereka terhadap uang. Kami membayangkan pada mereka, bahwa dalam “dunia nyata”, ketika kita bekerja, kita tak akan pernah bisa menabung seluruh hasil pendapatan kita. Ada biaya-biaya yang harus dibayar yang akan mengurangi hasil kerja keras kita dan setelah dipotong ini dan itu, baru sisanya bisa ditabung.
Alhasil, perjalanan di mall berlangsung dengan lucu (menurutku). Yudhis yang biasanya kalau ditanya, “Kakak mau makan apa?” langsung akan menjawab “Pizza”, lalu begitu pesan langsung minta porsi besar, minum ini, itu dll. Sekarang plek tidak mau apa-apa.
“Kakak mau beli apa?” tanyaku
“Nggak ada bu, aku mau baca komik aja waktu ibu & Tata beli mouse” jawab Yudhis.
Sampai di Kalibata Mall, ternyata sebagian besar mall sedang dalam kondisi direnovasi sehingga toko bukunya pun tak ada.
“Kakak mau duren?” tanyaku
“Nggak bu” jawabnya. Padahal… sepanjang jalan kalibata yang penuh beraroma duren, yang dibahas Yudhis dureeeeeen terus.
Cukup membeli es krim
“Kakak mau es krim?” tanyaku lagi di dalam mall.
“Kalau eskrim boleh, deh..,” jawabnya, sambil lari ke gerai Mc Donald. Aha… mungkin karena murah, jadi dia mau.
Tapi ternyata es krim di Mc D sudah habis. Duta lalu berlari ke toko roti Bread Talk yang ada di sebelahnya. Tata ternyata mau ikut membeli roti. Akhirnya Yudhis pun memutuskan untuk beli. Saat memilih roti, lamaaaa sekali dia pilih rotinya. Padahal biasanya dia langsung blep blep blep pilih beberapa roti. Hehe.. lain memang kalau beli pakai uang sendiri, lebih lama mikirnya.
Dari tempat roti, kami pergi ke KFC untuk membeli es krim, untung ada. Sambil menemani mereka makan es krim, aku menawarkan anak-anak untuk makan di KFC. Ternyata baik Yudhis ataupun Tata tidak ada yang mau makan di KFC.
Kata Yudhis, “Kita makan di rumah aja bu, masakan ibu lebih enak”…. cieeeeee.. Lain lho yang sedang berhemat.. hehehehehe. Aku dan mas Aar senyum-senyum mendengar jawaban Yudhis yang bertahan dari harumnya ayam goreng.
Selesai makan es krim, Tata & Duta masih sempat main di taman bermain. Waktu kutanya Yudhis, “Kenapa kakak gak ikut?”
“Itu untuk anak usia 4-7 tahun, bu. Itu ada tulisannya.”
“Kakak mau main iPad?” tanyaku lagi.
“Nggak bu, nanti jatah mainku hari ini berkurang,”…. olala.. hebat sekali caranya bertahan.. xixixi… “Kalau begitu ini bonus deh, soalnya kamu kan nggak bisa ikut main di taman bermain.”
Langsung Yudhis menyambut iPad dengan gembira.
Setelah anak-anak puas bermain, kami pun pulang. Sesampai di rumah, aku membuatkan ayam goreng (ala KFC) untuk mereka. Waktu kutanya, “Gimana kak, lebih enak, nggak?”
Jawab Yudhis “Iya lah bu, ini kan gratis”…. hehehehe… dasar bocah
***
Duta yang tidak mau ditinggal di rumah
Mungkin peristiwa ini kesannya sederhana, tapi buat kami ini bagian dari tangga “belajar uang”. Jika awalnya anak belajar “menabung” uang yang didapatnya, maka pelajaran berikutnya adalah membuat anak belajar “menggunakannya” dengan benar. Mereka belajar membeli kebutuhan yang penting, membayar diri mereka sendiri, sebelum akhirnya menabungkan sisa uang mereka di Bank.
Buat Tata, ini pengalaman pertamanya mencari uang sendiri dan mendapatkan uang dalam jumlah banyak. Biasanya, dia hanya mendapat uang paling besar Rp 20.000,-. Jadi sewaktu aku serahkan amplop “gaji”nya, dengan lucu Tata mengeluarkan uang tersebut dan menghitungnya “satu, dua, tiga, empat.. yaaay aku dapat Rp. 40.000,” teriaknya bahagia.
Bapak Aar kemudian berkata, “Coba baca yang benar tulisan di uangnya Ta”.. “seratus ribu rupiah… wah aku dapat empat ratus ribu rupiah… waaaaah… waaaaah…. waaaaaaaaaah…” dia langsung melonjak-lonjak dengan lucunya. Kalau sudah begitu, aku baru sadar kalau Tata itu memang masih anak kecil. Hehe..





Pingback: Tahun Pelajaran Baru « Izinkan kami Home Ed…